Sehat dan waktu luang adalah dua nikmat yang sering kali tidak disyukuri dengan sebenar-benarnya hingga keduanya hilang. Berikut hadits Rasulullah tentang dua nikmat ini.
Teks Hadits Utama
نِعْمَتَانِ مَغْبُونٌ فِيهِمَا كَثِيرٌ مِنَ النَّاسِ: الصِّحَّةُ وَالْفَرَاغُ
Latin: “Ni’mataani maghbuunun fiihimaa katsiirun minan naas: ash-shihhatu wal faraagh.”
Artinya: “Ada dua kenikmatan yang kebanyakan manusia tertipu padanya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.” (HR. Bukhari no. 6412, dari Ibnu Abbas RA)
Kata “tertipu” (maghbun) dalam hadits ini menggambarkan orang yang menukar sesuatu yang sangat berharga dengan sesuatu yang kurang berharga, tanpa disadari. Banyak orang baru menyadari betapa berharganya kesehatan dan waktu luang setelah keduanya hilang — ketika sakit atau ketika kesibukan menumpuk.
Manfaatkan Lima Perkara Sebelum Datang Lima Perkara
Dari Ibnu Abbas RA, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Manfaatkanlah lima perkara sebelum datang lima perkara: masa mudamu sebelum masa tuamu, waktu sehatmu sebelum waktu sakitmu, masa kayamu sebelum masa miskinmu, waktu luangmu sebelum waktu sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu.” (HR. Al-Hakim, dinilai shahih oleh Al-Albani)
Setiap Manusia akan Ditanya tentang Umurnya
Dari Abu Barzah Al-Aslami RA, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Tidak akan bergeser kedua kaki seorang hamba pada hari kiamat hingga ia ditanya tentang umurnya, untuk apa dihabiskan…” (HR. Tirmidzi no. 2417, dinilai hasan shahih)
Hadits ini menegaskan bahwa waktu luang dan kesehatan bukan sekadar nikmat untuk dinikmati, melainkan juga amanah yang akan dipertanggungjawabkan kelak — digunakan untuk apa dan bagaimana caranya.
Tanya Jawab Seputar Hadits Nikmat Sehat & Waktu
Apa maksud “tertipu” dalam hadits tentang sehat dan waktu luang?
Maksudnya adalah lalai memanfaatkan kedua nikmat tersebut untuk ketaatan dan kebaikan, padahal keduanya sangat berharga dan tidak akan selamanya dimiliki. Orang yang sehat dan punya waktu luang namun menghabiskannya untuk hal sia-sia, pada hakikatnya sedang “merugi” tanpa disadari.
Apakah hadits ini melarang beristirahat atau bersantai?
Tidak. Islam tetap menganjurkan keseimbangan antara bekerja, beribadah, dan beristirahat. Yang dicela adalah menghabiskan seluruh waktu luang untuk hal yang tidak bermanfaat sama sekali, bukan mengambil waktu istirahat yang wajar dan diperlukan tubuh.
===
Referensi:
– HR. Bukhari no. 6412 (dari Ibnu Abbas RA)
– HR. Al-Hakim (shahih menurut Al-Albani, dari Ibnu Abbas RA)
– HR. Tirmidzi no. 2417 (hasan shahih, dari Abu Barzah Al-Aslami RA)









