Kalimat tahlil “Laa ilaaha illallah” (Tiada Tuhan selain Allah) adalah kalimat tauhid, inti ajaran seluruh para nabi, dan dzikir yang paling utama. Berikut hadits-hadits tentang keutamaannya.
Dzikir yang Paling Utama
Dari Jabir bin Abdillah RA, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dzikir yang paling utama adalah laa ilaaha illallah.” (HR. Tirmidzi no. 3383, dinilai hasan)
Diharamkan dari Api Neraka
Dari Itban bin Malik RA, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah mengharamkan atas neraka, orang yang mengucapkan laa ilaaha illallah karena mengharap wajah Allah.” (HR. Bukhari no. 425 dan Muslim no. 33)
Kunci Masuk Surga bagi yang Mengucapkannya di Akhir Hayat
Dari Mu’adz bin Jabal RA, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang akhir perkataannya adalah laa ilaaha illallah, maka ia akan masuk surga.” (HR. Abu Dawud no. 3116, dinilai shahih oleh Al-Albani)
Orang yang Paling Berbahagia dengan Syafaat Nabi
Dari Abu Hurairah RA, ia bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam siapa yang paling berbahagia mendapat syafaatnya kelak. Beliau menjawab: “Orang yang paling berbahagia dengan syafaatku pada hari kiamat adalah orang yang mengucapkan laa ilaaha illallah secara ikhlas dari hatinya.” (HR. Bukhari no. 99)
Tanya Jawab Seputar Keutamaan Kalimat Tahlil
Apakah cukup mengucapkan kalimat ini secara lisan tanpa memahami maknanya?
Para ulama menekankan bahwa kalimat tahlil harus diucapkan dengan pemahaman dan keyakinan akan maknanya — yaitu menolak segala sesembahan selain Allah dan menetapkan bahwa hanya Allah yang berhak disembah — bukan sekadar ucapan lisan tanpa makna di hati, sebagaimana ditegaskan dalam hadits “karena mengharap wajah Allah” di atas.
Kapan waktu yang baik untuk memperbanyak kalimat tahlil?
Kalimat ini dianjurkan diucapkan kapan saja, namun secara khusus dianjurkan diperbanyak saat wukuf di Arafah (sebagaimana disebutkan dalam hadits tentang sebaik-baik doa di hari Arafah), serta diusahakan menjadi kalimat terakhir yang diucapkan seorang Muslim sebelum wafat.
===
Referensi:
– HR. Tirmidzi no. 3383 (hasan, dari Jabir bin Abdillah RA)
– HR. Bukhari no. 425 & Muslim no. 33 (dari Itban bin Malik RA)
– HR. Abu Dawud no. 3116 (shahih menurut Al-Albani, dari Mu’adz bin Jabal RA)
– HR. Bukhari no. 99 (dari Abu Hurairah RA)









