Ghibah (menggunjing) adalah salah satu dosa lisan yang paling sering dilakukan tanpa disadari, bahkan oleh orang yang berusaha menjaga ibadahnya. Islam menggambarkan dosanya dengan perumpamaan yang sangat keras. Berikut penjelasan lengkapnya.
Dalil Larangan Ghibah
Allah SWT berfirman:
وَلَا يَغْتَبْ بَّعْضُكُمْ بَعْضًاۗ اَيُحِبُّ اَحَدُكُمْ اَنْ يَّأْكُلَ لَحْمَ اَخِيْهِ مَيْتًا فَكَرِهْتُمُوْهُۗ
Artinya: “…Dan janganlah kamu menggunjing satu sama lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik.” (QS. Al-Hujurat: 12)
Perumpamaan “memakan daging saudara yang sudah mati” dipilih karena orang yang digunjing tidak tahu dan tidak bisa membela dirinya, persis seperti mayat yang tidak bisa melawan ketika dagingnya dimakan.
Definisi Ghibah Menurut Hadits
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bertanya kepada para sahabat, “Tahukah kalian apa itu ghibah?” Mereka menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih tahu.” Beliau bersabda, “Engkau menyebutkan sesuatu tentang saudaramu yang ia tidak suka (jika mendengarnya).” Ada yang bertanya, “Bagaimana jika yang aku katakan itu benar adanya?” Beliau menjawab, “Jika yang kamu katakan itu benar, maka itulah ghibah. Jika yang kamu katakan tidak benar, maka kamu telah berbuat fitnah (menuduh dusta).” (HR. Muslim no. 2589)
Hadits ini penting dipahami: ghibah tetap berdosa meski yang dibicarakan adalah fakta/kebenaran, selama disampaikan di belakang orang tersebut dan ia tidak suka jika mendengarnya. Jika yang dikatakan ternyata tidak benar, dosanya lebih berat lagi karena menjadi fitnah.
Pengecualian yang Dibolehkan
Ulama (di antaranya Imam An-Nawawi) merumuskan beberapa kondisi di mana membicarakan keburukan orang lain tidak termasuk ghibah yang terlarang, karena ada maslahat yang lebih besar:
- Mengadukan kezaliman kepada pihak yang berwenang untuk meminta keadilan.
- Meminta fatwa/nasihat dengan menyebutkan situasi spesifik yang dialami (misalnya kepada konselor/ustadz).
- Memperingatkan orang lain dari bahaya/kejahatan seseorang (misalnya memperingatkan calon mitra bisnis tentang rekam jejak buruk seseorang).
- Mengoreksi kemungkaran yang terjadi secara terang-terangan, agar bisa dicegah.
- Memperkenalkan seseorang dengan julukan yang memang melekat dan dikenal luas (misalnya “si pincang”) tanpa maksud merendahkan, semata untuk identifikasi.
- Menilai perawi hadits/saksi untuk kepentingan validitas riwayat atau kesaksian hukum.
Cara Menghindari Ghibah
- Mengalihkan topik pembicaraan ketika orang lain mulai membicarakan keburukan seseorang.
- Mengingatkan diri dan teman bicara akan dosa ghibah secara halus.
- Membiasakan husnuzan (berprasangka baik) dan fokus pada introspeksi diri sendiri.
- Segera beristighfar dan berniat tidak mengulangi jika terlanjur melakukannya.
Tanya Jawab Seputar Ghibah
Apakah mendengarkan ghibah juga berdosa?
Ya, mendengarkan dan membiarkan ghibah tanpa mencegahnya (padahal mampu) juga tercela, karena termasuk meridhai perbuatan dosa tersebut. Dianjurkan untuk menegur dengan baik atau meninggalkan majelis tersebut.
Bagaimana cara bertaubat dari ghibah?
Selain istighfar kepada Allah, ulama menganjurkan memperbanyak doa kebaikan untuk orang yang pernah digunjing sebagai bentuk penebus, dan jika memungkinkan tanpa menimbulkan masalah baru, meminta maaf kepada yang bersangkutan.
===
Referensi:
– QS. Al-Hujurat: 12
– HR. Muslim no. 2589 (dari Abu Hurairah RA)
– Imam An-Nawawi, Riyadhus Shalihin, Bab Ghibah
– Al Quran Digital Kementerian Agama Republik Indonesia









