Qanaah, merasa cukup dan puas atas rezeki pemberian Allah, adalah kunci kebahagiaan yang sering terlupakan di tengah budaya selalu merasa kurang. Berikut hadits lengkap dan penjelasannya.
Teks Hadits
قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وَقَنَّعَهُ اللَّهُ بِمَا آتَاهُ
Latin: “Qad aflaha man aslama, wa ruzika kafaafan, wa qanna’ahullaahu bimaa aataah.”
Artinya: “Sungguh beruntung orang yang telah masuk Islam, diberi rezeki yang cukup (tidak berlebih namun mencukupi kebutuhannya), dan Allah menjadikannya merasa qanaah (puas) dengan apa yang telah diberikan kepadanya.” (HR. Muslim no. 1054, dari Abdullah bin Amr RA)
Makna “Kafaf” dalam Hadits Ini
Kafaf berarti rezeki yang pas/cukup untuk memenuhi kebutuhan, tidak berlebih (kaya raya) dan tidak pula kurang (miskin papa). Hadits ini menegaskan bahwa keberuntungan sejati bukan terletak pada jumlah harta yang banyak, melainkan pada kecukupan rezeki yang disertai rasa puas (qanaah) dalam hati.
Mengapa Qanaah Disebut sebagai Keberuntungan?
Seseorang bisa memiliki harta banyak namun tetap tidak bahagia karena hatinya selalu merasa kurang (tidak qanaah) dan terus memburu lebih banyak lagi. Sebaliknya, seseorang dengan harta pas-pasan bisa hidup bahagia dan tenang karena hatinya qanaah. Inilah sebabnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebut kombinasi “rezeki cukup + hati yang qanaah” sebagai keberuntungan, bukan semata jumlah harta.
Qanaah Bukan Berarti Pasrah Tanpa Usaha
Penting dipahami, qanaah bukan alasan untuk malas bekerja atau tidak berusaha meningkatkan taraf hidup secara halal. Qanaah adalah sikap hati yang menerima dengan lapang hasil dari usaha yang telah dilakukan, bukan pembenaran untuk tidak berikhtiar sama sekali.
Tanya Jawab Seputar Hadits Qanaah
Apakah qanaah berarti tidak boleh bercita-cita menjadi kaya?
Tidak dilarang. Islam tidak melarang seseorang berusaha menjadi kaya secara halal, bahkan harta yang banyak bisa menjadi sarana kebaikan besar (sedekah, wakaf). Yang ditekankan qanaah adalah sikap hati: tidak gelisah berlebihan saat belum kaya, dan tidak sombong/lalai saat sudah kaya.
Bagaimana cara melatih qanaah di tengah gaya hidup konsumtif saat ini?
Di antaranya: membiasakan bersyukur atas apa yang sudah dimiliki, membandingkan diri dengan orang yang kurang beruntung (bukan yang lebih berlebih) agar lebih mudah bersyukur, serta membatasi paparan konten yang memicu gaya hidup konsumtif berlebihan.
===
Referensi:
– HR. Muslim no. 1054 (dari Abdullah bin Amr RA)
– HR. Tirmidzi no. 2373 (riwayat serupa)









