Daily Muslim
  • News
  • Guideline
    • Bersuci
    • Shalat
    • Puasa
    • Haji dan Umrah
    • Hukum Islam
    • Pernikahan
    • Jual Beli
    • Kurban
    • Wakaf
  • Lifestyle
  • Insight
  • Muslimah
  • Parenting
  • Doa Islami
No Result
View All Result
  • Al-Qur’an Digital
  • Jadwal Shalat & Imsakiyah
  • Kalkulator Zakat
Daily Muslim
  • News
  • Guideline
    • Bersuci
    • Shalat
    • Puasa
    • Haji dan Umrah
    • Hukum Islam
    • Pernikahan
    • Jual Beli
    • Kurban
    • Wakaf
  • Lifestyle
  • Insight
  • Muslimah
  • Parenting
  • Doa Islami
No Result
View All Result
Daily Muslim
No Result
View All Result
  • Al-Qur’an Digital
  • Jadwal Shalat & Imsakiyah
  • Kalkulator Zakat
Home Insight

Apa Itu Wahabi? Penjelasan Sejarah, Ajaran, dan Kontroversinya Secara Berimbang

by Daily Muslim
2 November 2026
Arsitektur bata lumpur khas Najd dengan menara dan halaman tradisional di Arab Saudi, ilustrasi artikel sejarah dan penjelasan tentang istilah Wahabi

Arsitektur Najd Bersejarah

Share ke WAShare ke TelegramShare ke FB

Kata “Wahabi” sering muncul dalam perbincangan keislaman di Indonesia, baik di majelis taklim, media sosial, maupun perdebatan daring, namun maknanya sering disalahpahami dan digunakan secara longgar untuk menuduh pihak yang berbeda pandangan. Artikel ini menjelaskan asal-usul istilah tersebut, pokok ajaran yang dirujuk, serta kontroversi di sekitarnya secara berimbang, dengan menghadirkan sudut pandang pendukung maupun pengkritiknya.

Daftar Isi

Toggle
  • Siapa Muhammad bin Abdul Wahhab?
  • Asal-Usul Istilah “Wahabi”
  • Pokok-Pokok Dakwah Menurut Pendukungnya
  • Kritik dan Kontroversi dari Pihak Lain
  • Istilah “Wahabi” dan “Salafi” di Indonesia
  • Tanya Jawab Seputar Istilah “Wahabi”
    • Apakah “Wahabi” adalah nama sebuah madzhab fikih tersendiri?
    • Mengapa sebagian orang menganggap istilah “Wahabi” sebagai hinaan?
    • Bagaimana sikap yang baik dalam menyikapi perbedaan pandangan semacam ini?
    • Baca Juga
    • Apakah Berbohong Membatalkan Puasa? Simak Penjelasannya
    • Benarkah Jumlah Nabi 124.000 dan Rasul 315? Ini Penjelasannya

Siapa Muhammad bin Abdul Wahhab?

Istilah “Wahabi” dinisbatkan kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab At-Tamimi An-Najdi (1115-1206 H / 1703-1792 M), seorang ulama yang lahir di ‘Uyainah, wilayah Najd (kini bagian dari Arab Saudi tengah). Sejak kecil ia menghafal Al-Qur’an dan mempelajari ilmu-ilmu syariat, khususnya tauhid, tafsir, hadits, dan fikih madzhab Hambali, sebelum menempuh perjalanan menuntut ilmu ke Madinah, Basrah, dan beberapa wilayah lain.

Pada pertengahan abad ke-18, ia memulai dakwah di tanah kelahirannya untuk mengajak masyarakat kembali kepada apa yang ia pahami sebagai tauhid yang murni, sembari menyerukan penolakan terhadap berbagai praktik yang ia nilai sebagai bid’ah (perkara baru dalam agama) dan syirik (menyekutukan Allah), seperti permintaan langsung kepada penghuni kubur atau keyakinan berlebihan terhadap kekuatan benda-benda tertentu yang berkembang di sebagian masyarakat Najd kala itu.

Dakwah ini kemudian mendapat dukungan politik dari Muhammad bin Saud, penguasa wilayah Dir’iyyah, melalui kesepakatan pada tahun 1744 M: Ibnu Saud mengurus pemerintahan, sementara Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab berperan sebagai pembimbing keagamaan. Kerja sama inilah yang menjadi cikal bakal berdirinya Kerajaan Arab Saudi modern beberapa generasi kemudian.

Asal-Usul Istilah “Wahabi”

Satu hal yang disepakati oleh hampir semua pihak — baik pendukung maupun pengkritik gerakan ini — adalah bahwa Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab sendiri tidak pernah menamakan dakwahnya “Wahabi”. Istilah ini muncul dari pihak luar, dan terdapat beberapa versi riwayat mengenai siapa yang pertama kali memopulerkannya:

  • Sebagian riwayat menyebut bahwa kakak kandungnya sendiri, Syaikh Sulaiman bin Abdul Wahhab, yang berseberangan pandangan dengannya, termasuk pihak yang menggunakan istilah ini dalam karya bantahannya.
  • Sebagian sumber lain menyebut pihak Kesultanan Utsmaniyah (Turki Ottoman) sebagai yang melekatkan label ini secara politis, mengingat gerakan Dir’iyyah-Wahhabi sempat berkonflik militer dengan kekuasaan Utsmani di Jazirah Arab pada awal abad ke-19.
  • Pihak Inggris, yang saat itu memiliki kepentingan kolonial di kawasan Teluk dan Jazirah Arab, juga tercatat sebagai salah satu pihak Barat yang mempopulerkan istilah “Wahhabism” dalam laporan-laporan diplomatik mereka.

Karena asal-usulnya yang datang dari pihak luar dan kerap digunakan dalam konteks polemik, banyak pengikut pemahaman ini di masa sekarang menolak disebut “Wahabi” dan lebih memilih menyebut diri mereka sebagai “Salafi” (pengikut generasi salaf/pendahulu yang shalih), meskipun dalam praktiknya kedua istilah ini sering dipakai bergantian oleh masyarakat umum, termasuk di Indonesia.

Pokok-Pokok Dakwah Menurut Pendukungnya

Dari sudut pandang pendukung dan penerus pemikirannya, inti dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dapat diringkas sebagai berikut:

  • Pemurnian tauhid: menegaskan bahwa ibadah — termasuk doa, permintaan tolong, dan rasa takut yang bersifat ibadah — hanya boleh ditujukan kepada Allah semata, bukan kepada makhluk, termasuk orang-orang shalih yang telah wafat.
  • Kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah: mendahulukan dalil tekstual dari Al-Qur’an dan hadits shahih di atas pendapat-pendapat yang dianggap bertentangan dengannya.
  • Penolakan terhadap bid’ah tertentu: mengkritik sejumlah praktik yang berkembang di masyarakat Najd saat itu, seperti permintaan langsung kepada kuburan atau keyakinan bahwa benda/tempat tertentu memiliki kekuatan gaib di luar kehendak Allah.
  • Afiliasi madzhab: secara fikih, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bermadzhab Hambali dan dalam berbagai suratnya menegaskan tidak pernah melarang orang untuk mengikuti salah satu dari empat madzhab fikih (Hanafi, Maliki, Syafi’i, Hambali).

Dalam risalah-risalah pembelaan dirinya (di antaranya Risalah ila Ahli Qashim), ia secara eksplisit membantah sejumlah tuduhan yang dialamatkan kepadanya, termasuk tuduhan bahwa ia mengklaim seluruh umat Islam sesat selama 600 tahun, mengaku sebagai nabi, melarang total ziarah kubur, atau melarang bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Terlepas dari perdebatan mengenai sejauh mana bantahan ini mencerminkan keseluruhan ajaran dan praktik di lapangan, dokumen-dokumen ini menjadi rujukan penting bagi siapa pun yang ingin memahami posisi resminya dari sumber primer, bukan dari generalisasi sepihak.

Kritik dan Kontroversi dari Pihak Lain

Di sisi lain, gerakan ini juga menuai kritik tajam dari sejumlah ulama sezaman maupun generasi sesudahnya, khususnya yang berafiliasi dengan tradisi Asy’ariyah/Maturidiyah dalam akidah dan praktik tarekat/tasawuf yang sudah mengakar di berbagai wilayah dunia Islam. Di antara kritik yang paling dikenal:

  • Ahmad Zaini Dahlan (1816-1886 M), Mufti Mazhab Syafi’i di Makkah pada masa akhir Kesultanan Utsmaniyah, menulis kitab Ad-Durar As-Saniyyah fi Ar-Raddi ‘alal Wahhabiyyah (Mutiara-Mutiara Cemerlang dalam Membantah Wahhabiyyah), yang menilai sejumlah pemahaman dalam gerakan ini terlalu keras dalam mengkafirkan atau menuduh syirik praktik-praktik yang menurutnya masih dalam koridor Ahlus Sunnah wal Jama’ah, seperti tawassul (berdoa dengan perantaraan) kepada para nabi dan orang shalih.
  • Kritik ini kemudian dibantah balik oleh ulama-ulama yang sejalan dengan dakwah Najd, termasuk dari kalangan ulama Najd, Irak, dan India, yang menilai karya Zaini Dahlan tidak akurat dalam menggambarkan pemahaman Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab yang sesungguhnya.
  • Secara umum, titik perselisihan utama antara pendukung dan pengkritik gerakan ini berkisar pada: batasan tawassul yang diperbolehkan, hukum ziarah kubur wali dan tokoh shalih, perayaan Maulid Nabi, serta sikap terhadap sebagian amalan tarekat/tasawuf.

Perlu digarisbawahi bahwa pada isu-isu khilafiyah seperti ziarah ke makam wali, mayoritas ulama dari berbagai madzhab sejak lama telah membahasnya dengan batasan dan syarat tertentu agar tidak jatuh pada praktik yang bertentangan dengan tauhid, sehingga perbedaan pandangan dalam hal ini sesungguhnya telah ada jauh sebelum istilah “Wahabi” dikenal luas.

Istilah “Wahabi” dan “Salafi” di Indonesia

Di Indonesia, istilah “Wahabi” dan “Salafi” kerap dipakai secara bergantian oleh masyarakat umum untuk merujuk pada kelompok yang menekankan pemahaman tekstual terhadap Al-Qur’an dan hadits, serta cenderung kritis terhadap sejumlah tradisi lokal seperti tahlilan, perayaan maulid dengan cara tertentu, dan ziarah kubur dengan ritual tambahan. Beberapa catatan penting terkait konteks Indonesia:

  • Nahdlatul Ulama (NU) secara historis menjadi salah satu organisasi yang kerap bersinggungan pandangan dengan kelompok yang dilabeli “Wahabi”, khususnya terkait tradisi tahlilan, ziarah kubur, dan amalan tarekat yang menjadi ciri khas dakwah NU di banyak wilayah Nusantara.
  • Muhammadiyah, meski sama-sama menyerukan semangat kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah serta kritis terhadap sejumlah bid’ah, secara tegas menolak disamakan dengan kelompok Salafi/Wahabi, karena perbedaan metodologi: Muhammadiyah menggunakan pendekatan tarjih (ijtihad kolektif, termasuk mempertimbangkan konteks kemodernan) dan tidak menolak peran akal/maslahat dalam istinbath hukum, sementara sebagian kalangan Salafi cenderung lebih literal dan menolak taqlid madzhab.
  • Kelompok yang dilabeli “Salafi” di Indonesia sendiri tidak monolitik; terdapat beragam kecenderungan di dalamnya, mulai dari yang bersikap apolitis dan taat pada pemerintahan yang sah, hingga kelompok dengan orientasi politik atau pergerakan yang berbeda-beda.

Tanya Jawab Seputar Istilah “Wahabi”

Apakah “Wahabi” adalah nama sebuah madzhab fikih tersendiri?

Bukan. Secara fikih, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bermadzhab Hambali, salah satu dari empat madzhab fikih Ahlus Sunnah yang diakui luas. “Wahabi” bukanlah madzhab fikih kelima, melainkan sebutan untuk sebuah gerakan/kecenderungan dalam bidang akidah dan dakwah yang menekankan pemurnian tauhid serta penolakan terhadap praktik-praktik tertentu yang dianggap bid’ah atau mendekati syirik.

Mengapa sebagian orang menganggap istilah “Wahabi” sebagai hinaan?

Karena istilah ini pada mulanya muncul dari pihak-pihak yang berseberangan atau berkonflik dengan gerakan tersebut, bukan dari penamaan diri sendiri, sehingga dalam penggunaannya sering kali bermuatan sinis atau merendahkan, mirip dengan bagaimana berbagai label keagamaan lain dalam sejarah Islam (seperti “Khawarij” atau “Rafidhah”) pada awalnya juga digunakan sebagai sebutan dari pihak luar/lawan, bukan identitas yang dipilih sendiri oleh kelompok yang dimaksud.

Bagaimana sikap yang baik dalam menyikapi perbedaan pandangan semacam ini?

Para ulama dari berbagai kalangan umumnya mengingatkan agar perbedaan pandangan dalam masalah khilafiyah (perkara yang diperselisihkan) tidak dijadikan alasan untuk saling melabeli, memutus silaturahmi, atau menuduh sesat secara serampangan tanpa kajian yang memadai. Umat Islam dianjurkan untuk mempelajari dalil dari berbagai sisi secara jujur, merujuk kepada ulama yang terpercaya di lingkungannya masing-masing, dan tetap menjaga ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama muslim) di tengah perbedaan pendapat yang memang telah ada sejak lama dalam sejarah Islam.

===

Baca Juga

Apakah Berbohong Membatalkan Puasa? Simak Penjelasannya

Benarkah Jumlah Nabi 124.000 dan Rasul 315? Ini Penjelasannya

Referensi:
– Muhammad bin Abdul Wahhab, Risalah ila Ahli Qashim (risalah pembelaan diri)
– Ahmad Zaini Dahlan, Ad-Durar As-Saniyyah fi Ar-Raddi ‘alal Wahhabiyyah
– Catatan historis tentang asal-usul istilah “Wahabi” dari berbagai sumber sejarah (internal gerakan, Utsmaniyah, dan laporan kolonial Inggris)
– Dokumen perbandingan resmi Muhammadiyah mengenai perbedaannya dengan kelompok Salafi

Saatnya Ngaji Tanpa Distraksi!

Akses Al-Qur'an Digital gratis! Gak perlu install, gak perlu daftar, 100% bebas iklan. Tersedia juga audio murottal dari Qori favoritmu.

Akses Sekarang

Artikel Terkait

Jam pasir dengan pasir yang mengalir, ilustrasi hadits 5 perkara sebelum 5 perkara

Hadits 5 Perkara Sebelum 5 Perkara, Teks dan Penjelasannya

by Daily Muslim

Hadits "5 perkara sebelum 5 perkara" adalah nasihat Rasulullah yang mengingatkan agar memanfaatkan masa-masa baik...

Dua tangan berjabat tangan di atas meja kerja, ilustrasi hadits tentang amanah

Hadits tentang Amanah: Teks Arab, Latin, dan Artinya

by Daily Muslim

Amanah (dapat dipercaya) adalah salah satu sifat wajib yang dimiliki para Nabi dan merupakan tanda...

cara mengingat kematian

4 Cara Mengingat Kematian untuk Melembutkan Hati

by Daily Muslim

Pernahkah kamu merasa bahwa hatimu keras dan sulit tersentuh? Mungkin kamu pernah menyakiti orang lain...

Load More

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jadwal Shalat & Imsakiyah Senin, 2 November 2026
Kota Jakarta
--:--:--
Menuju waktu...
Imsak 03:58
Subuh 04:08
Dzuhur 11:40
Ashar 14:55
Maghrib 17:49
Isya' 19:01
Sumber: Bimas Islam Kemenag RI

Artikel Terbaru

Seseorang berjalan sendirian di jalan setapak hutan musim gugur, ilustrasi bahaya ujub saat banyak beramal shalih

Bahaya Ujub Saat Banyak Beramal Shalih dan Cara Menghindarinya

Dua kursi minimalis terpisah jarak di ruangan kosong, ilustrasi bahaya khalwat dalam Islam

Bahaya Khalwat dalam Islam: Dalil, Batasan, dan Pengecualiannya

Arsitektur bata lumpur khas Najd dengan menara dan halaman tradisional di Arab Saudi, ilustrasi artikel sejarah dan penjelasan tentang istilah Wahabi

Apa Itu Wahabi? Penjelasan Sejarah, Ajaran, dan Kontroversinya Secara Berimbang

Kaligrafi emas bertuliskan Bismillahirrahmanirrahim di atas kertas dengan palet cat emas, ilustrasi artikel kapan membaca basmalah lengkap dan kapan cukup bismillah saja

Kapan Mengucapkan “Bismillahirrahmanirrahim” dan Kapan Cukup “Bismillah” Saja?

Jamaah haji berpakaian ihram putih menghadap Ka'bah di siang hari, ilustrasi keutamaan haji mabrur

Keutamaan Haji Mabrur dan Dalilnya

Seedbacklink
  • Tentang
  • Hubungi
  • Periklanan
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
Popup image
  • News
  • Guideline
    • Bersuci
    • Shalat
    • Puasa
    • Haji dan Umrah
    • Hukum Islam
    • Pernikahan
    • Jual Beli
    • Kurban
    • Wakaf
  • Lifestyle
  • Insight
  • Muslimah
  • Parenting
  • Doa Islami