Doa Nurbuat cukup dikenal di masyarakat Indonesia dengan berbagai klaim keutamaan. Namun perlu kejujuran dalam memahami asal-usul dan status riwayatnya. Berikut penjelasan lengkapnya.
Klarifikasi: Asal-Usul yang Tidak Jelas Sanadnya
Perlu kejujuran di sini: secara keseluruhan, Doa Nurbuat tidak memiliki sanad periwayatan yang jelas dari Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Sebagian kalimat pembuka doa ini disebut mirip dengan sebagian riwayat dari Ibnu Asakir tentang doa untuk pengobatan mata, namun susunan doa secara keseluruhan dengan nama “Nurbuat” tidak ditemukan asal periwayatannya yang jelas dalam kitab-kitab hadits standar. Sejumlah ulama bahkan menyebutnya sebagai riwayat yang tidak shahih atau tidak memiliki dasar sama sekali.
Kandungan Doa Ini Sendiri
Secara umum, isi Doa Nurbuat berupa pujian kepada Allah dan Rasul-Nya, beberapa kutipan ayat Al-Qur’an, serta permohonan kesehatan, perlindungan, dan keselamatan. Dari sisi makna, kandungannya tidak bertentangan dengan akidah Islam, sehingga sebagian ulama membolehkan pembacaannya sebagai doa pada umumnya — namun dengan catatan penting di bawah ini.
Catatan Penting: Jangan Meyakininya sebagai Sabda Nabi
Karena sanadnya tidak jelas atau bahkan dinilai palsu oleh sebagian ulama, maka tidak boleh meyakini bahwa doa ini benar-benar diwariskan atau diajarkan langsung oleh Rasulullah dengan keutamaan-keutamaan istimewa tertentu yang sering diklaim (seperti dianggap memiliki kekuatan istimewa tersendiri). Meyakini sesuatu sebagai sabda Nabi tanpa dasar yang shahih termasuk perbuatan yang diperingatkan keras dalam hadits: “Barangsiapa sengaja berdusta atas namaku, maka hendaklah ia bersiap menempati tempat duduknya di neraka.” (HR. Bukhari no. 110 dan Muslim no. 3)
Tanya Jawab Seputar Doa Nurbuat
Apakah boleh tetap membaca Doa Nurbuat?
Sebagian ulama membolehkannya dibaca sebagai doa umum (bukan sebagai hadits atau amalan yang diyakini berasal dari Nabi), selama isinya tidak bertentangan dengan syariat. Namun lebih utama dan lebih aman untuk memperbanyak doa-doa yang jelas bersumber dari Al-Qur’an dan hadits shahih (doa ma’tsurah), mengingat keutamaan dan kepastian sumbernya lebih terjamin.
Apa alternatif doa perlindungan yang memiliki dasar shahih?
Di antaranya Ayat Kursi (QS. Al-Baqarah: 255), Surat Al-Falaq dan An-Nas, serta doa “A’udzu bikalimatillahi tammati min syarri ma khalaq” yang telah terbukti shahih sebagai pelindung dari berbagai keburukan (HR. Muslim no. 2708-2709).
===
Referensi:
– HR. Bukhari no. 110 & Muslim no. 3
– HR. Muslim no. 2708-2709









