Lisan adalah anggota tubuh kecil yang dampaknya bisa sangat besar — bisa mengantarkan ke surga maupun neraka. Berikut hadits-hadits shahih tentang pentingnya menjaga lisan.
1. Berkata Baik atau Diam
مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ
Latin: “Man kaana yu’minu billaahi wal yawmil aakhiri falyaqul khairan aw liyashmut.”
Artinya: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau (jika tidak bisa) diam.” (HR. Bukhari no. 6018 dan Muslim no. 47, dari Abu Hurairah RA)
Hadits ini menjadikan kualitas ucapan sebagai salah satu tanda keimanan seseorang. Jika tidak yakin suatu ucapan membawa kebaikan, pilihan paling aman adalah diam.
2. Lisan sebagai Penentu Selamat atau Celakanya Seseorang
Dari Mu’adz bin Jabal RA, ketika bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam apa yang paling banyak memasukkan manusia ke neraka, beliau menjawab, sambil memegang lisannya sendiri: “Tahanlah ini (lisanmu).” Mu’adz bertanya, “Apakah kita akan disiksa karena perkataan kita?” Rasulullah menjawab, “Bukankah manusia tersungkur ke dalam neraka di atas wajah-wajah mereka (atau hidung mereka) melainkan akibat lisan mereka?” (HR. Tirmidzi no. 2616, dinilai shahih)
3. Larangan Mencaci Sesama Muslim
Dari Abdullah bin Mas’ud RA, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Mencaci seorang muslim adalah kefasikan, dan memeranginya adalah kekufuran.” (HR. Bukhari no. 48 dan Muslim no. 64)
Hadits ini menegaskan beratnya dosa mencaci-maki sesama muslim — disejajarkan dengan kefasikan (keluar dari ketaatan), meski tidak sampai pada taraf kekufuran sebagaimana memerangi sesama muslim secara fisik.
4. Jaminan Surga bagi yang Menjaga Lisan dan Kemaluan
Dari Sahl bin Sa’d RA, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menjamin untukku (menjaga) apa yang ada di antara dua rahangnya (lisannya) dan apa yang ada di antara dua kakinya (kemaluannya), maka aku jamin surga baginya.” (HR. Bukhari no. 6474)
Tanya Jawab Seputar Hadits Menjaga Lisan
Apakah bercanda termasuk ucapan yang harus dihindari?
Tidak, selama candaan tersebut jujur (tidak berisi kebohongan), tidak menyakiti/merendahkan orang lain, dan tidak berlebihan hingga melalaikan dari hal-hal penting. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri sesekali bercanda dengan para sahabat.
Bagaimana jika sudah terlanjur mengucapkan perkataan buruk?
Segera beristighfar dan bertaubat, serta jika ucapan tersebut menyakiti/merugikan orang lain (seperti ghibah atau fitnah), dianjurkan untuk meminta maaf kepada yang bersangkutan sebagai bagian dari taubat yang sempurna.
===
Referensi:
– HR. Bukhari no. 6018 & Muslim no. 47 (dari Abu Hurairah RA)
– HR. Tirmidzi no. 2616 (shahih, dari Mu’adz bin Jabal RA)
– HR. Bukhari no. 48 & Muslim no. 64 (dari Abdullah bin Mas’ud RA)
– HR. Bukhari no. 6474 (dari Sahl bin Sa’d RA)









