Ketika seorang sahabat meminta satu nasihat ringkas yang cukup menjadi pegangan hidup, Rasulullah menjawab dengan dua kata: iman, lalu istiqomah. Berikut hadits lengkap dan penjelasannya.
Teks Hadits
قُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، قُلْ لِي فِي الْإِسْلَامِ قَوْلًا لَا أَسْأَلُ عَنْهُ أَحَدًا غَيْرَكَ. قَالَ: قُلْ آمَنْتُ بِاللَّهِ ثُمَّ اسْتَقِمْ
Latin: “Qultu: Yaa rasuulallah, qul lii fil islaami qawlan laa as-alu ‘anhu ahadan ghairak. Qaala: Qul aamantu billaahi tsummastaqim.”
Artinya: Sufyan bin Abdillah Ats-Tsaqafi RA berkata, “Aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, katakan kepadaku satu perkataan tentang Islam yang tidak perlu kutanyakan lagi kepada orang lain selainmu.’ Beliau bersabda, ‘Katakanlah: aku beriman kepada Allah, kemudian beristiqomahlah.'” (HR. Muslim no. 38)
Mengapa Jawaban Ini Dianggap Sangat Ringkas Namun Mendalam?
Sahabat tersebut meminta satu kalimat ringkas yang mencakup keseluruhan Islam. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab dengan dua unsur yang saling berkaitan erat:
- Iman (aamantu billaah) — fondasi/pondasi dasar yang harus dimiliki terlebih dahulu.
- Istiqomah (tsummastaqim) — konsistensi menjalankan konsekuensi dari keimanan itu dalam seluruh aspek kehidupan, secara terus-menerus, bukan hanya sesaat.
Para ulama menjelaskan bahwa beriman itu sendiri sebenarnya “mudah” diucapkan, namun istiqomah-lah tantangan sesungguhnya — mempertahankan keimanan dan amal shalih secara konsisten di tengah godaan, kesulitan, dan berlalunya waktu.
Dalil Al-Qur’an tentang Istiqomah
Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya orang-orang yang berkata, ‘Tuhan kami ialah Allah’ kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka (istiqomah), maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan), ‘Janganlah kamu takut dan janganlah kamu bersedih hati; dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh) surga yang telah dijanjikan kepadamu.'” (QS. Fussilat: 30)
Tanya Jawab Seputar Hadits Istiqomah
Apakah istiqomah berarti harus sempurna tanpa pernah berbuat salah?
Tidak. Istiqomah bukan berarti bebas dari kesalahan sama sekali, melainkan konsistensi arah dan usaha menuju kebaikan, serta segera bertaubat dan kembali ke jalan yang benar setiap kali tergelincir, bukan menyerah total setelah satu kesalahan.
Bagaimana cara menjaga istiqomah dalam ibadah sehari-hari?
Di antaranya: memulai dari amalan kecil yang konsisten dibanding amalan besar yang hanya sesekali, menjaga lingkungan pergaulan yang mendukung kebaikan, memperbanyak doa memohon keteguhan hati, dan mengingat bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri bersabda, “Amalan yang paling dicintai Allah adalah yang terus-menerus dilakukan meski sedikit.” (HR. Bukhari dan Muslim)
===
Referensi:
– HR. Muslim no. 38 (dari Sufyan bin Abdillah Ats-Tsaqafi RA)
– QS. Fussilat: 30
– HR. Bukhari & Muslim tentang amalan yang paling dicintai Allah









