Di penghujung Surat Al-Furqan, Allah Ta’ala menggambarkan sosok ideal seorang hamba melalui serangkaian ayat yang sangat indah, dikenal dengan sebutan “Ibadur Rahman” — hamba-hamba Ar-Rahman (Yang Maha Penyayang). Istilah ini diambil langsung dari ayat pembukanya:
وَعِبَادُ الرَّحْمٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا وَإِذَا خَاطَبَهُمُ الْجَاهِلُونَ قَالُوا سَلَامًا
“Dan hamba-hamba Ar-Rahman (Yang Maha Penyayang) itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang bodoh menyapa mereka (dengan kata-kata yang menghina), mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. Al-Furqan: 63)
Dari ayat 63 hingga 77 ini, Allah menyebutkan secara berurutan sebelas sifat yang menjadi ciri khas hamba-hamba pilihan-Nya. Memahaminya dapat menjadi cermin untuk menilai sejauh mana seorang muslim telah mendekati gambaran ideal ini.
1. Tawadhu, Rendah Hati dalam Berjalan dan Bersikap
Sifat pertama disebutkan pada ayat 63 di atas: berjalan di bumi dengan “hawnan” — tenang, wajar, tanpa kesombongan, tanpa kepongahan. Ini bukan berarti berjalan dengan lemah atau lesu, melainkan menggambarkan sikap batin yang rendah hati, yang tercermin dalam cara seseorang membawa diri di hadapan manusia.
2. Membalas Perkataan Buruk dengan Perkataan yang Baik
Masih pada ayat 63, disebutkan bahwa ketika orang-orang jahil (bodoh atau kasar) menyapa mereka dengan kata-kata yang menyakitkan, hamba Ar-Rahman tidak membalas dengan keburukan serupa, tetapi mengucapkan “salaman” — kata-kata yang membawa kedamaian dan keselamatan. Ini adalah bentuk kesabaran dan pengendalian diri tingkat tinggi.
3. Menghidupkan Malam dengan Shalat
Allah berfirman pada ayat selanjutnya:
وَالَّذِينَ يَبِيتُونَ لِرَبِّهِمْ سُجَّدًا وَقِيَامًا
“Dan orang-orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri (shalat) untuk Tuhan mereka.” (QS. Al-Furqan: 64)
Sifat ini menggambarkan kedekatan ibadah yang melebihi kewajiban minimal, yaitu kebiasaan menghidupkan sebagian malam dengan shalat tahajud dan sujud, sebagai bentuk kerinduan khusus kepada Allah di waktu yang sunyi.
4. Senantiasa Takut akan Azab Allah
Pada ayat 65-66, digambarkan doa mereka yang penuh kesadaran dan ketakutan akan azab:
رَبَّنَا اصْرِفْ عَنَّا عَذَابَ جَهَنَّمَ ۖ إِنَّ عَذَابَهَا كَانَ غَرَامًا
“(Mereka berdoa), ‘Ya Tuhan kami, jauhkanlah azab Jahanam dari kami, sesungguhnya azabnya itu adalah kebinasaan yang kekal.'” (QS. Al-Furqan: 65)
Meski rajin beribadah, hamba Ar-Rahman tidak merasa aman atau sombong dengan amalnya, melainkan tetap merasa khawatir dan terus memohon keselamatan dari azab Allah.
5. Pertengahan dalam Berinfak, Tidak Boros dan Tidak Kikir
Allah berfirman pada ayat 67:
وَالَّذِينَ إِذَا أَنفَقُوا لَمْ يُسْرِفُوا وَلَمْ يَقْتُرُوا وَكَانَ بَيْنَ ذٰلِكَ قَوَامًا
“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian.” (QS. Al-Furqan: 67)
Sifat ini mengajarkan keseimbangan dalam mengelola harta: tidak boros hingga menyia-nyiakan, dan tidak pula kikir hingga menahan hak yang semestinya dikeluarkan.
6-8. Menjauhi Syirik, Pembunuhan, dan Zina
Tiga larangan besar disebutkan sekaligus pada ayat 68:
وَالَّذِينَ لَا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلٰهًا آخَرَ وَلَا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلَّا بِالْحَقِّ وَلَا يَزْنُونَ
“Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan selain Allah, dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina.” (QS. Al-Furqan: 68)
Tiga larangan ini — syirik, membunuh tanpa hak, dan zina — disebutkan berurutan karena ketiganya termasuk dosa-dosa besar yang paling merusak: merusak hubungan dengan Allah, merusak nyawa manusia, dan merusak kehormatan serta nasab (garis keturunan).
Ayat-ayat setelahnya (69-71) menjelaskan bahwa siapa pun yang pernah terjerumus pada dosa-dosa ini, pintu taubat tetap terbuka selama ia bertaubat dengan sungguh-sungguh, beriman, dan memperbaiki amalnya — menunjukkan bahwa penyebutan sifat Ibadur Rahman bukan untuk menutup harapan bagi yang pernah bersalah, melainkan mengajak mereka kembali ke jalan yang benar.
9. Menjauhi Kesaksian Dusta dan Perkataan/Perbuatan Sia-sia
Pada ayat 72, Allah menyebutkan:
وَالَّذِينَ لَا يَشْهَدُونَ الزُّورَ وَإِذَا مَرُّوا بِاللَّغْوِ مَرُّوا كِرَامًا
“Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu, dan apabila mereka bertemu dengan (orang-orang yang mengerjakan) perbuatan yang tidak berfaedah (sia-sia), mereka lewat dengan menjaga kehormatan diri.” (QS. Al-Furqan: 72)
Sebagian ulama tafsir memaknai “az-zur” di sini secara lebih luas mencakup segala bentuk kedustaan dan kebatilan, termasuk majelis-majelis yang dipenuhi kesia-siaan, yang mereka hindari atau lalui begitu saja tanpa terlibat.
10. Terbuka terhadap Nasihat dan Peringatan Allah
Ayat 73 menggambarkan respons mereka terhadap ayat-ayat Allah:
وَالَّذِينَ إِذَا ذُكِّرُوا بِآيَاتِ رَبِّهِمْ لَمْ يَخِرُّوا عَلَيْهَا صُمًّا وَعُمْيَانًا
“Dan orang-orang yang apabila diberi peringatan dengan ayat-ayat Tuhan mereka, mereka tidaklah menjatuhkan diri (berpura-pura tidak mendengar dan melihatnya) sebagai orang-orang yang tuli dan buta.” (QS. Al-Furqan: 73)
Ini menggambarkan hati yang hidup dan terbuka, yang benar-benar merespons dan meresapi setiap nasihat dan peringatan, bukan hati yang keras dan menutup diri dari kebenaran.
11. Berdoa untuk Keluarga dan Mencita-citakan Kepemimpinan dalam Ketakwaan
Sifat terakhir yang disebutkan pada ayat 74 adalah doa yang sangat terkenal:
رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَامًا
“Dan orang-orang yang berkata, ‘Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimpin bagi orang-orang yang bertakwa.'” (QS. Al-Furqan: 74)
Doa ini menunjukkan bahwa kesalehan seorang hamba Ar-Rahman tidak berhenti pada dirinya sendiri, tetapi juga merambah pada harapan agar keluarganya menjadi sumber kebahagiaan dalam ketaatan, bahkan bercita-cita menjadi teladan kebaikan bagi orang-orang bertakwa lainnya.
Balasan bagi Ibadur Rahman
Setelah menyebutkan sebelas sifat tersebut, Allah menutup rangkaian ayat ini dengan balasan yang akan diterima oleh para hamba Ar-Rahman:
أُولٰئِكَ يُجْزَوْنَ الْغُرْفَةَ بِمَا صَبَرُوا وَيُلَقَّوْنَ فِيهَا تَحِيَّةً وَسَلَامًا
“Mereka itulah orang yang dibalas dengan martabat yang tinggi (dalam syurga) karena kesabaran mereka, dan mereka disambut dengan penghormatan dan ucapan selamat di dalamnya.” (QS. Al-Furqan: 75)
Balasan ini menegaskan bahwa seluruh sifat yang disebutkan — dari rendah hati, sabar, menjauhi dosa besar, hingga kepedulian terhadap keluarga dan ketakwaan — pada hakikatnya adalah bentuk kesabaran yang panjang dalam menjalankan ketaatan, dan kesabaran itulah yang diganjar dengan kedudukan mulia di surga.
Tanya Jawab Seputar Ibadur Rahman
Apakah seseorang harus memiliki semua sebelas sifat ini untuk disebut Ibadur Rahman?
Ayat-ayat ini menggambarkan sosok ideal yang sepatutnya terus diusahakan dan didekati oleh setiap muslim, bukan standar yang hanya bisa dicapai secara sempurna oleh segelintir orang. Setiap muslim dianjurkan untuk mengevaluasi diri terhadap masing-masing sifat ini dan terus berusaha memperbaikinya, sembari menyadari bahwa manusia tidak lepas dari kekurangan dan tetap membutuhkan taubat.
Mengapa dosa syirik, membunuh, dan zina disebutkan bersamaan dalam satu ayat?
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa ketiganya mewakili tiga jenis kerusakan paling fundamental: kerusakan akidah (syirik), kerusakan terhadap nyawa manusia (pembunuhan), dan kerusakan terhadap kehormatan serta garis keturunan (zina). Disebutkan secara berurutan untuk menegaskan bahwa hamba Ar-Rahman menjaga diri dari pelanggaran paling mendasar di tiga ranah tersebut.
Apa makna “menjadi pemimpin bagi orang-orang bertakwa” dalam doa di ayat 74?
Sebagian ulama tafsir memaknainya bukan sekadar kepemimpinan formal atau jabatan, tetapi cita-cita untuk menjadi teladan kebaikan yang diikuti oleh orang-orang bertakwa lainnya, lahir dari kesalehan pribadi dan keluarga yang terus diperjuangkan.
Kesimpulan
Sebutan “Ibadur Rahman” dalam Surat Al-Furqan menggambarkan potret lengkap seorang hamba yang dicintai Allah: rendah hati dalam bersikap, santun dalam ucapan, tekun dalam ibadah malam, senantiasa takut akan azab-Nya, seimbang dalam mengelola harta, menjaga diri dari dosa-dosa besar, jujur dalam kesaksian, terbuka terhadap nasihat, dan peduli terhadap kesalehan keluarganya. Sebelas sifat ini bukan sekadar daftar kebaikan, melainkan cermin untuk introspeksi diri, agar setiap muslim terus berusaha mendekati gambaran mulia yang Allah janjikan dengan balasan kedudukan tinggi di surga.









