Tafakur, merenungkan ciptaan Allah, adalah amalan hati yang mengantarkan pada keimanan yang lebih dalam. Berikut dalil Al-Qur’an dan hadits tentang tafakur beserta penjelasannya.
Dalil Al-Qur’an
Allah SWT berfirman: “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berakal (ulul albab), (yaitu) orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), ‘Ya Tuhan kami, tidaklah Engkau menciptakan semua ini sia-sia…'” (QS. Ali Imran: 190-191)
Hadits: Rasulullah Menangis Merenungkan Ayat Ini
Dari Ibnu Abbas RA, diriwayatkan bahwa pada suatu malam Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bangun untuk shalat malam hingga menjelang Subuh sambil menangis. Ketika ditanya sebabnya, beliau membacakan QS. Ali Imran ayat 190 di atas, lalu bersabda: “Celakalah bagi orang yang membaca ayat ini namun tidak merenungkannya (tidak bertafakur dengannya).” (HR. Ibnu Hibban, dinilai shahih)
Hadits ini menunjukkan bahwa tafakur bukan sekadar membaca ayat-ayat tentang ciptaan Allah secara lisan, melainkan benar-benar merenungkannya hingga menggetarkan hati dan menguatkan keimanan.
Batasan Tafakur: Merenungkan Ciptaan, Bukan Dzat Allah
Dari sebuah riwayat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Berpikirlah (bertafakurlah) tentang ciptaan Allah, dan janganlah berpikir tentang Dzat Allah.” Hadits ini menjadi batasan penting: objek tafakur yang dianjurkan adalah ciptaan Allah (alam semesta, makhluk hidup, diri sendiri) yang bisa dijangkau akal manusia, bukan Dzat Allah yang berada di luar jangkauan akal dan panca indera manusia, agar seseorang tidak tersesat dalam pemikiran yang keliru tentang hakikat Allah.
Objek-Objek Tafakur
- Alam semesta — langit, bumi, pergantian siang-malam, sebagaimana disebutkan dalam QS. Ali Imran: 190-191.
- Penciptaan diri sendiri — proses kejadian manusia, organ tubuh yang kompleks dan sempurna.
- Kematian dan akhirat — merenungkan kefanaan dunia dan kepastian hari pembalasan.
- Nikmat-nikmat Allah — merenungkan betapa banyak karunia yang diterima tanpa diminta.
Tanya Jawab Seputar Hadits Tafakur
Benarkah ada hadits “berpikir sesaat lebih baik dari ibadah 60 tahun”?
Ungkapan “fikratu saa’atin khairun min ‘ibadati sittiina sanah” (berpikir sesaat lebih baik dari ibadah 60 tahun) beredar luas, namun statusnya adalah atsar (perkataan yang dinisbatkan, bukan hadits marfu’ langsung dari Nabi dengan sanad yang jelas ke beliau) yang diperselisihkan ulama. Lebih aman merujuk pada hadits riwayat Ibnu Hibban di atas yang jelas berasal dari perbuatan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sendiri.
Bagaimana cara memulai kebiasaan tafakur?
Bisa dimulai dengan menyediakan waktu khusus (misalnya setelah shalat malam atau saat melihat pemandangan alam) untuk merenungkan satu ayat Al-Qur’an tentang ciptaan Allah, memperhatikan detail kecil dalam diri sendiri atau lingkungan sekitar yang menunjukkan kebesaran Sang Pencipta, dan menjauhkan diri sejenak dari gangguan gawai agar hati lebih fokus merenung.
===
Referensi:
– QS. Ali Imran: 190-191
– HR. Ibnu Hibban (shahih, dari Ibnu Abbas RA)









