Takabur (sombong) adalah salah satu penyakit hati yang paling dibenci Allah, bahkan diancam dengan terhalangnya seseorang dari surga. Berikut hadits-hadits shahih tentang takabur beserta penjelasannya.
1. Definisi Takabur Menurut Hadits
الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ
Latin: “Al-kibru bathrul haqqi wa ghamthun naas.”
Artinya: “Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” (HR. Muslim no. 91, dari Abdullah bin Mas’ud RA)
Definisi ini penting karena menunjukkan dua wujud nyata kesombongan: menolak kebenaran (meski sudah jelas benar, ditolak karena gengsi atau ego) dan meremehkan orang lain (memandang rendah sesama manusia).
2. Ancaman Terhalang dari Surga
لَا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ
Latin: “Laa yadkhulul jannata man kaana fii qalbihi mitsqaalu dzarratin min kibr.”
Artinya: “Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat kesombongan meski seberat biji sawi.” (HR. Muslim no. 91)
Dalam riwayat yang sama, seorang sahabat bertanya, “Bagaimana jika seseorang suka bajunya bagus dan sandalnya bagus?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menjawab, “Sesungguhnya Allah itu indah dan menyukai keindahan. Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia.” Ini menegaskan bahwa berpenampilan rapi bukan termasuk takabur — yang tercela adalah sikap hati menolak kebenaran dan merendahkan sesama.
Takabur vs Percaya Diri yang Sehat
Penting dibedakan: takabur berbeda dengan rasa percaya diri yang wajar atau bangga atas pencapaian halal tanpa merendahkan orang lain. Garis pembedanya terletak pada dua unsur dalam definisi hadits di atas — apakah seseorang sampai menolak kebenaran karena gengsi, dan apakah ia memandang rendah orang lain karena merasa lebih.
Tanya Jawab Seputar Hadits Takabur
Apakah merasa bangga dengan prestasi termasuk takabur?
Tidak secara otomatis. Selama rasa bangga itu tidak membuat seseorang menolak nasihat/kebenaran dan tidak membuatnya meremehkan orang lain yang belum berprestasi sama, itu belum termasuk takabur yang diancam dalam hadits ini.
Bagaimana cara menghindari sifat takabur?
Di antaranya: membiasakan diri menerima kebenaran dari siapa pun meski dari orang yang dianggap “lebih rendah” status sosialnya, menyadari bahwa semua kelebihan adalah titipan dan ujian dari Allah, serta memperbanyak muhasabah (introspeksi diri) agar tidak merasa lebih baik dari orang lain.
===
Referensi:
– HR. Muslim no. 91 (dari Abdullah bin Mas’ud RA)









