Tawuran dan kekerasan antar remaja adalah masalah sosial yang meresahkan, padahal Islam dengan tegas mengajarkan untuk menghindari perkelahian dan mendahulukan perdamaian. Berikut hadits-hadits yang relevan dengan persoalan ini.
Larangan Memukul Wajah
إِذَا قَاتَلَ أَحَدُكُمْ أَخَاهُ فَلْيَجْتَنِبِ الْوَجْهَ
Latin: “Idzaa qaatala ahadukum akhaahu fal yajtanibil wajh.”
Artinya: “Jika salah seorang di antara kalian memukul saudaranya (dalam perkelahian), maka hendaklah ia menghindari (memukul) wajah.” (HR. Bukhari no. 2559 dan Muslim no. 2612, dari Abu Hurairah RA)
Hadits ini menunjukkan bahwa sekalipun dalam kondisi perselisihan atau perkelahian yang sebenarnya sudah tidak dianjurkan, Islam tetap menetapkan batasan agar tidak melukai bagian tubuh yang paling mulia dan rentan, yaitu wajah.
Mencaci Muslim adalah Kefasikan
Dari Abdullah bin Mas’ud RA, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mencaci seorang muslim adalah kefasikan, dan membunuhnya adalah kekafiran.” (HR. Bukhari no. 48 dan Muslim no. 64)
Orang Kuat Bukan yang Menang Berkelahi
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bukanlah orang yang kuat itu orang yang menang dalam bergulat, tetapi orang yang kuat adalah orang yang mampu menahan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari no. 6114 dan Muslim no. 2609)
Hadits ini menjadi penegasan bahwa kehormatan dan kekuatan sejati dalam pandangan Islam bukan diukur dari kemenangan fisik dalam tawuran atau perkelahian, melainkan dari kemampuan mengendalikan amarah dan menahan diri dari tindakan kekerasan.
Tanya Jawab Seputar Hadits Tawuran & Kekerasan Remaja
Bagaimana jika tawuran terjadi karena membela kelompok/geng tertentu?
Islam melarang fanatisme golongan (ashabiyah) yang mendorong seseorang membela kelompoknya secara membabi buta tanpa melihat benar atau salah. Rasulullah bersabda, “Bukan termasuk golongan kami orang yang menyeru kepada ashabiyah (fanatisme golongan).” (HR. Abu Dawud no. 5121, dinilai shahih)
Apa solusi Islam untuk mencegah tawuran di kalangan remaja?
Di antaranya dengan membiasakan pengendalian amarah, menjauhi fanatisme kelompok, memperbanyak kegiatan yang bermanfaat untuk mengisi waktu luang (sebagaimana hadits tentang nikmat waktu luang), serta menanamkan bahwa kehormatan sejati diukur dari akhlak, bukan dari keberanian berkelahi.
===
Referensi:
– HR. Bukhari no. 2559 & Muslim no. 2612 (dari Abu Hurairah RA)
– HR. Bukhari no. 48 & Muslim no. 64 (dari Abdullah bin Mas’ud RA)
– HR. Bukhari no. 6114 & Muslim no. 2609 (dari Abu Hurairah RA)
– HR. Abu Dawud no. 5121 (shahih)









