Membaca Surat Al-Kahfi pada hari Jumat adalah salah satu amalan sunnah dengan dasar hadits yang kuat. Berikut penjelasan lengkap keutamaannya.
Teks Hadits Utama
مَنْ قَرَأَ سُورَةَ الْكَهْفِ فِي يَوْمِ الْجُمُعَةِ أَضَاءَ لَهُ مِنَ النُّورِ مَا بَيْنَ الْجُمُعَتَيْنِ
Latin: “Man qara-a suurotal kahfi fii yaumil jumu’ati adhaa-a lahu minan nuuri maa bainal jumu’atain.”
Artinya: “Barangsiapa membaca Surat Al-Kahfi pada hari Jumat, maka akan dipancarkan baginya cahaya di antara dua Jumat (yaitu Jumat tersebut hingga Jumat berikutnya).” (HR. Al-Hakim no. 3392 dan Al-Baihaqi dalam Sunan Al-Kubra no. 5996, dari Abu Sa’id Al-Khudri RA)
Mengenai status hadits ini, Al-Hakim sendiri menegaskan: “Sanad hadits ini shahih, hanya saja Imam Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya.” Syaikh Al-Albani menilainya shahih, dan Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Takhrijul Adzkar menilainya hasan. Dengan demikian, hadits ini cukup kuat untuk diamalkan.
Terhindar dari Fitnah Dajjal
Dari Abu Darda RA, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menghafal sepuluh ayat pertama dari Surat Al-Kahfi, maka ia akan terlindungi dari (fitnah) Dajjal.” (HR. Muslim no. 809)
Dalam riwayat lain disebutkan sepuluh ayat terakhir, menunjukkan keluasan rahmat Allah dalam memberi pilihan cara mengamalkannya. Hadits ini shahih karena diriwayatkan langsung oleh Imam Muslim dalam kitab Shahihnya.
Kandungan Surat Al-Kahfi yang Relevan dengan Ujian Zaman
Surat Al-Kahfi memuat empat kisah besar yang masing-masing menjadi representasi ujian hidup manusia: kisah Ashabul Kahfi (ujian agama/keimanan), kisah pemilik dua kebun (ujian harta), kisah Nabi Musa dan Khidir (ujian ilmu), serta kisah Dzulqarnain (ujian kekuasaan). Inilah salah satu alasan surat ini dianggap relevan sebagai pelindung dari berbagai fitnah kehidupan, termasuk fitnah Dajjal yang akan menguji keempat aspek tersebut secara ekstrem.
Tanya Jawab Seputar Keutamaan Surat Al-Kahfi di Hari Jumat
Apakah harus membaca Al-Kahfi secara penuh, atau cukup sebagian ayat saja?
Hadits tentang “cahaya di antara dua Jumat” menyebutkan membaca surat secara umum tanpa merinci jumlah ayat, sehingga membaca secara penuh tentu lebih utama. Namun jika keterbatasan waktu, menghafal atau membaca 10 ayat pertama/terakhir saja sudah memiliki keutamaan tersendiri (perlindungan dari fitnah Dajjal) berdasarkan hadits shahih riwayat Muslim di atas.
Apakah waktu membacanya harus tepat hari Jumat, atau boleh malam Jumat (Kamis malam)?
Dalam penanggalan Islam, malam hari (setelah Maghrib) sudah termasuk hari berikutnya, sehingga malam Jumat (yang dalam penanggalan umum disebut Kamis malam) sudah termasuk bagian dari “hari Jumat” secara syar’i. Karena itu, membaca Al-Kahfi bisa dimulai sejak Maghrib Kamis hingga terbenamnya matahari pada hari Jumat.
===
Referensi:
– HR. Al-Hakim no. 3392 & Al-Baihaqi no. 5996 (shahih, dari Abu Sa’id Al-Khudri RA)
– HR. Muslim no. 809 (dari Abu Darda RA)









