Tawadhu (rendah hati) adalah akhlak mulia yang sangat dicintai Allah, dan bukanlah tanda kelemahan melainkan kekuatan jiwa. Berikut dalil-dalil keutamaannya.
Teks Hadits Utama
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sedekah tidaklah mengurangi harta. Tidaklah seseorang memberi maaf melainkan Allah akan menambah kemuliaannya. Dan tidaklah seseorang bertawadhu (rendah hati) karena Allah, melainkan Allah akan mengangkat derajatnya.” (HR. Muslim no. 2588)
Dalil Al-Qur’an: Ciri Hamba Allah yang Baik
وَعِبَادُ الرَّحْمَٰنِ الَّذِينَ يَمْشُونَ عَلَى الْأَرْضِ هَوْنًا
Artinya: “Dan hamba-hamba Allah Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati…” (QS. Al-Furqan: 63)
Keteladanan Rasulullah
Dari Anas bin Malik RA, ia berkata: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah berjalan melewati anak-anak, lalu beliau mengucapkan salam kepada mereka.” (HR. Bukhari no. 6247). Hadits ini menggambarkan betapa Rasulullah, sebagai manusia paling mulia, tetap bersikap rendah hati bahkan kepada anak-anak kecil sekalipun.
Tanya Jawab Seputar Keutamaan Tawadhu
Apa beda tawadhu dengan rendah diri (minder)?
Tawadhu adalah sikap mengakui bahwa segala kelebihan yang dimiliki semata-mata karunia Allah, sehingga tidak memandang rendah orang lain, sambil tetap memiliki keyakinan dan kepercayaan diri yang sehat sebagai hamba Allah. Rendah diri (minder) justru bisa menjadi bentuk lain dari fokus berlebihan pada diri sendiri, berbeda dengan tawadhu yang berorientasi pada pengagungan Allah.
Apakah tawadhu berarti tidak boleh percaya diri dalam berprestasi?
Tidak. Seseorang tetap boleh dan dianjurkan untuk berusaha maksimal serta bersyukur atas pencapaiannya, selama ia tidak menyombongkan diri atau merendahkan orang lain karena pencapaian tersebut, dan tetap menyadari bahwa semua itu adalah karunia dari Allah semata.
===
Referensi:
– HR. Muslim no. 2588 (dari Abu Hurairah RA)
– QS. Al-Furqan: 63
– HR. Bukhari no. 6247 (dari Anas bin Malik RA)









