Klaim bahwa “umur dunia/umat Islam hanya sampai 1500 tahun Hijriyah” cukup sering beredar, bahkan menimbulkan kekhawatiran di sebagian masyarakat. Benarkah klaim ini berdasarkan hadits shahih? Berikut penjelasannya.
Klarifikasi: Riwayat yang Lemah hingga Palsu
Riwayat-riwayat yang dijadikan dasar perhitungan “umur umat Islam 1500 tahun” ternyata berstatus lemah (dhaif), bahkan sebagian tergolong israiliyat (riwayat yang bersumber dari tradisi Yahudi-Kristen) atau palsu. Salah satu riwayat yang sering dikutip memiliki sanad yang terputus (munqathi’), karena perawi bernama Syurahbil bin Ubaid tidak pernah bertemu langsung dengan sahabat Sa’ad bin Abi Waqqash yang menjadi sumber riwayat tersebut.
Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah bahkan menyebut riwayat-riwayat semacam ini sebagai “termasuk kedustaan yang paling terang” (min akdzabil kadzib). Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid turut menegaskan bahwa riwayat tentang batasan usia umat ini secara umum bersifat israiliyat, lemah, bahkan palsu.
Hanya Allah yang Mengetahui Waktu Kiamat
يَسْأَلُونَكَ عَنِ السَّاعَةِ أَيَّانَ مُرْسَاهَا ۖ قُلْ إِنَّمَا عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّي
Artinya: “Mereka bertanya kepadamu (Muhammad) tentang kiamat, kapan terjadinya? Katakanlah: ‘Sesungguhnya pengetahuan tentang kiamat itu hanya di sisi Tuhanku…'” (QS. Al-A’raf: 187)
Bahkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri, ketika ditanya Malaikat Jibril tentang kapan hari kiamat terjadi, menjawab: “Orang yang ditanya tidak lebih tahu dari yang bertanya.” (HR. Bukhari no. 50 dan Muslim no. 8, hadits Jibril yang masyhur)
Ayat dan hadits shahih ini menunjukkan bahwa menetapkan angka pasti kapan dunia atau umat Islam akan berakhir — termasuk klaim “1500 tahun Hijriyah” — bertentangan dengan prinsip dasar akidah Islam bahwa waktu kiamat adalah ilmu gaib mutlak milik Allah semata.
Tanya Jawab Seputar Klaim Umur Dunia 1500 Tahun
Mengapa klaim seperti ini perlu diwaspadai?
Karena klaim serupa berpotensi menimbulkan kepanikan yang tidak berdasar, bahkan di masa lalu pernah dimanfaatkan kelompok tertentu untuk tujuan menyesatkan (misalnya klaim kemunculan nabi palsu atau gerakan sempalan yang mengatasnamakan “tanda kiamat sudah dekat berdasarkan hitungan pasti”). Islam mengajarkan untuk tetap waspada dan beramal, namun tanpa terjebak pada angka-angka spekulatif yang tidak memiliki dasar shahih.
Bagaimana sikap yang benar terhadap tanda-tanda kiamat?
Cukup berpegang pada tanda-tanda kiamat yang disebutkan dalam hadits-hadits shahih (tanpa menetapkan waktu pastinya), sembari terus memperbaiki diri dan beramal shalih, karena kematian setiap individu pada hakikatnya adalah “kiamat kecil” bagi dirinya sendiri yang bisa datang kapan saja, terlepas dari kapan kiamat besar (kubra) akan terjadi.
===
Referensi:
– Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah; Syaikh Muhammad Shalih Al-Munajjid
– QS. Al-A’raf: 187
– HR. Bukhari no. 50 & Muslim no. 8 (hadits Jibril)









