Salah satu pertanyaan paling sering muncul saat belajar membaca Al-Qur’an adalah soal hukum tajwid: nun mati bertemu huruf apa dibaca apa, mim mati hukumnya bagaimana, dan seterusnya. Artikel ini merangkum seluruh hukum bacaan tajwid dasar secara lengkap dan sistematis, dilengkapi contoh dan tabel per huruf.
Perlu dibedakan dengan artikel Hukum Belajar Ilmu Tajwid yang membahas wajib atau tidaknya mempelajari tajwid. Artikel ini fokus pada daftar lengkap aturan bacaannya.
Apa Itu Ilmu Tajwid?
Tajwid secara bahasa berarti “membaguskan”. Dalam konteks membaca Al-Qur’an, ilmu tajwid adalah ilmu yang mengatur cara mengucapkan setiap huruf sesuai tempat keluarnya (makhraj) dan sifat-sifatnya, termasuk kapan dengung (ghunnah), kapan dipanjangkan (mad), dan kapan dipantulkan (qalqalah). Tujuannya agar bacaan Al-Qur’an terjaga sebagaimana diajarkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melalui malaikat Jibril.
Hukum Nun Mati (نْ) dan Tanwin
Ketika nun mati (نْ) atau tanwin (ـً ـٍ ـٌ) bertemu salah satu huruf hijaiyah lainnya, berlaku 5 hukum berikut:
1. Izhar Halqi (Jelas)
Dibaca jelas tanpa dengung apabila bertemu 6 huruf halq (tenggorokan): ء ه ع ح غ خ (hamzah, ha, ain, ha, ghain, kha). Inilah jawaban untuk pertanyaan “nun mati bertemu alif” — huruf yang dimaksud sebenarnya adalah hamzah (ء), bukan alif (ا), karena alif tidak bisa menyandang huruf mati. Contoh: مَنْ أَمَنَ.
2. Idgham Bighunnah (Lebur dengan Dengung)
Dibaca lebur dengan dengung 2 ketukan apabila bertemu 4 huruf: ي ن م و (ya, nun, mim, wau). Jadi, nun mati bertemu ya, bertemu mim, atau bertemu wau semuanya masuk kategori ini. Contoh: مَنْ يَقُلْ.
3. Idgham Bilaghunnah (Lebur tanpa Dengung)
Dibaca lebur tanpa dengung apabila bertemu 2 huruf: ل ر (lam, ra). Inilah jawaban untuk “nun mati bertemu lam”. Contoh: مِنْ رَبِّهِمْ.
4. Iqlab (Berubah Jadi Mim)
Bunyi nun mati/tanwin diubah menjadi mim dengan dengung apabila bertemu huruf ب (ba) — inilah jawaban untuk “nun mati bertemu ba”. Contoh: مِنْ بَعْدِ dibaca “mim ba’di”.
5. Ikhfa (Samar)
Dibaca samar-samar di antara jelas dan lebur apabila bertemu 15 huruf sisanya: ت ث ج د ذ ز س ش ص ض ط ظ ف ق ك. Ini jawaban untuk “nun mati bertemu ta” dan “nun mati bertemu fa”. Contoh: مِنْ تَحْتِهَا.
| Pertanyaan Umum | Huruf yang Dimaksud | Hukum Bacaan |
|---|---|---|
| Nun mati bertemu ya | ي | Idgham Bighunnah |
| Nun mati bertemu ba | ب | Iqlab |
| Nun mati bertemu alif | ء (hamzah) | Izhar Halqi |
| Nun mati bertemu mim | م | Idgham Bighunnah |
| Nun mati bertemu lam | ل | Idgham Bilaghunnah |
| Nun mati bertemu ta | ت | Ikhfa |
| Nun mati bertemu fa | ف | Ikhfa |
Hukum Mim Mati (مْ)
Mim mati memiliki 3 hukum bacaan ketika bertemu huruf lain:
- Ikhfa Syafawi — mim mati bertemu huruf ب (ba), dibaca samar dengan bibir tertutup rapat namun tidak sepenuhnya. Contoh: تَرْمِيْهِمْ بِحِجَارَةٍ.
- Idgham Mimi (Idgham Syafawi) — mim mati bertemu huruf م (mim) lainnya, dibaca lebur dengan dengung. Contoh: لَهُمْ مَا.
- Izhar Syafawi — mim mati bertemu huruf selain ب dan م (26 huruf lainnya), dibaca jelas tanpa dengung. Contoh: أَنْعَمْتَ عَلَيْهِمْ.
Jadi, jawaban untuk “mim mati bertemu ba hukumnya” adalah Ikhfa Syafawi, bukan idgham.
Hukum Lam Ta’rif (Alif Lam)
Lam pada kata sandang “al” (ال) memiliki 2 hukum:
- Al-Syamsiyah (Idgham) — lam tidak dibaca/dilebur apabila bertemu 14 huruf: ت ث د ذ ر ز س ش ص ض ط ظ ل ن. Inilah jawaban “lam ketemu lam hukumnya” — karena lam termasuk salah satu huruf syamsiyah, lam ta’rif yang bertemu lam berikutnya dilebur (idgham). Contoh: الشَّمْسُ dibaca “asy-syamsu”.
- Al-Qamariyah (Izhar) — lam dibaca jelas apabila bertemu 14 huruf sisanya, termasuk أ ب ج ح خ ع غ ف ق ك م ه و ي. Contoh: الْقَمَرُ dibaca “al-qamaru”.
Adapun “lam sukun bertemu lam tasydid” pada kata biasa (bukan lam ta’rif) termasuk kategori Idgham Mutamatsilain — dua huruf sejenis yang pertama mati dan kedua hidup, dibaca lebur menjadi satu huruf yang ditasydidkan.
Hukum Qalqalah
Qalqalah adalah bacaan memantul/bergetar pada 5 huruf: ب ج د ط ق ketika berstatus mati (sukun). Dibagi menjadi:
- Qalqalah Sughra (kecil) — huruf qalqalah mati di tengah kata. Contoh: يَجْعَلُ.
- Qalqalah Kubra (besar) — huruf qalqalah mati karena diwaqafkan (dihentikan) di akhir kata, sehingga pantulannya lebih kuat. Contoh: اَحَدْ (dibaca waqaf).
Fathah Berdiri dan Fathatain Saat Waqaf
Fathah berdiri (tanda fathah tegak di atas huruf, misalnya pada kata هٰذَا) berfungsi sebagai pengganti huruf alif yang tidak dituliskan. Cara membacanya tetap dipanjangkan 2 harakat seperti mad thobi’i biasa.
Sementara itu, fathatain (tanwin fathah) yang berada di akhir kata dan dibaca waqaf (berhenti) akan berubah menjadi mad iwadh — bunyi “an” berubah menjadi “aa” panjang 2 harakat tanpa dengung nun. Inilah yang dimaksud dengan pertanyaan seputar “fathatain bertemu alif” saat berhenti di akhir ayat atau kalimat.
Tanya Jawab Seputar Hukum Tajwid
Apa beda idgham bighunnah dan idgham bilaghunnah?
Keduanya sama-sama melebur nun mati/tanwin ke huruf berikutnya, tapi idgham bighunnah disertai dengung 2 ketukan (bertemu ي ن م و), sedangkan idgham bilaghunnah dibaca lebur tanpa dengung sama sekali (bertemu ل ر).
Mengapa nun mati bertemu ba dibaca iqlab, bukan ikhfa?
Karena secara makhraj (tempat keluar huruf), ba dan mim sama-sama bersumber dari bibir (syafawi), sehingga lebih mudah dan alami jika nun diubah bunyinya menjadi mim ketika bertemu ba, lengkap dengan dengungnya.
Berapa lama dengung (ghunnah) dibaca?
Dengung dibaca kurang lebih 2 ketukan (2 harakat), sama seperti durasi mad thobi’i.
===
Referensi:
– Kitab Hidayatul Mustafid fi Ahkamit Tajwid, Syaikh Mahmud Khalil Al-Hushari
– Acep Iim Abdurohim, Pedoman Ilmu Tajwid Lengkap
– Lajnah Pentashihan Mushaf Al-Qur’an, Kementerian Agama RI









