Sholawat Munjiyat dikenal luas di tengah masyarakat sebagai sholawat “penyelamat” yang dibaca untuk memohon perlindungan dari kesulitan. Namun perlu kejujuran soal asal-usulnya. Berikut penjelasan lengkapnya.
Klarifikasi: Kisah Asal-Usulnya Bukan Hadits Nabi
Perlu kejujuran di sini: kisah populer yang menceritakan asal-usul penamaan “Sholawat Munjiyat” (seperti kisah sebuah kapal yang diselamatkan dari badai setelah membaca sholawat ini) merupakan kisah yang dinukil dalam sebagian kitab ulama sebagai riwayat sejarah, bukan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Redaksi sholawat ini sendiri disusun oleh ulama, bukan diajarkan langsung oleh Nabi dengan nama “Munjiyat”. Oleh karena itu, kisah-kisah keajaiban yang beredar seputar sholawat ini sebaiknya tidak dijadikan dasar keyakinan agama, meskipun tidak mengapa diamalkan sebagai bentuk shalawat kepada Nabi secara umum.
Keutamaan Bershalawat Secara Umum (Dalil Shahih)
Yang memiliki dasar kuat dan shahih adalah keutamaan bershalawat kepada Nabi secara umum. Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa bershalawat kepadaku satu kali, maka Allah akan bershalawat kepadanya sepuluh kali.” (HR. Muslim no. 408)
Dalil Al-Qur’an tentang Perintah Bershalawat
إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا
Artinya: “Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Wahai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kalian untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)
Tanya Jawab Seputar Sholawat Munjiyat
Apakah boleh membaca Sholawat Munjiyat meskipun asal-usulnya bukan hadits?
Boleh, karena redaksinya pada dasarnya adalah bentuk shalawat (pujian dan doa keselamatan) kepada Nabi yang disusun oleh ulama, sebagaimana banyak susunan sholawat lain yang disusun di luar masa Nabi. Yang perlu dihindari hanyalah meyakini kisah-kisah keajaiban penamaannya sebagai sesuatu yang pasti benar atau mengkhususkan keutamaan tertentu (seperti bilangan baca tertentu) tanpa dasar dalil yang shahih.
Sholawat apa yang paling dianjurkan berdasarkan hadits shahih?
Sholawat yang paling dianjurkan dan memiliki dasar paling kuat adalah Shalawat Ibrahimiyah, yaitu bacaan shalawat yang diajarkan langsung oleh Rasulullah kepada para sahabat ketika mereka bertanya cara bershalawat kepadanya, sebagaimana yang dibaca dalam tasyahud akhir shalat. (HR. Bukhari no. 3370)
===
Referensi:
– HR. Muslim no. 408 (dari Abu Hurairah RA)
– QS. Al-Ahzab: 56
– HR. Bukhari no. 3370 (Shalawat Ibrahimiyah)









