Panggung Hafiz Indonesia 2026 kembali meneteskan air mata haru. Kali ini, giliran Aska Gibran Rabani, bocah berusia 10 tahun asal Lampung, yang menyentuh relung hati terdalam kita.
Gibran hadir dengan senyum yang tenang, meski ia membawa kenyataan pahit bahwa kedua bola matanya kini hanyalah protesa atau mata palsu yang berfungsi untuk estetika semata.
Kehilangan Penglihatan di Usia 2 Tahun
Kisah pilu Gibran bermula saat ia berusia satu tahun. Sang ibu mulai curiga karena mata Gibran bersinar seperti mata kucing saat terkena cahaya. Setelah diperiksa, ternyata Gibran menderita kanker retinoblastoma stadium 3, sebuah jenis tumor ganas yang menyerang mata.
Demi menyelamatkan nyawanya, di usia yang baru 2 tahun, Gibran harus menjalani tindakan pengangkatan kedua bola matanya setelah melewati rangkaian kemoterapi yang melelahkan di Jakarta. Sejak saat itu, Gibran belum pernah melihat dunia; ia tak tahu hijaunya rumput, birunya langit, atau merahnya bunga mawar. Semuanya hanya ada dalam imajinasinya melalui pendengaran.
Menghafal Al-Qur’an di Rumah Singgah
Namun, Allah SWT mengganti penglihatan lahiriahnya dengan ketajaman mata hati. Keajaiban dimulai saat Gibran menjalani kemoterapi di Jakarta. Sambil menunggu pengobatan, ia sering mendengarkan rekaman ayat-ayat Al-Qur’an.
Di rumah singgah, tempat para pejuang kanker dari daerah menetap sementara, Gibran mulai menghafal Al-Qur’an ayat demi ayat. Saat ini, ia telah berhasil menjaga 6 juz dalam ingatannya. Baginya, kegelapan fisik bukanlah penghalang, karena Al-Qur’an telah menjadi cahaya yang menuntun setiap langkahnya.
Pelajaran Syukur bagi Kita yang Melihat
Kehadiran Gibran adalah tamparan keras bagi kita yang masih memiliki penglihatan sempurna. Seringkali, mata kita digunakan untuk melihat hal-hal yang tidak bermanfaat, sementara mushaf Al-Qur’an di rumah hanya menjadi pajangan. Gibran, dalam kegelapan totalnya, justru “melihat” terang melalui firman-firman-Nya.
Sang ibu, dengan penuh keikhlasan, memandang ujian ini sebagai cara Allah menjauhkan Gibran dari dosa pandangan (hisab mata) dan memudahkannya menjadi ahli Al-Qur’an. “Mamas tetap istiqomah ya nak, ibu akan selalu nemanin Mamas,” ucap sang ibu dengan penuh kasih.
Gibran adalah bukti nyata bahwa keterbatasan bukanlah alasan untuk berhenti berkarya bagi agama. Ketika dunia gelap, Al-Qur’an hadir sebagai pelita. Semoga kisah Gibran memotivasi kita semua untuk lebih bersyukur atas nikmat penglihatan dan lebih mencintai Al-Qur’an sebagai pedoman hidup.
Saksikan perjuangan Gibran selengkapnya di channel YouTube Hafiz Indonesia: https://www.youtube.com/watch?v=wT0iHA_BRw0









