Tawakal, berserah diri kepada Allah setelah berusaha maksimal, digambarkan Rasulullah melalui perumpamaan yang indah tentang seekor burung. Berikut hadits lengkap dan penjelasannya.
Teks Hadits
لَوْ أَنَّكُمْ تَتَوَكَّلُونَ عَلَى اللَّهِ حَقَّ تَوَكُّلِهِ لَرَزَقَكُمْ كَمَا يَرْزُقُ الطَّيْرَ تَغْدُو خِمَاصًا وَتَرُوحُ بِطَانًا
Latin: “Law annakum tatawakkaluuna ‘alallaahi haqqa tawakkulihi larazaqakum kamaa yarzuqut thayra taghduu khimaashan wa taruuhu bithaanaa.”
Artinya: “Seandainya kalian benar-benar bertawakal kepada Allah dengan sebenar-benarnya tawakal, niscaya Allah akan memberi kalian rezeki sebagaimana Dia memberi rezeki kepada burung; ia pergi di pagi hari dalam keadaan lapar (perut kosong), dan pulang di sore hari dalam keadaan kenyang (perut penuh).” (HR. Tirmidzi no. 2344, dinilai hasan shahih; juga diriwayatkan Ahmad, Ibnu Majah, dan Ibnu Hibban, dari Umar bin Khattab RA)
Pelajaran Penting: Burung Tetap Terbang Mencari Makan
Poin krusial dari hadits ini sering terlewat: burung dalam perumpamaan ini tidak diam saja menunggu rezeki datang. Ia tetap keluar sarang di pagi hari, terbang, dan berusaha mencari makan — baru kemudian Allah mencukupkan rezekinya hingga pulang dalam keadaan kenyang. Ini menunjukkan bahwa tawakal yang benar harus disertai ikhtiar (usaha), bukan pasrah tanpa tindakan.
Dalil Al-Qur’an tentang Tawakal
Allah SWT berfirman: “…dan bertawakallah kepada Allah jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Maidah: 23). Allah juga berfirman: “Dan barangsiapa yang bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan)nya.” (QS. Ath-Thalaq: 3)
Tawakal yang Benar: Ikhtiar + Berserah Diri
Para ulama menjelaskan bahwa tawakal yang sesuai syariat bukan meniadakan usaha, melainkan menggabungkan dua hal: bersungguh-sungguh berikhtiar sesuai kemampuan dan sebab-sebab yang Allah syariatkan, lalu menyerahkan hasil akhirnya kepada Allah dengan hati yang tenang, tanpa berlebihan mencemaskan hasil yang berada di luar kendali manusia.
Tanya Jawab Seputar Hadits Tawakal
Apakah tawakal berarti tidak perlu bekerja/berusaha?
Tidak. Sebagaimana dijelaskan di atas, burung dalam hadits tetap terbang mencari makan. Tawakal tanpa ikhtiar sama sekali justru menyalahi sunnah — termasuk sunnah Nabi sendiri yang berdagang, bertani, dan berperang dengan strategi, bukan hanya berdiam diri menunggu rezeki turun.
Bagaimana jika sudah berusaha maksimal tapi hasilnya tidak sesuai harapan?
Inilah inti tawakal sesungguhnya — menerima hasil akhir dengan lapang dada setelah usaha maksimal dilakukan, meyakini bahwa Allah memberikan yang terbaik menurut ilmu-Nya, meski belum tentu sesuai keinginan atau rencana manusia.
===
Referensi:
– HR. Tirmidzi no. 2344 (hasan shahih, dari Umar bin Khattab RA)
– QS. Al-Maidah: 23
– QS. Ath-Thalaq: 3









