Di tengah arus zaman yang semakin jauh dari nilai-nilai agama, seorang muslim yang teguh memegang ajaran Islam terkadang merasa sendirian, bahkan dipandang aneh oleh lingkungan sekitarnya. Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah menggambarkan kondisi ini sejak lebih dari 14 abad yang lalu melalui sebuah hadits yang menjadi penghibur sekaligus motivasi bagi mereka yang istiqamah di jalan kebenaran.
Teks Hadits
بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا وَسَيَعُودُ كَمَا بَدَأَ غَرِيبًا، فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ
“Islam bermula dalam keadaan asing, dan akan kembali asing sebagaimana ia bermula. Maka beruntunglah orang-orang yang asing itu.” (HR. Muslim no. 145, dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Makna “Asing” dalam Hadits Ini
Para ulama menjelaskan makna “gharib” (asing) dalam konteks hadits ini dengan beberapa penjelasan yang saling melengkapi:
- Imam An-Nawawi menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah sedikitnya jumlah pemeluk Islam yang sesungguhnya di awal dakwah Nabi, dan kondisi serupa akan terulang di akhir zaman, ketika orang-orang yang benar-benar berpegang teguh pada ajaran Islam yang murni menjadi minoritas di tengah mayoritas yang jauh dari petunjuk.
- Imam Al-Auza’i menjelaskan bahwa ghuraba’ adalah orang-orang saleh yang jumlahnya sedikit di tengah banyaknya orang yang berbuat kerusakan pada zamannya.
- Ibnu Rajab Al-Hanbali menegaskan bahwa ghuraba’ adalah mereka yang berusaha memperbaiki apa yang telah dirusak oleh manusia dari sunnah Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, meski harus menanggung berbagai bentuk pengasingan sosial karenanya.
Dari penjelasan ini, dapat dipahami bahwa “asing” dalam hadits ini bukan dalam pengertian geografis (tinggal jauh dari kampung halaman), melainkan asing secara sosial dan spiritual: menjadi minoritas yang teguh berpegang pada kebenaran di tengah mayoritas yang menyimpang, sehingga seringkali dipandang berbeda, aneh, atau bahkan “kuno” oleh lingkungan sekitarnya.
Ciri-Ciri Ghuraba (Orang-Orang Asing yang Beruntung)
Dalam riwayat lain, para sahabat bertanya kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, siapakah sebenarnya yang dimaksud dengan ghuraba’ ini. Nabi menjawab:
“Mereka adalah orang-orang yang melakukan perbaikan ketika manusia telah rusak.” (HR. Ahmad, dinilai hasan oleh sebagian ulama hadits)
Berdasarkan penjelasan para ulama, beberapa ciri yang melekat pada golongan ghuraba’ ini antara lain:
- Tetap istiqamah menjalankan sunnah Nabi meski jarang (atau bahkan tidak) diikuti oleh orang-orang di sekitarnya.
- Berusaha memperbaiki diri dan lingkungannya dari kerusakan moral dan penyimpangan agama, meski menghadapi tantangan dan ejekan.
- Tidak terpengaruh oleh pandangan mayoritas yang menyimpang dari kebenaran, tetap teguh pada prinsip yang benar meski harus berbeda sendiri.
- Tetap bersabar dan tidak mudah berputus asa meski merasa “sendirian” dalam memperjuangkan kebaikan.
Mengapa Mereka Disebut “Beruntung”?
Kata “thuba” dalam hadits ini diterjemahkan sebagai “beruntung” atau “berbahagia,” dan sebagian ulama tafsir bahkan menafsirkannya sebagai nama sebuah pohon di surga yang akan menjadi balasan bagi golongan ini. Keberuntungan ini muncul karena, meski menghadapi kesulitan sosial berupa pengucilan atau ejekan di dunia karena keteguhan mereka, mereka akan mendapatkan balasan yang besar di akhirat atas kesabaran dan konsistensi mereka mempertahankan kebenaran di tengah arus yang berlawanan.
Pelajaran bagi Muslim di Zaman Sekarang
Hadits ini memberikan beberapa pelajaran penting yang relevan bagi kehidupan muslim modern:
- Tidak perlu minder atau malu menjalankan ajaran agama, meski terasa berbeda dari kebiasaan mayoritas di lingkungan sekitar, seperti menjaga shalat tepat waktu, menjaga pandangan, atau menjauhi pergaulan yang tidak sehat.
- Keteguhan di jalan kebenaran bukan tanda kegagalan sosial, melainkan sebuah kehormatan yang dijanjikan balasan istimewa oleh Allah.
- Perasaan “sendirian” dalam kebaikan adalah hal yang wajar dan telah diprediksi oleh Nabi sejak awal, sehingga tidak perlu dijadikan alasan untuk mengendurkan keistiqamahan.
- Mencari lingkungan dan komunitas yang mendukung ketaatan tetap dianjurkan untuk saling menguatkan, meski pada hakikatnya keteguhan individu tetap menjadi kunci utama.
Tanya Jawab Seputar Hadits Ghuraba
Apakah hadits ini berarti kita harus mengasingkan diri dari masyarakat?
Tidak. “Asing” dalam hadits ini bermakna keteguhan prinsip di tengah masyarakat, bukan anjuran untuk mengisolasi diri secara fisik dari masyarakat. Seorang muslim tetap dianjurkan untuk hidup bermasyarakat, berdakwah, dan berbuat baik kepada sesama, sembari tetap teguh memegang prinsip ajaran Islam yang benar meski berbeda dari kebiasaan mayoritas.
Bagaimana jika merasa “asing” justru karena mengikuti pemahaman yang menyimpang, bukan karena berpegang pada kebenaran?
Hadits ini secara khusus menggambarkan keterasingan karena memegang teguh ajaran Nabi yang shahih (sunnah yang benar), bukan keterasingan karena mengikuti pemahaman yang menyimpang dari Al-Qur’an dan hadits. Karena itu, penting bagi setiap muslim untuk memastikan bahwa keyakinan dan amalannya berlandaskan dalil yang shahih, bukan sekadar merasa “berbeda” tanpa dasar yang benar.
Apa hubungan hadits ini dengan sabar dalam menghadapi ejekan karena menjalankan agama?
Hadits ini memberikan penguatan batin bagi mereka yang menghadapi ejekan atau pandangan sinis karena konsisten menjalankan ajaran agama, dengan mengingatkan bahwa kondisi tersebut telah diprediksi sejak awal oleh Nabi dan bahwa balasan besar telah dijanjikan bagi mereka yang tetap bersabar dan istiqamah di jalan tersebut.
Kesimpulan
Hadits tentang Islam yang bermula dan akan kembali dalam keadaan asing mengajarkan bahwa keteguhan memegang kebenaran, meski membuat seseorang terasa berbeda dari mayoritas, bukanlah aib melainkan kehormatan yang dijanjikan balasan istimewa oleh Allah. Di zaman yang penuh godaan dan penyimpangan ini, menjadi “orang asing” yang istiqamah menjalankan sunnah Nabi adalah sebuah pilihan mulia yang layak diperjuangkan oleh setiap muslim, dengan keyakinan penuh bahwa kesabaran tersebut akan berbuah manis di sisi Allah.









