Shalat Dhuha adalah shalat sunnah yang dikerjakan di pagi hari, dengan keutamaan luar biasa sebagai pengganti sedekah bagi seluruh persendian tubuh. Berikut hadits-hadits lengkap tentang keutamaannya.
Teks Hadits Utama: Pengganti Sedekah 360 Persendian
Dari Abu Dzar RA, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Pada setiap pagi, setiap ruas persendian dari salah seorang kalian wajib untuk disedekahi. Setiap tasbih (Subhanallah) adalah sedekah, setiap tahmid (Alhamdulillah) adalah sedekah, setiap tahlil (Laa ilaaha illallah) adalah sedekah, setiap takbir (Allahu Akbar) adalah sedekah, menyuruh kepada kebaikan adalah sedekah, mencegah dari kemungkaran adalah sedekah, dan semua itu dapat digantikan dengan dua rakaat yang dikerjakan pada waktu Dhuha.” (HR. Muslim no. 720)
Dalam hadits lain, Rasulullah menjelaskan bahwa setiap manusia memiliki 360 persendian (HR. Muslim no. 1007), sehingga shalat Dhuha dua rakaat menjadi “paket lengkap” yang mencakup seluruh kewajiban sedekah harian atas persendian tersebut.
Wasiat Rasulullah kepada Abu Hurairah
Dari Abu Hurairah RA, beliau berkata: “Kekasihku (Rasulullah) berwasiat kepadaku dengan tiga perkara: puasa tiga hari setiap bulan, shalat Dhuha dua rakaat, dan shalat witir sebelum tidur.” (HR. Bukhari no. 1178 dan Muslim no. 721)
Istana di Surga bagi yang Rutin 12 Rakaat
Dari Anas bin Malik RA, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa shalat Dhuha dua belas rakaat, Allah akan membangunkan untuknya istana di surga.” (HR. Tirmidzi no. 473, dinilai hasan gharib)
Tanya Jawab Seputar Keutamaan Shalat Dhuha
Berapa jumlah rakaat minimal dan maksimal shalat Dhuha?
Minimal dua rakaat (berdasarkan hadits wasiat kepada Abu Hurairah dan Abu Dzar di atas), sedangkan jumlah maksimalnya diperselisihkan ulama — sebagian membolehkan hingga dua belas rakaat (berdasarkan hadits istana di surga), sementara sebagian lain berpendapat tidak ada batasan maksimal selama dikerjakan dengan kelipatan dua rakaat.
Kapan waktu pelaksanaan shalat Dhuha?
Dimulai sejak matahari naik setinggi tombak (sekitar 15-20 menit setelah terbit, kira-kira pukul 07.00 waktu setempat) hingga menjelang waktu Dzuhur (sekitar 15 menit sebelum masuk waktu Dzuhur). Waktu yang paling utama adalah ketika matahari mulai terasa panas, mendekati pertengahan antara waktu dimulainya Dhuha dan waktu Dzuhur.
===
Referensi:
– HR. Muslim no. 720 & 1007 (dari Abu Dzar RA)
– HR. Bukhari no. 1178 & Muslim no. 721 (dari Abu Hurairah RA)
– HR. Tirmidzi no. 473 (hasan gharib, dari Anas bin Malik RA)









