Surat Al-Fath (QS. 48) adalah surat yang begitu dicintai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam hingga beliau menyebutnya lebih beliau cintai daripada dunia seisinya. Berikut penjelasan lengkap keutamaannya.
Teks Hadits Utama
Dari Umar bin Khattab RA, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh, telah diturunkan kepadaku malam ini sebuah surat yang sungguh lebih aku cintai daripada dunia seisinya,” lalu beliau membaca: “Innaa fatahnaa laka fathan mubiinaa…” (Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu kemenangan yang nyata).” (HR. Bukhari no. 5012, dalam Bab Keutamaan Surat Al-Fath, juga HR. Muslim no. 1786)
Latar Belakang Turunnya Surat Al-Fath
Surat ini turun setelah Perjanjian Hudaibiyah pada tahun ke-6 Hijriah, sebuah perjanjian damai dengan kaum Quraisy yang syaratnya sekilas tampak merugikan umat Islam (termasuk gagal masuk Makkah tahun itu), hingga sebagian sahabat merasa kecewa. Namun Allah justru menyebut peristiwa ini sebagai “fathan mubiinaa” (kemenangan yang nyata) — karena perjanjian inilah yang membuka jalan dakwah Islam secara luas, mempermudah interaksi dengan kaum Quraisy, hingga akhirnya mengantarkan pada Fathu Makkah (penaklukan Makkah) dua tahun kemudian tanpa pertumpahan darah berarti.
Kandungan: Ampunan Dosa yang Telah Lalu dan Akan Datang
Di antara kandungan surat ini adalah janji Allah tentang ampunan dosa bagi Rasulullah, baik yang telah lalu maupun yang akan datang, serta kesempurnaan nikmat dan petunjuk ke jalan yang lurus bagi beliau (QS. Al-Fath: 1-2). Ayat-ayat selanjutnya menjelaskan tentang karakteristik orang-orang beriman yang bersama Rasulullah, serta janji ampunan dan pahala besar bagi mereka (QS. Al-Fath: 29).
Tanya Jawab Seputar Keutamaan Surat Al-Fath
Mengapa Rasulullah mencintai surat ini melebihi dunia dan seisinya?
Karena surat ini membawa kabar gembira langsung dari Allah tentang keberhasilan misi dakwah beliau — sesuatu yang jauh lebih berharga bagi seorang Rasul daripada seluruh kekayaan dunia. Surat ini juga menjadi bukti nyata bahwa apa yang tampak sebagai “kekalahan” di mata manusia (Perjanjian Hudaibiyah) sejatinya adalah kemenangan besar dalam rencana Allah.
Apa pelajaran utama yang bisa diambil dari kisah turunnya Surat Al-Fath?
Pelajaran utamanya adalah pentingnya husnuzhan (berbaik sangka) kepada Allah dalam menghadapi keputusan atau situasi yang sekilas tampak merugikan, karena boleh jadi di balik kesulitan tersebut tersimpan kemenangan dan kebaikan besar yang belum tampak di permukaan, sebagaimana dibuktikan langsung dalam peristiwa Hudaibiyah.
===
Referensi:
– HR. Bukhari no. 5012 & Muslim no. 1786 (dari Umar bin Khattab RA)
– QS. Al-Fath: 1-2, 29









