Ungkapan “9 dari 10 pintu rezeki ada pada perdagangan” sangat sering dikutip para motivator bisnis dan penceramah, namun apakah benar ini adalah hadits Rasulullah? Berikut penjelasan lengkapnya.
Klarifikasi: Status Hadits Ini Dhaif (Lemah)
تِسْعَةُ أَعْشَارِ الرِّزْقِ فِي التِّجَارَةِ
Latin: “Tis’atu a’syaarir rizqi fit tijaarah.”
Ungkapan ini diriwayatkan secara mursal (sanadnya terputus) dari Nu’aim bin Abdurrahman Al-Azdi, seorang tabi’in — bukan dari sahabat Nabi — sehingga tidak bisa dipastikan bersambung langsung kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Al-Hafizh Ibnu Abdil Barr dalam kitab Al-Istidzkar mengisyaratkan kedhaifan riwayat ini, dan Syaikh Al-Albani juga menegaskan statusnya sebagai hadits dhaif. Riwayat ini pun tidak ditemukan dalam kitab-kitab hadits utama (Shahih Bukhari, Shahih Muslim, kitab-kitab Sunan, maupun Musnad yang masyhur).
Dalil Shahih tentang Keutamaan Berdagang
Meski ungkapan “9 dari 10 pintu rezeki” tidak memiliki dasar yang kuat, keutamaan berdagang secara umum tetap memiliki dalil shahih. Dari Rifa’ah bin Rafi’ RA, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya, “Pekerjaan apakah yang paling baik?” Beliau menjawab: “Pekerjaan seseorang dengan tangannya sendiri, dan setiap jual beli yang mabrur (baik, jujur, tanpa kecurangan).” (HR. Al-Bazzar dan Al-Hakim, dinilai shahih)
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga bersabda: “Pedagang yang jujur dan terpercaya akan (dikumpulkan) bersama para Nabi, orang-orang yang jujur (shiddiqin), dan para syuhada.” (HR. Tirmidzi no. 1209, dinilai hasan)
Tanya Jawab Seputar Hadits 9 dari 10 Pintu Rezeki
Jika hadits ini dhaif, apakah berarti berdagang tidak dianjurkan dalam Islam?
Tidak. Status dhaif pada riwayat spesifik “9 dari 10 pintu rezeki” tidak mengurangi keutamaan berdagang itu sendiri, karena terdapat banyak dalil shahih lain (seperti dua hadits di atas) yang menunjukkan kemuliaan profesi berdagang, bahkan Rasulullah sendiri adalah seorang pedagang sebelum dan sesudah diangkat menjadi Nabi.
Mengapa ungkapan dhaif seperti ini bisa begitu populer?
Karena kandungan maknanya terasa masuk akal dan sering dikutip turun-temurun tanpa verifikasi sumber, khususnya di kalangan motivator bisnis. Syaikh Abdullah Al-Jibrin bahkan menyebutkan kemungkinan ungkapan ini hanyalah perkataan para ahli hikmah (bukan sabda Nabi) yang kemudian dianggap sebagai hadits oleh masyarakat.
===
Referensi:
– Ibnu Abdil Barr, Al-Istidzkar (8/196); penilaian Syaikh Al-Albani
– HR. Al-Bazzar & Al-Hakim (shahih, dari Rifa’ah bin Rafi’ RA)
– HR. Tirmidzi no. 1209 (hasan)









