Banyak beramal shalih adalah hal yang sangat baik dan dianjurkan dalam Islam. Namun ada satu bahaya tersembunyi yang perlu diwaspadai: ujub (bangga diri) dan merasa aman dari siksa Allah karena banyaknya amal yang telah dikerjakan. Berikut penjelasan lengkap mengenai bahaya ini beserta dalil-dalilnya.
Waspada dan Jangan Merasa Aman dari Makar Allah
أَفَأَمِنُوا مَكْرَ اللَّهِ ۚ فَلَا يَأْمَنُ مَكْرَ اللَّهِ إِلَّا الْقَوْمُ الْخَاسِرُونَ
Artinya: “Maka apakah mereka merasa aman dari makar (azab) Allah? Tiadalah yang merasa aman dari makar Allah kecuali orang-orang yang merugi.” (QS. Al-A’raf: 99). Ayat ini menjadi peringatan keras bahwa sebanyak apa pun amal yang telah dikerjakan, seorang hamba tidak boleh merasa aman atau pasti selamat semata-mata karena banyaknya ibadahnya, karena hal itu termasuk tanda kerugian dalam pandangan Allah.
Amal Bisa Sia-Sia Jika Tidak Disertai Keikhlasan
قُلْ هَلْ نُنَبِّئُكُم بِالْأَخْسَرِينَ أَعْمَالًا الَّذِينَ ضَلَّ سَعْيُهُمْ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ يَحْسَبُونَ أَنَّهُمْ يُحْسِنُونَ صُنْعًا
Artinya: “Katakanlah: ‘Apakah akan Kami beritahukan kepadamu tentang orang-orang yang paling merugi perbuatannya?’ Yaitu orang-orang yang telah sia-sia perbuatannya dalam kehidupan dunia ini, sedangkan mereka menyangka bahwa mereka berbuat sebaik-baiknya.” (QS. Al-Kahfi: 103-104). Ayat ini menegaskan bahwa seseorang bisa saja merasa telah beramal banyak dan baik, padahal di sisi Allah amalnya sia-sia karena tidak disertai niat yang lurus atau karena rusak oleh sifat ujub dan sombong.
Amal Dinilai dari Penutupnya (Khawatim), Bukan Hanya Jumlahnya
Dari Sahl bin Sa’d RA, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya ada seorang hamba yang menurut pandangan manusia mengerjakan amalan penghuni surga, padahal sesungguhnya ia termasuk penghuni neraka. Dan ada pula seorang hamba yang menurut pandangan manusia mengerjakan amalan penghuni neraka, padahal sesungguhnya ia termasuk penghuni surga. Sesungguhnya amalan itu tergantung pada penutupnya (akhir hayatnya).” (HR. Bukhari no. 6607)
Hadits ini menjadi dasar utama mengapa seorang muslim tidak boleh sombong dengan banyaknya amal yang telah ia kerjakan selama ini, karena yang menentukan adalah bagaimana ia mengakhiri hidupnya (husnul khatimah), bukan semata jumlah amal yang pernah dilakukan di masa lalu.
Kisah: Amal yang Terhapus karena Merasa Paling Benar
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menceritakan kisah dua orang Bani Israil, seorang ahli ibadah dan seorang ahli maksiat. Suatu ketika sang ahli ibadah melihat dosa saudaranya lalu berkata dengan penuh kesombongan, “Demi Allah, Allah tidak akan mengampuni si fulan!” Maka Allah Ta’ala berfirman: “Siapakah yang bersumpah atas nama-Ku bahwa Aku tidak akan mengampuni si fulan? Sesungguhnya Aku telah mengampuninya, dan Aku telah menghapus amalmu.” (HR. Muslim no. 2621)
Kisah ini menjadi peringatan tegas: seluruh amal ibadah sang ahli ibadah terhapus bukan karena ia meninggalkan ibadah, melainkan karena satu kalimat sombong yang menganggap dirinya pasti benar dan berhak menentukan ampunan Allah bagi orang lain.
Buah dari Keimanan kepada Takdir
Dari Ali bin Abi Thalib RA, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda bahwa setiap orang telah dimudahkan jalannya menuju apa yang telah ditetapkan baginya, lalu beliau membaca ayat: “Adapun orang yang memberikan (hartanya di jalan Allah) dan bertakwa, serta membenarkan adanya pahala yang terbaik (surga), maka akan Kami mudahkan baginya jalan menuju kemudahan (kebahagiaan)…” (QS. Al-Lail: 5-7). (HR. Bukhari no. 4949 dan Muslim no. 2647)
Menyadari bahwa kemampuan beramal shalih itu sendiri adalah karunia dan taufik dari Allah — bukan semata hasil kehebatan diri sendiri — adalah kunci untuk terhindar dari ujub, karena seseorang akan senantiasa bersyukur atas taufik tersebut alih-alih membanggakan diri.
Berbaik Sangka kepada Allah, Tanpa Lalai Beramal
Perlu digarisbawahi, peringatan di atas bukan berarti seorang muslim harus berputus asa atau berhenti beramal. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda dalam hadits qudsi: “Allah berfirman: ‘Aku sesuai dengan prasangka hamba-Ku kepada-Ku…'” (HR. Bukhari no. 7405 dan Muslim no. 2675). Sikap yang benar adalah menyeimbangkan antara khawf (rasa takut tidak diterima amalnya) dan raja’ (harapan akan rahmat Allah), sambil terus bersungguh-sungguh beramal tanpa merasa amalnya telah cukup untuk menjamin keselamatan secara pasti.
Tanya Jawab Seputar Bahaya Ujub dalam Beramal
Bagaimana cara mengetahui apakah kita sudah terjangkit sifat ujub?
Di antara tandanya: merasa diri lebih baik atau lebih dekat kepada Allah dibanding orang lain karena amal yang telah dikerjakan, mudah meremehkan atau menghakimi orang yang terlihat kurang taat, serta merasa “berjasa” kepada Allah atas ibadah yang dilakukan, padahal sejatinya kemampuan beribadah itu sendiri adalah pemberian Allah semata, bukan hasil usaha mandiri yang patut dibanggakan.
Apakah ini berarti kita harus berhenti mengoreksi kesalahan orang lain?
Tidak. Menasihati dan mengingatkan kesalahan sesama muslim tetap dianjurkan (lihat juga: keutamaan amar ma’ruf nahi mungkar). Yang menjadi masalah dalam kisah di atas bukan tindakan menasihati, melainkan sikap memastikan nasib akhirat seseorang secara mutlak (seolah mengetahui rahasia Allah) disertai nada kesombongan bahwa dirinya pasti lebih baik, bukan semata-mata menyampaikan kebenaran dengan rendah hati.
===
Referensi:
– QS. Al-A’raf: 99; QS. Al-Kahfi: 103-104; QS. Al-Lail: 5-7
– HR. Bukhari no. 6607 (dari Sahl bin Sa’d RA)
– HR. Muslim no. 2621 (dari Abu Hurairah RA)
– HR. Bukhari no. 4949 & Muslim no. 2647 (dari Ali bin Abi Thalib RA)
– HR. Bukhari no. 7405 & Muslim no. 2675









