Shalat Witir adalah shalat sunnah penutup ibadah malam dengan jumlah rakaat ganjil. Berikut hadits-hadits tentang keutamaannya yang sangat dianjurkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.
Teks Hadits Utama
إِنَّ اللَّهَ وِتْرٌ يُحِبُّ الْوِتْرَ فَأَوْتِرُوا يَا أَهْلَ الْقُرْآنِ
Latin: “Innallaaha witrun yuhibbul witra fa autiruu yaa ahlal Qur’aan.”
Artinya: “Sesungguhnya Allah itu witir (Maha Esa/ganjil) dan menyukai yang witir (ganjil), maka kerjakanlah shalat witir, wahai Ahli Qur’an (umat Islam).” (HR. Abu Dawud no. 1416 dan Tirmidzi no. 453, dinilai hasan, dari Ali bin Abi Thalib RA)
Wasiat Rasulullah: Jangan Sampai Ditinggalkan
Sebagaimana disebutkan dalam hadits wasiat kepada Abu Hurairah RA, shalat witir sebelum tidur termasuk tiga wasiat yang disampaikan Rasulullah secara khusus: “Kekasihku (Rasulullah) berwasiat kepadaku dengan tiga perkara: puasa tiga hari setiap bulan, shalat Dhuha dua rakaat, dan shalat witir sebelum tidur.” (HR. Bukhari no. 1178 dan Muslim no. 721)
Jadikan Witir sebagai Penutup Shalat Malam
Dari Ibnu Umar RA, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Jadikanlah shalat witir sebagai shalat terakhir kalian di malam hari.” (HR. Bukhari no. 998 dan Muslim no. 751)
Hadits ini menjadi dasar anjuran mengakhirkan shalat witir di penghujung ibadah malam, baik setelah shalat tahajud bagi yang terbiasa bangun malam, maupun langsung setelah shalat Isya bagi yang khawatir tidak bangun malam.
Tanya Jawab Seputar Keutamaan Shalat Witir
Berapa jumlah rakaat shalat witir yang dianjurkan?
Minimal satu rakaat, dan paling umum dikerjakan 3 rakaat. Sebagian ulama membolehkan hingga 11 rakaat mengikuti kebiasaan Rasulullah di bulan Ramadhan, dengan syarat tetap ditutup rakaat ganjil, sebagaimana makna “witir” itu sendiri yakni bilangan ganjil.
Apa yang harus dilakukan jika khawatir tidak bangun untuk shalat malam?
Rasulullah bersabda: “Barangsiapa khawatir tidak bangun di akhir malam, hendaklah ia berwitir di awal malam (sebelum tidur). Dan barangsiapa yakin akan bisa bangun di akhir malam, hendaklah ia berwitir di akhir malam, karena shalat di akhir malam itu disaksikan (oleh para malaikat) dan itu lebih utama.” (HR. Muslim no. 755)
===
Referensi:
– HR. Abu Dawud no. 1416 & Tirmidzi no. 453 (hasan, dari Ali bin Abi Thalib RA)
– HR. Bukhari no. 1178 & Muslim no. 721
– HR. Bukhari no. 998 & Muslim no. 751 (dari Ibnu Umar RA)
– HR. Muslim no. 755









