Malu (haya) dalam Islam bukanlah sifat yang membuat seseorang minder atau pasif, melainkan akhlak mulia yang menjadi cabang keimanan. Berikut hadits-hadits tentang keutamaan rasa malu dalam Islam.
Teks Hadits Utama: Malu adalah Bagian dari Iman
الْإِيمَانُ بِضْعٌ وَسِتُّونَ شُعْبَةً وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ
Latin: “Al-iimaanu bidh’un wa sittuuna syu’bah, wal hayaa-u syu’batun minal iimaan.”
Artinya: “Iman itu memiliki enam puluh sekian cabang, dan malu adalah salah satu cabang dari iman.” (HR. Bukhari no. 9 dan Muslim no. 35, dari Abu Hurairah RA)
Malu Tidak Mendatangkan Kecuali Kebaikan
Dari Imran bin Hushain RA, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Malu itu tidak mendatangkan kecuali kebaikan.” (HR. Bukhari no. 6117 dan Muslim no. 37)
Dalam riwayat ini, seorang sahabat bernama Busyair bin Ka’ab sempat berkomentar bahwa di sebagian kitab hikmah disebutkan “sebagian dari malu ada ketenangan dan sebagian lagi ada kewibawaan”, namun Imran bin Hushain menegaskan kembali bahwa beliau sedang menyampaikan sabda Rasulullah secara langsung, bukan sekadar perkataan hikmah — menunjukkan derajat hadits ini sebagai sabda Nabi yang otentik, bukan kata mutiara biasa.
Perintah untuk Benar-Benar Malu kepada Allah
Dari Abdullah bin Mas’ud RA, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Malulah kalian kepada Allah dengan sebenar-benarnya malu.” Para sahabat menjawab, “Kami sudah malu kepada Allah, segala puji bagi Allah.” Beliau bersabda, “Bukan itu yang dimaksud, tetapi malu yang sebenarnya kepada Allah adalah dengan menjaga kepala dan apa yang dipikirkannya, menjaga perut dan apa yang dikandungnya, serta mengingat kematian dan kehancuran (kubur)…” (HR. Tirmidzi no. 2458, dinilai hasan gharib)
Hadits ini menunjukkan bahwa malu yang hakiki bukan sekadar perasaan sungkan secara sosial, melainkan kesadaran penuh untuk menjaga seluruh anggota tubuh dan pikiran dari hal-hal yang dimurkai Allah, serta selalu ingat bahwa dunia ini sementara.
Tanya Jawab Seputar Hadits Malu
Apakah rasa malu bisa menghalangi seseorang untuk menuntut ilmu agama?
Tidak boleh. Malu yang terpuji adalah malu untuk berbuat maksiat, bukan malu untuk bertanya atau belajar agama. Ummu Sulaim RA pernah berkata kepada Nabi, “Allah tidak malu untuk menyatakan kebenaran”, lalu beliau bertanya tentang hukum mimpi basah pada wanita (HR. Bukhari no. 130 dan Muslim no. 313) — menunjukkan bahwa malu tidak boleh menghalangi seseorang mencari ilmu yang dibutuhkan.
Apa beda malu yang terpuji dan malu yang membuat seseorang lemah/minder?
Malu yang terpuji (haya) adalah pengendalian diri dari perbuatan tercela karena kesadaran diawasi Allah, dan tetap mendorong seseorang berbuat kebaikan secara aktif. Sementara sifat minder, takut tampil, atau enggan menyampaikan kebenaran karena rasa rendah diri bukan termasuk malu yang dipuji dalam Islam, melainkan kelemahan mental yang justru perlu diatasi.
===
Referensi:
– HR. Bukhari no. 9 & Muslim no. 35 (dari Abu Hurairah RA)
– HR. Bukhari no. 6117 & Muslim no. 37 (dari Imran bin Hushain RA)
– HR. Tirmidzi no. 2458 (hasan gharib, dari Abdullah bin Mas’ud RA)
– HR. Bukhari no. 130 & Muslim no. 313 (dari Ummu Sulaim RA)









