Menahan amarah adalah bukti kekuatan jiwa yang sesungguhnya dalam pandangan Islam, bukan kelemahan. Berikut dalil-dalil lengkap keutamaannya.
Teks Hadits Utama
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Bukanlah orang yang kuat itu yang menang dalam pergulatan (gulat). Sesungguhnya orang yang kuat adalah yang mampu menahan dirinya ketika marah.” (HR. Bukhari no. 6114 dan Muslim no. 2609)
Dipanggil di Hadapan Seluruh Makhluk pada Hari Kiamat
Dari Mu’adz bin Anas RA, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa menahan amarahnya padahal ia mampu melampiaskannya, maka Allah akan memanggilnya di hadapan seluruh makhluk pada hari kiamat, hingga Allah memberinya pilihan bidadari mana pun yang ia kehendaki.” (HR. Abu Dawud no. 4777 dan Tirmidzi no. 2021, dinilai hasan)
Wasiat Rasulullah: Jangan Marah
Dari Abu Hurairah RA, seorang laki-laki berkata kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, “Berilah aku wasiat.” Beliau bersabda, “Janganlah engkau marah.” Orang itu mengulangi permintaannya beberapa kali, dan beliau tetap menjawab, “Janganlah engkau marah.” (HR. Bukhari no. 6116)
Tanya Jawab Seputar Keutamaan Menahan Amarah
Apa cara yang diajarkan Rasulullah untuk meredam marah?
Di antaranya: membaca ta’awudz (“A’udzu billahi minasy syaithanir rajim”) karena marah berasal dari godaan setan (HR. Bukhari no. 3282 dan Muslim no. 2610), mengubah posisi tubuh (duduk jika sedang berdiri, berbaring jika sedang duduk), berwudhu untuk meredakan panasnya amarah, serta diam dan tidak mengucapkan apa pun saat marah (HR. Ahmad, dinilai hasan).
Apakah marah selalu tercela dalam Islam?
Tidak selalu. Marah yang tercela adalah marah karena kepentingan diri sendiri atau hawa nafsu yang tidak terkendali. Namun marah karena melihat pelanggaran terhadap aturan Allah (marah karena Allah), sebagaimana yang pernah ditunjukkan Rasulullah ketika melihat kemungkaran, termasuk bentuk marah yang terpuji selama tetap terkendali dan disalurkan dengan cara yang benar sesuai syariat.
===
Referensi:
– HR. Bukhari no. 6114 & Muslim no. 2609 (dari Abu Hurairah RA)
– HR. Abu Dawud no. 4777 & Tirmidzi no. 2021 (hasan, dari Mu’adz bin Anas RA)
– HR. Bukhari no. 6116 (dari Abu Hurairah RA)
– HR. Bukhari no. 3282 & Muslim no. 2610









