Setiap anak adalah istimewa, namun Evano Gibran Kamil membawa definisi keistimewaan itu ke level yang berbeda. Bocah berusia 8 tahun ini membuktikan bahwa diagnosis Asperger Syndrome bukanlah penghalang untuk menjadi seorang hafiz sekaligus juara olimpiade matematika. Di balik sosoknya yang energik, tersimpan perjuangan keluarga yang luar biasa dalam mendampingi tumbuh kembangnya.
Menghadapi Stigma dan Menemukan Potensi
Perjalanan Evano tidak selalu mulus. Di masa kecil, ia sempat mengalami perlakuan kurang menyenangkan dan diasingkan di sekolah karena perilakunya dianggap “mengganggu”. Namun, orang tuanya tidak menyerah. Melalui konsultasi dengan psikolog, diketahui bahwa Evano adalah seorang anak dengan sindrom Asperger.
Meski memiliki tantangan dalam bersosialisasi dan mengontrol rasa panik, anak-anak Asperger seringkali memiliki minat khusus yang sangat mendalam. Bagi Evano, minat itu adalah matematika dan Al-Qur’an. Menariknya, kecerdasannya mulai terlihat jelas saat ia berhasil menghafal 1 juz Al-Qur’an (Juz 30) tepat saat ia menamatkan jenjang TK. Kini, hafalannya telah mencapai 6 juz.
Si Jenius yang Takut Kalah
Salah satu ciri khas Evano adalah ambisinya yang besar; ia sangat sulit menerima kekalahan. Hal ini sempat membuatnya merasa sangat tertekan saat proses eliminasi di panggung Hafiz Indonesia. Namun, keluarga besarnya—mulai dari kakek, nenek, hingga orang tua—selalu hadir memberikan dukungan penuh (support system). Mereka selalu menanamkan pesan bahwa proses jauh lebih penting daripada hasil akhir atau menjadi juara satu.
Aksi Memukau: Berhitung Cepat di Panggung
Momen paling berkesan terjadi saat host Irfan Hakim mencoba menguji kemampuan matematika Evano di tengah fokusnya menghafal Al-Qur’an. Meski awalnya sempat menolak karena ingin “fokus Hafiz dulu”, Evano akhirnya menjawab rentetan soal penjumlahan dan pengurangan rumit dengan sangat cepat dan akurat, tanpa alat bantu sama sekali.
“17 + 56 = 73… + 24 = 97… – 16 = 81… – 21 = 60… + 29 = 89… + 37 = 126… – 43 = 83!” jawabnya kilat yang disambut tepuk tangan meriah.
Pelajaran bagi Orang Tua: Terima dan Dukung
Kisah Evano memberikan pesan mendalam bagi para orang tua yang memiliki anak “istimewa”. Alih-alih meratapi kondisi, orang tua Evano memilih untuk menerima, memberikan terapi yang tepat, dan memaksimalkan potensi unik yang dimiliki anak mereka.
Evano adalah bukti bahwa anak dengan autisme spektrum rendah (Asperger) memiliki kemampuan kognitif yang luar biasa jika diarahkan dengan kasih sayang. Al-Qur’an dan matematika menjadi jalan baginya untuk bersinar dan menginspirasi jutaan orang.
Tonton aksi jenius Evano selengkapnya di channel YouTube Hafiz Indonesia: https://www.youtube.com/watch?v=hKId4YrNsd4









