Surat Al-Mulk (QS. 67) dikenal luas sebagai “penyelamat dari siksa kubur” berdasarkan hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam. Berikut penjelasan lengkap keutamaannya beserta status haditsnya.
Teks Hadits Utama
Dari Ibnu Abbas RA, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda tentang surat Al-Mulk: “Surat ini adalah penghalang (dari siksa kubur), surat ini adalah penyelamat; ia menyelamatkan pembacanya dari siksa kubur.” (HR. Tirmidzi no. 2891, Abu Dawud no. 1400, Ibnu Majah no. 3786, dan Ahmad)
Mengenai status hadits ini, Imam At-Tirmidzi sendiri menilainya hasan. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dalam Majmu’ Al-Fatawa (22/277) bahkan menilainya shahih. Syaikh Al-Albani menilainya hasan. Sebagian kecil ulama seperti Syaikh Musthofa Al-‘Adawi menilai riwayat utamanya belum mencapai derajat shahih, namun tetap terangkat (dikuatkan) oleh beberapa atsar pendukung lainnya. Secara keseluruhan, hadits ini cukup kuat untuk diamalkan.
Rasulullah Tidak Pernah Meninggalkannya Sebelum Tidur
Dari Jabir bin Abdillah RA, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak tidur hingga membaca surat Alif Laam Miim Tanziil (As-Sajdah) dan Tabarakalladzi Biyadihil Mulk (Al-Mulk). (HR. Tirmidzi no. 3404, dinilai hasan shahih)
Hadits ini menjadi dasar anjuran membaca Al-Mulk secara rutin setiap malam sebelum tidur, sebagaimana diamalkan Rasulullah sendiri.
Tanya Jawab Seputar Keutamaan Surat Al-Mulk
Apakah membaca Al-Mulk sekali saja sudah cukup untuk mendapat perlindungan dari siksa kubur?
Hadits di atas menjelaskan keutamaannya secara umum tanpa merinci syarat jumlah bacaan tertentu. Yang terpenting adalah keikhlasan dan pemahaman makna saat membacanya, bukan sekadar seremoni rutin tanpa penghayatan. Para ulama menganjurkan membacanya secara konsisten setiap malam sebagaimana kebiasaan Rasulullah, agar keutamaannya dapat diraih secara optimal.
Apa isi kandungan utama Surat Al-Mulk yang relevan dengan keutamaannya?
Surat Al-Mulk banyak membahas kekuasaan dan kebesaran Allah dalam mencipta serta mengatur alam semesta, sekaligus peringatan tentang hari kebangkitan dan azab bagi orang yang ingkar. Kandungan inilah yang sejalan dengan fungsinya sebagai “pembela” di alam kubur — menumbuhkan kesadaran tauhid dan persiapan menghadapi akhirat bagi pembacanya.
===
Referensi:
– HR. Tirmidzi no. 2891 (hasan, dari Ibnu Abbas RA), Abu Dawud no. 1400, Ibnu Majah no. 3786
– HR. Tirmidzi no. 3404 (hasan shahih, dari Jabir bin Abdillah RA)









