Bulan Rajab sering dikaitkan dengan berbagai amalan khusus dalam masyarakat, mulai dari puasa khusus hingga shalat malam tertentu. Namun benarkah semua itu berdasarkan hadits shahih? Berikut penjelasan jujur dari para ulama hadits.
Klarifikasi: Tidak Ada Hadits Shahih tentang Keutamaan Khusus Rajab
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani — salah satu ulama hadits paling otoritatif, penulis kitab Fathul Bari (syarah Shahih Bukhari) — menulis kitab khusus berjudul Tabyinul ‘Ajab bimaa Warada fii Fadhli Rajab yang secara tegas menyimpulkan: tidak ada satu pun hadits shahih yang layak dijadikan dalil tentang keutamaan khusus bulan Rajab — baik tentang puasa Rajab secara umum, puasa pada tanggal tertentu di bulan Rajab, maupun shalat malam khusus di malam tertentu bulan Rajab. Seluruh riwayat yang beredar tentang hal ini berstatus dhaif (lemah) atau bahkan maudhu’ (palsu).
Keutamaan yang Sah: Sebagai Salah Satu Bulan Haram
Keutamaan Rajab yang benar-benar memiliki dasar shahih adalah statusnya sebagai salah satu dari empat bulan haram (dimuliakan) yang disebutkan Rasulullah dalam khutbah Haji Wada’: “…tiga bulan berturut-turut: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram, serta (satu bulan terpisah) Rajab.” (HR. Bukhari no. 4662 dan Muslim no. 1679)
Sebagai bulan haram, secara umum berlaku prinsip bahwa amal shalih lebih dianjurkan dan dosa lebih dihindari pada bulan ini — namun tanpa ada amalan ibadah khusus yang disyariatkan secara spesifik untuk bulan Rajab.
Tanya Jawab Seputar Keutamaan Bulan Rajab
Apakah boleh berpuasa sunnah di bulan Rajab?
Boleh, namun sebaiknya diniatkan sebagai puasa sunnah umum (seperti puasa Senin Kamis atau Ayyamul Bidh yang kebetulan jatuh di bulan Rajab), bukan sebagai “puasa khusus Rajab” yang diyakini memiliki pahala/keutamaan tersendiri, mengingat tidak ada dalil shahih yang mengkhususkannya.
Bagaimana dengan Isra Mi’raj yang diperingati di bulan Rajab?
Peristiwa Isra Mi’raj memang diyakini mayoritas ulama terjadi pada bulan Rajab (meski tanggal pastinya diperselisihkan), namun tidak ada hadits shahih yang menganjurkan perayaan atau ibadah khusus untuk memperingatinya. Mengambil pelajaran dari kisah Isra Mi’raj (terutama perintah shalat 5 waktu) tentu baik, namun sebaiknya tidak disertai keyakinan bahwa ada ibadah ritual khusus yang disyariatkan pada tanggal tersebut.
===
Referensi:
– Ibnu Hajar Al-Asqalani, Tabyinul ‘Ajab bimaa Warada fii Fadhli Rajab
– HR. Bukhari no. 4662 & Muslim no. 1679 (dari Abu Bakrah RA)









