Isra Mi’raj adalah peristiwa agung perjalanan malam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dari Makkah ke Baitul Maqdis lalu naik ke langit. Namun soal tanggal perayaannya yang populer (27 Rajab), perlu kejujuran tersendiri. Berikut penjelasan lengkapnya.
Dalil Al-Qur’an tentang Peristiwa Ini
سُبْحَانَ الَّذِي أَسْرَىٰ بِعَبْدِهِ لَيْلًا مِنَ الْمَسْجِدِ الْحَرَامِ إِلَى الْمَسْجِدِ الْأَقْصَى
Artinya: “Maha Suci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha…” (QS. Al-Isra: 1)
Keberadaan peristiwa Isra Mi’raj ini sendiri bersifat pasti (qath’i), didukung ayat Al-Qur’an yang jelas dan hadits-hadits mutawatir (diriwayatkan oleh sangat banyak jalur sehingga mustahil dusta) yang menceritakan detail perjalanan tersebut, termasuk perintah shalat 5 waktu yang diterima Rasulullah secara langsung di Sidratul Muntaha.
Klarifikasi: Tanggal “27 Rajab” Tidak Memiliki Dasar Shahih
Perlu kejujuran di sini: tidak ada dalil shahih — baik dari Al-Qur’an maupun hadits — yang menetapkan secara pasti bahwa Isra Mi’raj terjadi pada tanggal 27 Rajab. Para ulama ahli sejarah dan hadits (jarh wa ta’dil) justru menyebutkan bahwa klaim spesifik tanggal 27 Rajab merupakan riwayat yang tidak shahih. Para ulama berselisih pendapat mengenai bulan terjadinya — ada yang menyebut Rajab, ada pula yang berpendapat Ramadhan atau bulan lainnya — tanpa ada kesepakatan pasti.
Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam kitabnya Tabyinul ‘Ajab menegaskan bahwa tidak ada satu pun hadits shahih yang menjelaskan keutamaan ibadah khusus (seperti puasa) pada tanggal yang diklaim sebagai hari Isra Mi’raj tersebut.
Buah Terbesar Isra Mi’raj: Perintah Shalat
Keutamaan sejati yang perlu diambil dari peristiwa ini bukanlah perayaan tanggal tertentu, melainkan buah dari peristiwa itu sendiri: diwajibkannya shalat 5 waktu bagi umat Islam, yang diterima Rasulullah langsung dari Allah tanpa perantara malaikat, berbeda dengan kewajiban-kewajiban syariat lainnya yang umumnya diturunkan melalui wahyu biasa.
Tanya Jawab Seputar Keutamaan Isra Mi’raj
Apakah boleh memperingati Isra Mi’raj pada 27 Rajab?
Sama seperti pembahasan Maulid Nabi, ini termasuk perkara khilafiyah. Sebagian ulama membolehkan mengadakan majelis pengingat kisah Isra Mi’raj (sebagai sarana dakwah dan mengambil pelajaran, bukan ibadah ritual khusus) pada tanggal yang telah disepakati masyarakat secara konvensi, sementara sebagian ulama lain menyarankan untuk tidak mengkhususkan tanggal tertentu mengingat tidak adanya dalil shahih yang menetapkannya.
Apakah ada amalan ibadah khusus (puasa, shalat malam) yang dianjurkan pada hari peringatan Isra Mi’raj?
Tidak ada dalil shahih yang menganjurkan ibadah khusus pada tanggal tersebut. Yang lebih utama adalah menjaga konsistensi shalat 5 waktu sepanjang tahun sebagai wujud syukur atas diwajibkannya ibadah tersebut melalui peristiwa Isra Mi’raj, bukan sekadar mengingatnya setahun sekali.
===
Referensi:
– QS. Al-Isra: 1
– Ibnu Hajar Al-Asqalani, Tabyinul ‘Ajab bimaa Warada fii Fadhli Rajab









