Ridho (rela) kepada Allah sebagai Rabb, Islam sebagai agama, dan Muhammad sebagai rasul adalah tanda kesempurnaan iman yang mendatangkan manisnya iman. Berikut dalil-dalil keutamaannya.
Teks Hadits Utama: Manisnya Iman
Dari Al-‘Abbas bin Abdul Muthalib RA, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Akan merasakan manisnya iman, orang yang ridha Allah sebagai Rabb-nya, Islam sebagai agamanya, dan Muhammad sebagai rasul (yang diutus untuknya).” (HR. Muslim no. 34)
Balasan bagi yang Ridho dengan Ketetapan Allah
Dari Abu Sa’id Al-Khudri RA, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa ridha (rela), maka baginya keridhaan (dari Allah). Dan barangsiapa murka, maka baginya kemurkaan (dari Allah).” (HR. Tirmidzi no. 2396, dinilai hasan)
Ridho terhadap Takdir Bagian dari Iman
Ridho terhadap takdir Allah — baik berupa nikmat maupun musibah — merupakan wujud kesempurnaan tawakal dan keimanan seorang hamba kepada rukun iman keenam, yaitu beriman kepada qadha dan qadar Allah, sebagaimana ditegaskan para ulama bahwa sikap ridho ini membawa ketenangan hati yang tidak dimiliki oleh orang yang terus-menerus menggugat takdirnya.
Tanya Jawab Seputar Keutamaan Ridho
Apakah ridho terhadap musibah berarti tidak boleh bersedih?
Tidak. Ridho bukan berarti tidak merasakan kesedihan secara alami, karena Rasulullah sendiri pernah menangis dan bersedih atas wafatnya putra beliau, Ibrahim. Ridho yang dimaksud adalah tidak menggugat atau memprotes ketetapan Allah dalam hati, tetap bersabar, dan yakin bahwa di balik ketetapan-Nya pasti terdapat hikmah, meskipun air mata tetap boleh mengalir sebagai ekspresi kasih sayang yang wajar.
Bagaimana cara melatih sikap ridho dalam kehidupan sehari-hari?
Di antaranya dengan memperbanyak dzikir dan mengingat bahwa segala sesuatu terjadi atas izin Allah, merenungkan hikmah di balik setiap kejadian, memperbanyak syukur atas nikmat yang masih ada, serta meyakini bahwa Allah Maha Mengetahui yang terbaik bagi hamba-Nya melebihi pengetahuan hamba itu sendiri.
===
Referensi:
– HR. Muslim no. 34 (dari Al-‘Abbas bin Abdul Muthalib RA)
– HR. Tirmidzi no. 2396 (hasan, dari Abu Sa’id Al-Khudri RA)









