Memuliakan guru dan orang berilmu adalah akhlak mulia yang sangat ditekankan dalam Islam, mengingat kedudukan mereka sebagai pewaris para nabi. Berikut dalil-dalil lengkap keutamaannya.
Teks Hadits Utama: Ulama adalah Pewaris Para Nabi
Dari Abu Darda RA, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar ataupun dirham. Yang mereka wariskan hanyalah ilmu. Maka barangsiapa mengambil ilmu tersebut, sungguh ia telah mengambil bagian yang sangat banyak.” (HR. Abu Dawud no. 3641 dan Tirmidzi no. 2682, dishahihkan Al-Albani dalam Shahih At-Targhib no. 70)
Perintah untuk Mengagungkan Guru
Imam Al-Ghazali dalam karyanya menegaskan bahwa seorang murid tidak akan memperoleh ilmu dan keberkahannya kecuali dengan menghormati ilmu itu sendiri serta orang yang memilikinya (guru). Para ulama terdahulu dikenal sangat memuliakan guru mereka sebagaimana seorang hamba memuliakan junjungannya, sebagai wujud penghormatan terhadap ilmu yang diajarkan dan jerih payah dalam menyampaikannya.
Jalan Menuju Surga
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim no. 2699). Hadits ini menegaskan bahwa menghormati proses mencari ilmu, termasuk menghormati gurunya, adalah bagian dari jalan menuju kemuliaan di sisi Allah.
Tanya Jawab Seputar Adab kepada Guru
Apa saja bentuk adab yang dianjurkan terhadap guru?
Di antaranya: mendengarkan dengan sungguh-sungguh saat diajar, tidak memotong pembicaraan guru tanpa keperluan, bersikap rendah hati dan tidak merasa lebih tahu, mendoakan kebaikan bagi guru, serta tetap menjaga kesopanan dalam berkomunikasi baik secara langsung maupun melalui media apa pun.
Bagaimana jika seorang guru melakukan kesalahan atau memiliki kekurangan?
Menghormati guru bukan berarti menganggapnya maksum (bebas dari kesalahan). Seorang murid tetap boleh mengoreksi kekeliruan dengan cara yang santun dan penuh adab, serta tetap merujuk pada dalil yang benar jika terdapat perbedaan pendapat, tanpa harus merendahkan atau menghina pribadi gurunya sebagai individu.
===
Referensi:
– HR. Abu Dawud no. 3641 & Tirmidzi no. 2682 (shahih menurut Al-Albani, dari Abu Darda RA)
– HR. Muslim no. 2699 (dari Abu Hurairah RA)









