Menghadiri majelis ilmu adalah salah satu amalan yang paling dicintai Allah, dengan keutamaan yang besar bagi para pelakunya. Berikut hadits-hadits tentang keutamaannya.
Jalan Menuju Surga
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju surga.” (HR. Muslim no. 2699)
Dinaungi Ketenangan, Rahmat, dan Dikelilingi Malaikat
Masih dalam hadits yang sama (HR. Muslim no. 2699), Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam melanjutkan: “Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid), membaca Kitabullah dan saling mempelajarinya di antara mereka, melainkan akan turun kepada mereka ketenangan, mereka diliputi rahmat, dikelilingi oleh para malaikat, dan Allah menyebut-nyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya (para malaikat).”
Keutamaan di Atas Ibadah Sunnah Lainnya
Dari Abu Dzar RA, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Wahai Abu Dzar, sungguh engkau pergi di waktu pagi lalu mempelajari satu ayat dari Kitabullah adalah lebih baik bagimu daripada shalat sunnah seratus rakaat. Dan sungguh engkau pergi di waktu pagi lalu mempelajari satu bab ilmu, baik diamalkan atau belum diamalkan, adalah lebih baik bagimu daripada shalat sunnah seribu rakaat.” (HR. Ibnu Majah no. 219, dinilai hasan oleh Al-Albani)
Tanya Jawab Seputar Keutamaan Majelis Ilmu
Apakah keutamaan ini berlaku untuk semua jenis ilmu?
Keutamaan yang disebutkan dalam hadits-hadits ini secara khusus merujuk pada ilmu syar’i (ilmu agama) yang mengantarkan seseorang mengenal Allah, memahami syariat-Nya, dan beribadah dengan benar. Ilmu-ilmu duniawi yang bermanfaat tetap dianjurkan untuk dipelajari, namun keutamaan “jalan menuju surga” secara khusus disematkan pada ilmu yang berkaitan dengan agama.
Mengapa majelis ilmu disebut lebih utama dari shalat sunnah?
Karena manfaat ilmu bersifat menyebar dan berkelanjutan — satu ilmu yang dipelajari dapat diamalkan sepanjang hidup bahkan diajarkan kepada orang lain, sementara pahala shalat sunnah terbatas pada pelakunya sendiri di waktu itu. Ilmu juga menjadi dasar bagi sahnya seluruh ibadah lain, termasuk shalat itu sendiri.
===
Referensi:
– HR. Muslim no. 2699 (dari Abu Hurairah RA)
– HR. Ibnu Majah no. 219 (hasan menurut Al-Albani, dari Abu Dzar RA)









