Zuhud sering disalahpahami sebagai keharusan hidup miskin dan menjauhi dunia sepenuhnya. Padahal Rasulullah menjelaskan maknanya secara berbeda. Berikut hadits lengkap dan penjelasannya.
Teks Hadits
ازْهَدْ فِي الدُّنْيَا يُحِبَّكَ اللَّهُ، وَازْهَدْ فِيمَا عِنْدَ النَّاسِ يُحِبَّكَ النَّاسُ
Latin: “Izhad fid dunyaa yuhibbakallaah, wazhad fii maa ‘indan naasi yuhibbakan naas.”
Artinya: “Berzuhudlah terhadap dunia, niscaya Allah akan mencintaimu. Dan berzuhudlah terhadap apa yang dimiliki orang lain, niscaya manusia akan mencintaimu.” (HR. Ibnu Majah no. 4102, dinilai hasan)
Hadits ini disampaikan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kepada Sahl bin Sa’d RA, saat seorang sahabat bertanya amalan apa yang bisa membuatnya dicintai Allah sekaligus dicintai manusia.
Zuhud Bukan Berarti Harus Miskin
Ini adalah kesalahpahaman yang paling umum. Abu Muslim Al-Khaulani, salah seorang ulama tabi’in, menjelaskan makna zuhud: “Zuhud terhadap dunia bukan dengan mengharamkan yang halal atau menyia-nyiakan harta, melainkan engkau lebih yakin terhadap apa yang ada di tangan Allah dibanding apa yang ada di tanganmu sendiri.”
Dengan kata lain, zuhud adalah kondisi hati, bukan jumlah harta. Seseorang yang kaya raya bisa saja zuhud jika hatinya tidak terikat pada hartanya dan siap melepaskannya kapan saja di jalan Allah. Sebaliknya, orang miskin bisa saja tidak zuhud jika hatinya terus-menerus mengejar dan terikat pada dunia.
Dua Dimensi Zuhud dalam Hadits Ini
- Zuhud terhadap dunia — tidak menjadikan harta, jabatan, dan kesenangan duniawi sebagai tujuan hidup utama, melainkan sekadar sarana menuju akhirat. Buahnya: dicintai Allah.
- Zuhud terhadap milik orang lain — tidak iri dan tidak menginginkan apa yang dimiliki orang lain secara berlebihan. Buahnya: dicintai sesama manusia, karena orang yang tidak serakah terhadap hak orang lain akan disenangi dalam pergaulan.
Tanya Jawab Seputar Hadits Zuhud
Apakah seorang pengusaha kaya bisa disebut zuhud?
Bisa, selama kekayaannya diperoleh dan dikelola dengan halal, tidak membuatnya lalai dari ibadah dan kewajiban sosial (zakat, sedekah), serta hatinya tidak terikat berlebihan padanya hingga siap kehilangan hartanya tanpa goncang keimanannya.
Bagaimana cara melatih sikap zuhud sehari-hari?
Di antaranya: membiasakan bersedekah secara rutin, tidak membanding-bandingkan harta dengan orang lain, mengingat bahwa dunia bersifat sementara, dan senantiasa mengutamakan kebutuhan akhirat di atas keinginan duniawi yang berlebihan.
===
Referensi:
– HR. Ibnu Majah no. 4102 (hasan, dari Sahl bin Sa’d RA)
– HR. Tirmidzi no. 2340 (riwayat serupa)









