Kezaliman digambarkan Rasulullah sebagai kegelapan yang akan menyelimuti pelakunya pada hari kiamat. Berikut hadits-hadits tentang larangan berbuat zalim beserta penjelasannya.
1. Kezaliman adalah Kegelapan di Hari Kiamat
إِنَّ الظُّلْمَ ظُلُمَاتٌ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
Latin: “Innazh zhulma zhulumaatun yawmal qiyaamah.”
Artinya: “Sesungguhnya kezaliman itu adalah kegelapan-kegelapan pada hari kiamat.” (HR. Bukhari no. 2447 dan Muslim no. 2579, dari Ibnu Umar RA)
Perumpamaan “kegelapan” ini menggambarkan betapa seorang yang zalim akan kebingungan dan tersesat pada hari kiamat, tidak mendapat cahaya/petunjuk untuk menyelamatkan diri, sebagai balasan atas kegelapan hati yang ia pelihara saat berbuat zalim di dunia.
2. Doa Orang Terzalimi Tidak Terhalang
Dari Ibnu Abbas RA, ketika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengutus Mu’adz bin Jabal RA ke Yaman, beliau berpesan: “Takutlah terhadap doa orang yang terzalimi, karena sesungguhnya tidak ada penghalang antara doa itu dengan Allah.” (HR. Bukhari no. 1496 dan Muslim no. 19)
Hadits ini menjadi peringatan keras, terutama bagi siapa pun yang memiliki kekuasaan/wewenang atas orang lain (pemimpin, atasan, orang tua), agar tidak menzalimi mereka yang berada dalam kendalinya.
3. Larangan Allah Menzalimi Diri Sendiri
Dalam hadits qudsi, Allah SWT berfirman: “Wahai hamba-Ku, sesungguhnya Aku mengharamkan kezaliman atas diri-Ku, dan Aku jadikan kezaliman itu haram di antara kalian, maka janganlah kalian saling menzalimi.” (HR. Muslim no. 2577, dari Abu Dzar RA)
Hadits qudsi ini menunjukkan bahwa larangan zalim bukan hanya aturan sosial biasa, melainkan prinsip yang Allah tetapkan atas diri-Nya sendiri (Allah tidak pernah berbuat zalim) dan Dia wajibkan pula di antara hamba-hamba-Nya.
Tanya Jawab Seputar Hadits Zalim
Apakah zalim hanya berarti menyakiti orang lain secara fisik?
Tidak. Zalim mencakup segala bentuk ketidakadilan: menzalimi diri sendiri (melalui dosa/maksiat), menzalimi orang lain (merampas hak, menipu, memfitnah, bersikap tidak adil), hingga menzalimi hak Allah (syirik, sebagaimana disebut Al-Qur’an sebagai “kezaliman yang besar” dalam QS. Luqman: 13).
Bagaimana jika sudah terlanjur menzalimi seseorang?
Segera meminta maaf dan mengembalikan hak orang yang dizalimi selagi di dunia, karena di akhirat kelak pembalasan dosa zalim akan diselesaikan dengan pengalihan pahala (atau pelimpahan dosa) antara pelaku dan korban, sebagaimana dijelaskan dalam hadits tentang orang yang bangkrut di hari kiamat (HR. Muslim no. 2581).
===
Referensi:
– HR. Bukhari no. 2447 & Muslim no. 2579 (dari Ibnu Umar RA)
– HR. Bukhari no. 1496 & Muslim no. 19 (dari Ibnu Abbas RA)
– HR. Muslim no. 2577 (Hadits Qudsi, dari Abu Dzar RA)
– QS. Luqman: 13









