Ikhlas, beramal semata-mata karena Allah tanpa mengharap pujian manusia, adalah syarat diterimanya sebuah amal. Berikut hadits-hadits yang menegaskan betapa pentingnya keikhlasan.
1. Allah Tidak Butuh Sekutu dalam Amal
أَنَا أَغْنَى الشُّرَكَاءِ عَنِ الشِّرْكِ، مَنْ عَمِلَ عَمَلًا أَشْرَكَ فِيهِ مَعِي غَيْرِي تَرَكْتُهُ وَشِرْكَهُ
Latin: “Anaa aghnasy syurakaa-i ‘anisy syirki, man ‘amila ‘amalan asyraka fiihi ma’ii ghairii taraktuhu wa syirkah.”
Artinya (Hadits Qudsi): “Aku adalah Dzat yang paling tidak membutuhkan sekutu. Barangsiapa melakukan suatu amalan yang di dalamnya ia mempersekutukan-Ku dengan selain-Ku, maka Aku tinggalkan dia bersama sekutunya itu.” (HR. Muslim no. 2985, dari Abu Hurairah RA)
Hadits qudsi ini menegaskan bahwa amal yang dicampuri niat selain Allah (riya, mencari pujian manusia) akan ditolak sepenuhnya oleh Allah — bukan dikurangi pahalanya, melainkan ditinggalkan seluruhnya kepada “sekutu” yang dituju (manusia yang dicari pujiannya), yang tidak mampu memberi pahala apa pun di akhirat.
2. Tiga Golongan yang Amalnya Ditolak karena Tidak Ikhlas
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa orang pertama yang diadili pada hari kiamat adalah tiga golongan: orang yang mati syahid, penuntut ilmu/pembaca Al-Qur’an, dan orang dermawan. Ketiganya ditanya tentang nikmat yang mereka terima, lalu masing-masing mengakui amalnya, namun Allah membantah: “Engkau dusta. Engkau melakukannya agar dikatakan (oleh manusia sebagai) pemberani/berilmu/dermawan — dan hal itu telah dikatakan.” Lalu mereka diseret wajahnya ke neraka. (HR. Muslim no. 1905, diringkas)
Hadits ini menjadi peringatan keras: amal besar sekalipun (jihad, ilmu, sedekah) bisa sia-sia dan mengantarkan ke neraka jika motivasinya bukan karena Allah, melainkan mencari pengakuan/pujian manusia.
Beda Ikhlas dengan Niat (Innamal A’malu Binniyat)
Hadits “innamal a’malu binniyat” (HR. Bukhari dan Muslim) menjelaskan bahwa sah/diterimanya suatu amal bergantung pada niat awalnya. Sementara hadits-hadits tentang ikhlas di atas melangkah lebih jauh: menjelaskan bahwa niat itu harus murni karena Allah semata, tanpa campuran mencari pujian atau pengakuan manusia, agar benar-benar diterima dan diganjar pahala di sisi-Nya.
Tanya Jawab Seputar Hadits Ikhlas
Apakah boleh merasa senang jika amal kita dipuji orang lain?
Boleh, selama pujian itu bukan tujuan awal dari amal tersebut. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah ditanya tentang seseorang yang beramal baik lalu dipuji orang lain, beliau menjawab itu adalah “busyra” (kabar gembira) yang disegerakan bagi orang beriman di dunia (HR. Muslim). Yang terlarang adalah jika motivasi awal beramal memang untuk dipuji.
Bagaimana cara menjaga keikhlasan dalam beramal?
Di antaranya: menata niat sebelum beramal, menyembunyikan amal-amal sunnah tertentu (seperti sedekah) jika memungkinkan, tidak terganggu dengan komentar orang lain (pujian atau cemoohan) terhadap amal kita, dan senantiasa memohon kepada Allah agar amal diterima dengan ikhlas.
===
Referensi:
– HR. Muslim no. 2985 (Hadits Qudsi, dari Abu Hurairah RA)
– HR. Muslim no. 1905 (dari Abu Hurairah RA)
– HR. Bukhari & Muslim tentang “innamal a’malu binniyat”
– HR. Muslim tentang busyra (kabar gembira) bagi orang yang dipuji









