Dzikir kepada Allah dapat dilakukan di mana saja dan kapan saja, baik secara berjamaah maupun seorang diri. Namun, ada satu bentuk dzikir yang mendapat kedudukan istimewa dalam hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, yaitu dzikir yang dilakukan dalam kesendirian, jauh dari pandangan manusia, hingga menggetarkan hati dan meneteskan air mata.
Salah Satu dari Tujuh Golongan yang Dinaungi Allah
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyebutkan tujuh golongan yang akan mendapat naungan khusus dari Allah pada hari kiamat, sebuah hari ketika tidak ada naungan lain selain naungan-Nya. Salah satu dari ketujuh golongan tersebut adalah:
وَرَجُلٌ ذَكَرَ اللَّهَ خَالِيًا فَفَاضَتْ عَيْنَاهُ
“…dan seseorang yang mengingat Allah dalam keadaan sendirian (sepi dari pandangan orang lain), lalu kedua matanya mengalirkan air mata.” (HR. Bukhari no. 660, Muslim no. 1031)
Adapun enam golongan lainnya yang disebutkan dalam hadits yang sama adalah: pemimpin yang adil, pemuda yang tumbuh dalam ketaatan beribadah kepada Allah, seseorang yang hatinya senantiasa terpaut dengan masjid, dua orang yang saling mencintai karena Allah (bertemu dan berpisah karena-Nya), seorang laki-laki yang digoda oleh wanita cantik dan berkedudukan namun menolak seraya berkata “Aku takut kepada Allah,” serta seseorang yang bersedekah secara diam-diam hingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang disedekahkan tangan kanannya.
Mengapa Dzikir dalam Kesendirian Begitu Istimewa?
Para ulama menjelaskan beberapa alasan mengapa dzikir yang dilakukan dalam kesendirian, jauh dari pandangan orang lain, memiliki kedudukan yang begitu istimewa:
- Terbebas dari unsur riya’ (pamer) — ketika seseorang berdzikir dan menangis di hadapan orang lain, selalu ada kemungkinan tercampurnya keinginan untuk dilihat atau dipuji. Namun, ketika dilakukan dalam kesendirian total, tidak ada motif lain selain murni karena Allah semata.
- Menunjukkan kedalaman hubungan pribadi dengan Allah — dzikir yang hanya disaksikan Allah mencerminkan hubungan batin yang tulus dan mendalam antara seorang hamba dengan Rabb-nya, tanpa perlu validasi atau pengakuan dari manusia.
- Air mata sebagai tanda kelembutan hati — tetesan air mata yang muncul secara alami ketika mengingat Allah menunjukkan kelembutan dan kepekaan hati terhadap kebesaran dan keagungan-Nya, sebuah kondisi spiritual yang sangat dicintai dalam Islam.
Dalil Lain tentang Keutamaan Menangis karena Takut kepada Allah
Keutamaan menangis karena mengingat dan takut kepada Allah juga disebutkan dalam hadits lain:
“Tidak akan masuk neraka seseorang yang menangis karena takut kepada Allah, sampai air susu kembali ke tempatnya (dalam arti sesuatu yang mustahil terjadi, menunjukkan kepastian janji ini).” (HR. Tirmidzi no. 1633, dinilai hasan oleh sebagian ulama hadits)
Bukan Berarti Dzikir Berjamaah Tidak Dianjurkan
Penting dipahami bahwa keutamaan dzikir dalam kesendirian ini tidak berarti menafikan keutamaan dzikir secara berjamaah, yang juga memiliki dalil keutamaannya tersendiri, misalnya hadits tentang majelis dzikir yang dikelilingi para malaikat (HR. Muslim no. 2700). Keduanya memiliki keutamaan masing-masing: dzikir berjamaah menguatkan ukhuwah dan semangat kolektif dalam mengingat Allah, sementara dzikir dalam kesendirian menjadi momen intim dan tulus antara seorang hamba dengan Rabb-nya, bebas dari kemungkinan riya’ yang mungkin muncul dalam keramaian.
Bagaimana Menumbuhkan Kualitas Dzikir seperti Ini?
Beberapa cara yang dapat membantu seorang muslim menumbuhkan kualitas dzikir yang mendalam dan tulus dalam kesendirian:
- Meluangkan waktu khusus untuk beribadah dan berdzikir sendirian, misalnya pada sepertiga malam terakhir, jauh dari gangguan dan pandangan orang lain.
- Merenungkan makna dzikir dan doa yang diucapkan, bukan sekadar mengucapkannya secara mekanis tanpa penghayatan.
- Memperbanyak membaca dan mentadaburi Al-Qur’an, serta merenungkan kebesaran dan nikmat-nikmat Allah yang sering terlewatkan dalam kesibukan sehari-hari.
- Mengingat dosa-dosa dan kelalaian diri sebagai bahan muhasabah, yang dapat menumbuhkan rasa penyesalan dan kelembutan hati di hadapan Allah.
Tanya Jawab Seputar Dzikir dalam Kesendirian
Apakah menangis adalah syarat mutlak agar dzikir termasuk dalam keutamaan ini?
Air mata dalam hadits ini menggambarkan kondisi puncak kelembutan hati yang dialami sebagian orang ketika mengingat Allah, namun bukan berarti dzikir dalam kesendirian tanpa disertai air mata kehilangan nilai keutamaannya. Setiap muslim memiliki kondisi hati yang berbeda-beda; yang terpenting adalah ketulusan dan kekhusyukan dalam mengingat Allah, dengan harapan Allah akan melembutkan hati seiring konsistensi dzikir yang dilakukan.
Apakah dzikir yang dilakukan sambil beraktivitas (misalnya saat bekerja) juga termasuk dzikir yang dianjurkan?
Ya, dzikir pada dasarnya dianjurkan dilakukan kapan saja dan di mana saja, termasuk sambil beraktivitas, sebagaimana Allah memuji orang-orang yang mengingat-Nya dalam berbagai kondisi: berdiri, duduk, maupun berbaring (QS. Ali ‘Imran: 191). Namun, keutamaan khusus dalam hadits tujuh golongan ini secara spesifik menyoroti momen dzikir yang dilakukan dalam kesendirian penuh, sebagai bentuk kedekatan batin yang mendalam dengan Allah.
Mengapa menangis karena takut kepada Allah dijanjikan terhindar dari neraka?
Para ulama menjelaskan bahwa tangisan karena takut kepada Allah mencerminkan kesadaran mendalam akan keagungan dan kekuasaan-Nya, serta penyesalan tulus atas dosa dan kelalaian diri. Kondisi hati semacam ini umumnya diiringi dengan upaya nyata untuk memperbaiki diri dan menjauhi maksiat, sehingga Allah menjanjikan rahmat khusus bagi orang-orang yang memiliki kelembutan dan ketakwaan hati seperti ini.
Kesimpulan
Dzikir yang dilakukan dalam kesendirian, jauh dari pandangan manusia, memiliki kedudukan istimewa dalam Islam karena terbebas dari kemungkinan riya’ dan mencerminkan ketulusan hubungan batin seorang hamba dengan Allah. Keutamaan ini bahkan menjadikannya salah satu dari tujuh golongan yang akan mendapat naungan khusus Allah pada hari kiamat. Membiasakan diri meluangkan waktu untuk dzikir yang khusyuk dalam kesendirian dapat menjadi salah satu jalan untuk meraih kedekatan dan kelembutan hati di hadapan Allah Ta’ala.









