Daily Muslim
  • News
  • Guideline
    • Bersuci
    • Shalat
    • Puasa
    • Haji dan Umrah
    • Hukum Islam
    • Pernikahan
    • Jual Beli
    • Kurban
    • Wakaf
  • Lifestyle
  • Insight
  • Muslimah
  • Parenting
  • Doa Islami
No Result
View All Result
  • Al-Qur’an Digital
  • Jadwal Shalat & Imsakiyah
  • Kalkulator Zakat
Daily Muslim
  • News
  • Guideline
    • Bersuci
    • Shalat
    • Puasa
    • Haji dan Umrah
    • Hukum Islam
    • Pernikahan
    • Jual Beli
    • Kurban
    • Wakaf
  • Lifestyle
  • Insight
  • Muslimah
  • Parenting
  • Doa Islami
No Result
View All Result
Daily Muslim
No Result
View All Result
  • Al-Qur’an Digital
  • Jadwal Shalat & Imsakiyah
  • Kalkulator Zakat
Home Insight

Adzan: Pengertian, Sejarah, Tata Cara, dan Maknanya

by Daily Muslim
21 Desember 2023
adzan di masjid
Share ke WAShare ke TelegramShare ke FB

Dalam Islam, masuknya waktu shalat ditandai dengan kumandang adzan yang terdengar 5 kali sehari di masjid-masjid atau tempat yang biasa digunakan untuk shalat.

Dalam artikel ini, kita akan membahas beberapa hal yang berkaitan dengan adzan, seperti pengertiannya, maknanya, tata caranya dan bagaimana sejarah permulaan perintah adzan pertama kali disyariatkan.

Mari kita mulai.

Daftar Isi

Toggle
  • Apa itu Adzan?
  • Makna Adzan
  • Sejarah dan Permulaan Adzan dalam Islam
    • Baca Juga
  • Tata Cara Adzan
  • Pelajaran yang Dapat Diambil

Apa itu Adzan?

Dalam Kitab Fathul Baari yang ditulis oleh seorang ulama muslim yaitu Ibnu Hajar Al Asqalani dijelaskan bahwa adzan memiliki dua arti, arti secara bahasa dan syariat.

Secara bahasa, adzan berarti I’lam yaitu sebuah pemberitahuan.

Definisi ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat At-Taubah ayat 3:

وَاَذَانٌ مِّنَ اللّٰهِ وَرَسُوْلِهٖٓ اِلَى النَّاسِ

“Dan inilah suatu pemberitahuan dari Allah dan Rasul-Nya kepada umat manusia…”

Sedangkan secara syariat, adzan berarti sebuah pemberitahuan datangnya waktu shalat dengan lafadz-lafadz tertentu (khusus).

Makna Adzan

Menurut Al Qurthubi, walaupun lafadz adzan sangat sederhana, namun lafadz-lafadz tersebut sudah mencakup semua hal tentang akidah.

Lafadz adzan dibuka dengan kalimat Allahu Akbar (Allah Maha Besar) yang mencerminkan wujud dan kesempurnaan Allah SWT.

Kemudian dilanjutkan dengan kalimat tauhid Asyhadu allaa ilaaha illallaah (aku bersaksi tiada Tuhan yang patut disembah kecuali Allah) yang mencerminkan sebuah kesaksian bahwa tidak ada Tuhan yang akan kita sembah kecuali Allah SWT.

Lafadz ketiga yaitu Asyhadu anna muhammadarrasuulullaah (aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah) yang merupakan kesaksian bahwa kita meyakini risalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam dan sebuah ajakan untuk menaatinya.

Selanjutnya ada kalimat Hayya ‘alal falaah (mari menuju kemenangan) yang merupakan seruan kepada kita untuk menuju kemenangan, yaitu kehidupan yang kekal di akhirat kelak.

Sejarah dan Permulaan Adzan dalam Islam

Adzan pertama kali dikumandangkan di Madinah.

Tapi ada perbedaan tentang kapan tahun disyariatkannya adzan, ada yang mengatakan tahun pertama hijriyah ada juga yang mengatakan tahun kedua hijriyah.

Namun, berdasarkan riwayat Abu Syaikh dan Ibnu Abbas, perintah adzan turun bersamaan dengan turunnya QS. Al-Maidah : 58.

Sebagian ahli tafsir menyebutkan bahwa dulu ketika orang Yahudi mendengar adzan, mereka berkata kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam “Wahai Muhammad, sungguh engkau telah membuat sesuatu yang baru yang tidak ada sebelumnya”.

Inilah yang menjadi sebab turunnya firman Allah surat Al-Maidah ayat 58:

Baca Juga

No Content Available

وَاِذَا نَادَيْتُمْ اِلَى الصَّلٰوةِ اتَّخَذُوْهَا هُزُوًا وَّلَعِبًا ۗذٰلِكَ بِاَ نَّهُمْ قَوْمٌ لَّا يَعْقِلُوْنَ

“Apabila kamu menyeru untuk (melaksanakan) salat, mereka menjadikannya bahan ejekan dan permainan. Yang demikian itu adalah karena sesungguhnya mereka orang-orang yang tidak mengerti.”

Perintah adzan juga terdapat pada hadits yang datang dari Anas bin Malik, dia berkata,

ذَكَرُوا النَّارَ وَالنَّاقُوسَ فَذَكَرُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى فَأُمِرَ بِلَالٌ أَنْ يَشْفَعَ الْأَذَانَ وَأَنْ يُوتِرَ الْإِقَامَةَ

“Orang-orang menyebut-nyebut tentang api dan lonceng (dalam mengusulkan cara memanggil shalat). Lalu ada juga di antara mereka yang mengusulkan seperti kebiasaan orang-orang Yahudi dan Nasrani. Maka Bilal diperintahkan untuk mengumandangkan adzan dengan dua kali dua kali dan iqamat dengan bilangan ganjil.” (Hadits Riwayat Bukhari no. 568 dan 3198)

Cerita serupa pernah diceritakan dalam sebuah hadits yang datang dari Ibnu Umar, begini ceritanya:

كَانَ الْمُسْلِمُونَ حِينَ قَدِمُوا الْمَدِينَةَ يَجْتَمِعُونَ فَيَتَحَيَّنُونَ الصَّلَاةَ لَيْسَ يُنَادَى لَهَا فَتَكَلَّمُوا يَوْمًا فِي ذَلِكَ فَقَالَ بَعْضُهُمْ اتَّخِذُوا نَاقُوسًا مِثْلَ نَاقُوسِ النَّصَارَى وَقَالَ بَعْضُهُمْ بَلْ بُوقًا مِثْلَ قَرْنِ الْيَهُودِ فَقَالَ عُمَرُ أَوَلَا تَبْعَثُونَ رَجُلًا يُنَادِي بِالصَّلَاةِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَا بِلَالُ قُمْ فَنَادِ بِالصَّلَاةِ

“Ketika Kaum Muslimin tiba di Madinah, mereka berkumpul untuk shalat dengan cara memperkirakan waktunya, dan tidak ada panggilan untuk pelaksanaan shalat. Suatu hari mereka memperbincangkan masalah tersebut, di antara mereka ada yang mengusulkan lonceng seperi loncengnya Kaum Nashrani dan sebagaian lain mengusulkan untuk meniup terampet sebagaimana Kaum Yahudi. Maka ‘Umar pun berkata, “Mengapa tidak kalian suruh seseorang untuk mengumandangkan panggilan shalat?” Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam kemudian bersabda: “Wahai Bilal, bangkit dan serukanlah panggilan shalat.” (Hadits Riwayat Bukhari no. 569)

Itulah permulaan dan sejarah adanya perintah adzan yang kita dengar di setiap waktu shalat.

Tata Cara Adzan

Kalimat-kalimat adzan diucapkan dua kali – dua kali. Hal ini sesuai hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang diriwayatkan oleh Abu Qilabah dan Anas bin Malik, dia berkata:

أُمِرَ بِلَالٌ أَنْ يَشْفَعَ الْأَذَانَ وَأَنْ يُوتِرَ الْإِقَامَةَ إِلَّا الْإِقَامَةَ

“Bilal diperintahkan untuk mengumandangkan kalimat adzan dengan genap (dua kali dua kali) dan mengganjilkan iqamat, kecuali kalimat iqamat ‘Qad qaamatish shalah (shalat telah dikumandangkan) ‘.” (Hadits Riwayat Bukhari no. 570)

Dalam Kitab Fathul Baari dijelaskan bahwa hadits di atas menjadi dalil agar setiap kalimat adzan diucapkan dua kali (genap), kecuali kalimat terakhir “Laa ilaaha illallaah” itu hanya diucapkan satu kali.

Pelajaran yang Dapat Diambil

Setelah membaca penjelasan dari para ulama, kita dapat mengambil beberapa pelajaran, pelajaran ini diambil dari Kitab Fathul Baari karya Ibnu Hajar Al Asqalani, antara lain:

  1. Kalimat adzan diucapkan dua kali – dua kali bertujuan untuk menyeru atau memanggil orang-orang untuk shalat yang bisa jadi mereka tidak berada di dekat tempat shalat, maka dari itu butuh pengulangan.
  2. Lain halnya dengan iqamat yang diucapkan hanya satu kali, karena tujuan iqamat adalah untuk mereka yang sudah ada di tempat shalat, sehingga tidak butuh pengulangan.
  3. Dalam mengumandangkan adzan, disunnahkan berada di tempat yang agak tinggi dan menggunakan suara yang lantang.

Itulah penjelasan lengkap tentang pengertian adzan, makna, sejara dan tata cara bagaimana mengumandangkan adzan sesuai hadits Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.

===

Sumber:

  • Kitab Fathul Baari, Bab Adzan, Ibnu Hajar Al Asqalani
  • Qur’an Kemenag RI
Tags: Adzan

Saatnya Ngaji Tanpa Distraksi!

Akses Al-Qur'an Digital gratis! Gak perlu install, gak perlu daftar, 100% bebas iklan. Tersedia juga audio murottal dari Qori favoritmu.

Akses Sekarang

Artikel Terkait

Kubah hijau toska bertuliskan kaligrafi Arab pada makam bersejarah, ilustrasi pembahasan hukum ziarah ke makam wali

Hukum Ziarah ke Makam Wali: Penjelasan Berimbang dan Batasannya

by Daily Muslim

Ziarah ke makam para wali dan orang-orang shalih adalah praktik yang umum di tengah masyarakat...

Jamaah shalat Jumat berjamaah di dalam masjid, ilustrasi keutamaan hari Jumat sebagai sayyidul ayyam

Keutamaan Hari Jumat: Penghulu Segala Hari (Sayyidul Ayyam)

by Daily Muslim

Hari Jumat disebut sebagai sayyidul ayyam (penghulu segala hari) dan memiliki banyak keistimewaan dibanding hari-hari...

Dua orang berjabat tangan mengenakan jas formal, ilustrasi keutamaan sifat pemaaf dalam Islam

Keutamaan Sifat Pemaaf dan Dalilnya

by Daily Muslim

Sifat pemaaf adalah akhlak mulia yang menjadi ciri orang-orang bertakwa, dan Allah menjanjikan penambahan kemuliaan...

Load More

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jadwal Shalat & Imsakiyah Sabtu, 24 Oktober 2026
Kota Jakarta
--:--:--
Menuju waktu...
Imsak 04:02
Subuh 04:12
Dzuhur 11:40
Ashar 14:51
Maghrib 17:49
Isya' 18:59
Sumber: Bimas Islam Kemenag RI

Artikel Terbaru

Jamaah haji berpakaian ihram putih menghadap Ka'bah di siang hari, ilustrasi keutamaan haji mabrur

Keutamaan Haji Mabrur dan Dalilnya

Riak air tenang membentuk lingkaran konsentris, ilustrasi keutamaan menahan amarah dalam Islam

Keutamaan Menahan Amarah dan Dalilnya

Papan penunjuk arah kayu dengan anak panah di tengah alam terbuka, ilustrasi keutamaan amar ma'ruf nahi mungkar

Keutamaan Amar Ma’ruf Nahi Mungkar dan Dalilnya

Seorang guru membimbing murid-muridnya di dalam kelas, ilustrasi adab kepada guru dalam Islam

Adab kepada Guru dalam Islam dan Dalilnya

Deretan sisir warna-warni berjajar di atas meja kayu gelap, ilustrasi keutamaan mencukur gundul (tahalul) saat haji dan umrah

Keutamaan Mencukur Gundul (Tahalul) saat Haji dan Umrah

Seedbacklink
  • Tentang
  • Hubungi
  • Periklanan
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
Popup image
  • News
  • Guideline
    • Bersuci
    • Shalat
    • Puasa
    • Haji dan Umrah
    • Hukum Islam
    • Pernikahan
    • Jual Beli
    • Kurban
    • Wakaf
  • Lifestyle
  • Insight
  • Muslimah
  • Parenting
  • Doa Islami