Panggung Hafiz Indonesia bukan sekadar ajang kompetisi hafalan Al-Qur’an. Selama bertahun-tahun, program unggulan yang menemani jutaan keluarga di bulan suci Ramadhan ini telah menjadi saksi bisu bagaimana kemukjizatan Al-Qur’an bekerja pada anak-anak luar biasa. Di sinilah, air mata haru dan decak kagum bersatu melihat lisan-lisan mungil melantunkan ayat suci dengan presisi yang menggetarkan jiwa.
Tahun 2026 ini, perhatian pemirsa tertuju pada sosok anak laki-laki berusia 8 tahun asal Depok bernama Evano. Di balik senyumnya yang khas, Evano membawa sebuah cerita perjuangan yang tidak biasa: ia didiagnosis mengidap Sindrom Asperger.
Mengenal Sindrom Asperger
Bagi banyak orang, Sindrom Asperger mungkin terdengar asing. Ini adalah bagian dari spektrum autisme yang memengaruhi cara seseorang berinteraksi sosial dan berkomunikasi. Anak dengan Asperger seringkali memiliki dunianya sendiri, kesulitan membaca ekspresi wajah orang lain, atau merasa kewalahan dengan lingkungan yang terlalu bising.
Namun, di balik hambatan interaksi tersebut, mereka seringkali diberkati dengan fokus yang luar biasa tajam dan ingatan jangka panjang yang sangat kuat pada bidang yang mereka cintai. Bagi Evano, bidang itu adalah Al-Qur’an.
Saat “Keterbatasan” Menjadi Kekuatan Spesial
Evano hadir di panggung Hafiz Indonesia 2026 dengan hafalan 6 Juz. Bagi seorang anak dengan Asperger, fokus pada satu hal secara mendalam adalah sebuah “bakat spesial”. Al-Qur’an dengan ritme dan keteraturannya seolah menjadi jangkar bagi dunia Evano yang penuh stimulasi.
Fenomena Evano membuktikan satu janji Allah yang nyata:
وَلَقَدْ يَسَّرْنَا الْقُرْاٰنَ لِلذِّكْرِ فَهَلْ مِنْ مُّدَّكِرٍ
“Dan sungguh, telah Kami mudahkan Al-Qur’an untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran?” (QS. Al-Qamar: 17).
Jika seorang anak yang memiliki tantangan dalam berkomunikasi dan bersosialisasi mampu menjaga 6 juz di dalam kepalanya, maka pesan yang ingin disampaikan sangat jelas: Menghafal Al-Qur’an itu mudah bagi siapa saja yang membuka hatinya. Kekurangan fisik atau saraf bukanlah penghalang, justru seringkali menjadi jalan bagi Allah untuk menunjukkan kebesaran-Nya.
Sebuah Renungan untuk Kita Semua
Melihat Evano berdiri tegak di atas panggung, menjawab tantangan juri dengan tenang, seharusnya menjadi “tamparan” lembut bagi kita yang merasa memiliki kondisi fisik dan mental yang sempurna.
- Seringkali kita beralasan “sibuk” hingga tak sempat menyentuh mushaf.
- Kita sering merasa “sulit menghafal” padahal daya ingat kita digunakan untuk hal-hal duniawi lainnya.
- Kita memiliki lisan yang lancar berkomunikasi, namun jarang digunakan untuk melantunkan ayat-ayat-Nya.
Evano adalah pengingat bahwa Al-Qur’an tidak memilih siapa yang “paling pintar”, melainkan siapa yang “paling rindu”. Ia mengajari kita bahwa di balik setiap diagnosis medis, ada rencana Tuhan yang lebih indah. Ia tidak hanya sedang menghafal Al-Qur’an; ia sedang menjemput mahkota untuk orang tuanya di surga nanti.
Mari kita dukung perjuangan Evano dan para hafiz cilik lainnya. Semoga semangat mereka menular ke rumah-rumah kita, menjadikan Al-Qur’an sebagai sahabat di kala suka maupun duka.









