Berburuk sangka (su’udzan) kepada sesama muslim adalah perbuatan yang dilarang keras, bahkan disebut sebagai ucapan paling dusta. Berikut dalil Al-Qur’an dan hadits tentang larangan prasangka buruk.
Dalil Al-Qur’an
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اجْتَنِبُوا كَثِيرًا مِنَ الظَّنِّ إِنَّ بَعْضَ الظَّنِّ إِثْمٌ
Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, jauhilah banyak dari prasangka. Sesungguhnya sebagian prasangka itu adalah dosa…” (QS. Al-Hujurat: 12)
Dalil Hadits
إِيَّاكُمْ وَالظَّنَّ فَإِنَّ الظَّنَّ أَكْذَبُ الْحَدِيثِ
Latin: “Iyyaakum wazh zhanna fa innazh zhanna akdzabul hadiits.”
Artinya: “Hindarilah prasangka, karena prasangka adalah sedusta-dusta perkataan.” (HR. Bukhari no. 6064 dan Muslim no. 2563, dari Abu Hurairah RA)
Dalam hadits yang sama, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melanjutkan: “Dan janganlah kalian saling mencari-cari kesalahan, saling memata-matai, saling bersaing secara tidak sehat, saling mendengki, saling membenci, dan saling membelakangi. Jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara.”
Mengapa Prasangka Disebut “Sedusta-dusta Perkataan”?
Prasangka buruk pada dasarnya hanyalah dugaan di dalam hati tanpa bukti nyata, namun sering kali diperlakukan seolah-olah fakta. Seseorang bisa menuduh, menjauhi, atau bersikap buruk kepada orang lain hanya berdasarkan “perasaan curiga” semata, padahal kebenarannya belum tentu demikian — inilah mengapa prasangka disebut sebagai bentuk kedustaan yang paling berbahaya, karena ia meyakini sesuatu yang belum tentu benar sebagai kebenaran.
Prasangka Buruk yang Dikecualikan
Para ulama menjelaskan bahwa larangan ini berlaku untuk prasangka buruk terhadap sesama muslim yang secara umum dikenal baik, tanpa bukti/indikasi yang kuat. Kewaspadaan yang didasari bukti nyata atau kebutuhan untuk melindungi diri/keluarga dari potensi bahaya (misalnya kehati-hatian terhadap orang asing yang mencurigakan secara nyata) bukan termasuk su’udzan yang dilarang, melainkan bagian dari kewaspadaan yang wajar.
Tanya Jawab Seputar Hadits Prasangka Buruk
Bagaimana jika prasangka buruk hanya muncul di hati tanpa diucapkan atau ditindaklanjuti?
Lintasan pikiran buruk yang muncul sekilas tanpa sengaja dan segera ditepis tidak berdosa, karena di luar kendali penuh manusia. Yang dilarang adalah membiarkan, meyakini, dan menindaklanjuti prasangka tersebut (misalnya menjauhi atau menuduh seseorang berdasarkan dugaan semata).
Apa lawan dari su’udzan yang dianjurkan Islam?
Husnudzan (berbaik sangka), yaitu sikap mengambil kemungkinan terbaik dari suatu situasi atau tindakan orang lain selama belum ada bukti yang menunjukkan sebaliknya, serta berbaik sangka kepada Allah atas segala ketetapan-Nya.
===
Referensi:
– QS. Al-Hujurat: 12
– HR. Bukhari no. 6064 & Muslim no. 2563 (dari Abu Hurairah RA)









