Ungkapan “kebersihan sebagian dari iman” sangat populer di telinga umat Islam Indonesia, namun tahukah Anda bahwa kalimat tersebut ternyata bukan hadits shahih dari Rasulullah? Berikut penjelasan lengkap beserta hadits otentik tentang bersuci (thaharah) dalam Islam.
Teks Hadits Shahih: Bersuci adalah Sebagian dari Iman
الطُّهُورُ شَطْرُ الْإِيمَانِ
Latin: “Ath-thuhuuru syathrul iimaan.”
Artinya: “Bersuci (thaharah) adalah sebagian dari iman.” (HR. Muslim no. 223, dari Abu Malik Al-Asy’ari RA)
Inilah hadits shahih yang menjadi dasar asli dari ungkapan yang sering disalahpahami sebagai “kebersihan sebagian dari iman”. Kata kunci dalam hadits aslinya adalah thuhur (bersuci/wudhu), bukan nadhafah (kebersihan dalam arti umum).
Mengapa “An-Nadhafatu Minal Iman” Bukan Hadits?
Kalimat “an-nadhaafatu minal iimaan” (kebersihan sebagian dari iman) yang sangat populer dikutip dalam ceramah maupun poster-poster Islami, setelah ditelusuri oleh para ulama hadits, tidak ditemukan sanadnya sama sekali dalam kitab-kitab hadits manapun — baik dengan sanad shahih, hasan, maupun dhaif. Ulama kontemporer Syaikh Yusuf Al-Qaradhawi menegaskan bahwa kalimat ini tidak berasal dari Nabi dengan sanad apa pun. Meski maknanya secara umum tidak bertentangan dengan ajaran Islam, kalimat ini sebaiknya tidak dinisbatkan sebagai sabda Nabi.
Wudhu Menghapuskan Dosa
Dari Utsman bin Affan RA, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa berwudhu dengan sempurna, maka dosa-dosanya akan keluar dari tubuhnya, bahkan keluar dari bawah kuku-kukunya.” (HR. Muslim no. 245)
Tanya Jawab Seputar Hadits Kebersihan
Jadi, apakah umat Islam tetap dianjurkan menjaga kebersihan fisik secara umum?
Tentu saja. Meski kalimat “kebersihan sebagian dari iman” bukan hadits, anjuran menjaga kebersihan tetap memiliki dasar kuat dalam syariat melalui berbagai hadits otentik lain, misalnya tentang mandi Jumat, memotong kuku, bersiwak, dan tentu saja thaharah (bersuci) sebagai syarat sah shalat yang disebutkan dalam hadits di atas.
Apakah boleh tetap menggunakan kalimat “kebersihan sebagian dari iman” dalam dakwah?
Lebih baik dihindari sebagai kutipan hadits (misalnya tidak ditulis “HR. …” setelahnya), karena berpotensi menyebarkan kesalahpahaman bahwa itu adalah sabda Nabi. Jika ingin menyampaikan pesan serupa, lebih tepat menggunakan hadits shahih “ath-thuhuuru syathrul iimaan” di atas sebagai rujukan yang akurat.
===
Referensi:
– HR. Muslim no. 223 (dari Abu Malik Al-Asy’ari RA)
– HR. Muslim no. 245 (dari Utsman bin Affan RA)









