Nama Imam Nawawi begitu akrab di telinga umat Islam, terutama melalui karya fenomenalnya, Hadits Arbain Nawawi, yang dipelajari di hampir setiap majelis ilmu dasar keislaman. Di balik karya-karyanya yang monumental, tersimpan kisah hidup seorang ulama yang mendedikasikan hampir seluruh waktunya untuk ilmu, hingga wafat di usia yang masih relatif muda.
Kelahiran dan Awal Kehidupan
Nama lengkap beliau adalah Yahya bin Syaraf bin Hasan An-Nawawi, lahir pada bulan Muharram tahun 631 Hijriah di sebuah desa bernama Nawa, dekat kota Damaskus, Suriah. Sejak kecil, Imam Nawawi telah menunjukkan ketertarikan yang besar terhadap Al-Qur’an, bahkan diriwayatkan bahwa ayahnya harus “memaksa” beliau sesekali untuk sejenak beristirahat dari aktivitas menghafal dan belajar karena kecintaannya yang begitu besar terhadap ilmu sejak usia sangat muda.
Perjalanan Menuntut Ilmu yang Luar Biasa Intensif
Pada usia 18 tahun, Imam Nawawi memulai perjalanan keilmuannya secara serius di Damaskus, menghadiri berbagai halaqah (majelis) ilmu yang diadakan para ulama besar di kota tersebut. Yang membuat perjalanan keilmuan beliau begitu luar biasa adalah intensitasnya yang sangat tinggi — diriwayatkan bahwa dalam sehari beliau mengikuti sekitar dua belas pelajaran berbeda dari berbagai bidang ilmu: fiqh, hadits, bahasa Arab, ushul fiqh, nahwu, dan lain sebagainya, disertai kebiasaan menuliskan catatan penting dari setiap pelajaran yang diikutinya.
Kesungguhan ini membuahkan hasil yang sangat cepat. Dalam waktu kurang dari lima tahun sejak memulai perjalanan keilmuannya, Imam Nawawi telah menguasai berbagai cabang ilmu keislaman dengan kedalaman yang luar biasa, sehingga mulai dipercaya untuk mengajar dan memberikan fatwa di usia yang masih relatif muda.
Kehidupan yang Zuhud dan Sederhana
Imam Nawawi dikenal menjalani kehidupan yang sangat sederhana dan zuhud (tidak terikat pada dunia). Beliau tidak pernah menikah sepanjang hidupnya, dengan alasan khawatir pernikahan akan mengalihkan fokus dan waktunya dari aktivitas menuntut dan mengajarkan ilmu yang menjadi prioritas utama kehidupannya. Beliau juga dikenal sangat sedikit tidur, menghabiskan sebagian besar waktunya untuk belajar, menulis, beribadah, dan mengajar murid-muridnya.
Karya-Karya Monumental
Meski wafat dalam usia yang relatif muda, Imam Nawawi berhasil menghasilkan sejumlah karya besar yang hingga kini masih menjadi rujukan utama di seluruh dunia Islam:
- Al-Arbain An-Nawawiyah — kumpulan 42 hadits pilihan yang merangkum pokok-pokok ajaran Islam, menjadi salah satu kitab hadits paling banyak dipelajari dan dihafal oleh umat Islam di seluruh dunia hingga saat ini.
- Riyadhus Shalihin — kumpulan hadits yang disusun berdasarkan tema-tema akhlak dan amalan kehidupan sehari-hari, menjadi salah satu kitab hadits paling populer di kalangan masyarakat umum karena bahasanya yang mudah dipahami dan tema-temanya yang aplikatif.
- Syarh Shahih Muslim — kitab penjelasan (syarah) yang sangat komprehensif terhadap Shahih Muslim, menjadi salah satu rujukan utama dalam memahami kitab hadits tersebut.
- Al-Minhaj dan berbagai karya fiqh lainnya dalam madzhab Syafi’i, yang menjadi rujukan penting dalam kajian fiqh madzhab tersebut.
Keberanian dalam Menyampaikan Nasihat
Selain dikenal sebagai ulama yang sangat berilmu, Imam Nawawi juga dikenal memiliki keberanian dalam menyampaikan nasihat kepada penguasa pada masanya. Diriwayatkan bahwa beliau pernah menolak membubuhkan tanda tangan atas sebuah kebijakan pajak yang dianggapnya tidak sesuai dengan syariat, meski harus menghadapi tekanan dari pihak penguasa, menunjukkan keteguhan prinsip keilmuan yang tidak mudah goyah oleh tekanan kekuasaan.
Wafat dalam Usia Muda
Imam Nawawi wafat pada tahun 676 Hijriah dalam usia 45 tahun, sebuah usia yang relatif muda mengingat besarnya karya dan pengaruh keilmuan yang telah beliau wariskan. Banyak ulama meyakini bahwa intensitas luar biasa dalam menuntut, mengamalkan, dan mengajarkan ilmu sepanjang hidupnya turut memengaruhi kondisi kesehatan beliau, hingga wafat tidak lama setelah kembali ke kampung halamannya di Nawa.
Tanya Jawab Seputar Imam Nawawi
Mengapa Hadits Arbain Nawawi begitu populer dipelajari hingga saat ini?
Hadits Arbain Nawawi populer karena memuat 42 hadits pilihan yang merangkum pokok-pokok fundamental ajaran Islam secara ringkas namun komprehensif, mencakup aspek akidah, ibadah, akhlak, dan muamalah, sehingga sangat cocok dijadikan materi dasar pembelajaran bagi penuntut ilmu pemula hingga tingkat lanjut.
Mengapa Imam Nawawi memilih untuk tidak menikah sepanjang hidupnya?
Berdasarkan riwayat yang disampaikan para ulama, Imam Nawawi memilih untuk tidak menikah karena kekhawatiran bahwa tanggung jawab rumah tangga akan mengurangi fokus dan waktunya yang telah ia curahkan sepenuhnya untuk menuntut dan mengajarkan ilmu agama, sebuah pilihan pribadi yang beliau yakini sebagai jalan terbaik untuk mengoptimalkan kontribusi keilmuannya bagi umat.
Apa perbedaan antara kitab Arbain Nawawi dan Riyadhus Shalihin?
Arbain Nawawi berisi 42 hadits pilihan yang merangkum pokok-pokok dasar ajaran Islam secara ringkas, sementara Riyadhus Shalihin memuat kumpulan hadits yang jauh lebih banyak dan disusun berdasarkan berbagai tema akhlak dan amalan kehidupan sehari-hari secara lebih rinci, sehingga cakupannya lebih luas dan mendalam dibanding Arbain Nawawi.
Kesimpulan
Imam Nawawi adalah sosok ulama yang mencurahkan hampir seluruh hidupnya untuk ilmu, dengan intensitas belajar dan mengajar yang luar biasa meski dalam rentang usia yang relatif singkat. Karya-karya monumentalnya, terutama Al-Arbain An-Nawawiyah dan Riyadhus Shalihin, terus menjadi rujukan utama dan materi pembelajaran bagi umat Islam di seluruh dunia hingga hari ini, menjadi bukti nyata bagaimana dedikasi total terhadap ilmu dapat meninggalkan warisan yang abadi bagi generasi-generasi setelahnya.









