Shalat malam (qiyamul lail) dan witir adalah ibadah sunnah yang sangat dianjurkan dan rutin dikerjakan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Berbeda dengan sekadar mengetahui keutamaannya, memahami tata cara praktis pelaksanaannya sesuai tuntunan Nabi akan membantu seorang muslim mengamalkannya dengan lebih mantap. Artikel ini merangkum beberapa pola rakaat shalat malam dan witir yang dicontohkan Nabi, berdasarkan riwayat shahih.
Prinsip Dasar: Dua Rakaat-Dua Rakaat
Pola dasar shalat malam yang diajarkan Nabi adalah dikerjakan dua rakaat-dua rakaat, dengan salam di antara setiap dua rakaatnya, kemudian ditutup dengan witir (jumlah rakaat ganjil) sebagai penutup ibadah malam:
صَلَاةُ اللَّيْلِ مَثْنَى مَثْنَى، فَإِذَا خَشِيَ أَحَدُكُمُ الصُّبْحَ صَلَّى رَكْعَةً وَاحِدَةً تُوتِرُ لَهُ مَا قَدْ صَلَّى
“Shalat malam itu dikerjakan dua rakaat-dua rakaat. Apabila salah seorang dari kalian khawatir masuk waktu subuh, maka kerjakanlah satu rakaat yang akan menjadikan witir (ganjil) shalat yang telah dikerjakan sebelumnya.” (HR. Bukhari no. 990, Muslim no. 749)
Beberapa Pola Rakaat yang Dicontohkan Nabi
Aisyah radhiyallahu ‘anha, istri Nabi yang paling banyak meriwayatkan kebiasaan ibadah malam beliau, menyebutkan beberapa pola berbeda yang pernah dikerjakan Nabi. Para ulama menjelaskan bahwa seluruh pola ini sah dan dianjurkan, sehingga seorang muslim dapat bervariasi mengamalkannya, bukan terpaku pada satu jumlah rakaat tertentu.
Pola 1: Sebelas Rakaat (4+4+3)
Aisyah menceritakan kebiasaan Nabi pada bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan:
مَا كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَزِيدُ فِي رَمَضَانَ وَلَا فِي غَيْرِهِ عَلَى إِحْدَى عَشْرَةَ رَكْعَةً
“Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak pernah menambah shalat malamnya, baik di bulan Ramadhan maupun di luar Ramadhan, lebih dari sebelas rakaat.” (HR. Bukhari no. 1147, Muslim no. 738)
Polanya: empat rakaat (dua salam), empat rakaat lagi (dua salam), ditutup tiga rakaat witir.
Pola 2: Tiga Belas Rakaat (8+5)
Dalam riwayat lain, Aisyah menyebutkan jumlah yang sedikit berbeda:
كَانَ يُصَلِّي مِنَ اللَّيْلِ ثَلَاثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً
“Beliau shalat malam sebanyak tiga belas rakaat.” (HR. Bukhari no. 1138, Muslim no. 764)
Pola ini biasanya dipahami sebagai delapan rakaat dengan salam setiap dua rakaat, lalu ditutup lima rakaat witir dalam satu kali salam (duduk tasyahud hanya di rakaat terakhir).
Pola 3: Sembilan Rakaat (6+1+2)
Pada masa tuanya, Nabi juga pernah mengerjakan pola yang berbeda, sebagaimana diceritakan Aisyah:
“Beliau shalat sembilan rakaat tanpa duduk kecuali pada rakaat kedelapan, lalu beliau berdzikir, memuji Allah, dan berdoa kepada-Nya, kemudian bangkit tanpa salam, lalu berdiri untuk rakaat kesembilan. Setelah itu beliau duduk, berdzikir, memuji Allah, berdoa, lalu mengucapkan salam yang dapat kami dengar. Kemudian beliau shalat dua rakaat setelah mengucapkan salam sambil duduk.” (HR. Muslim no. 746)
Kedudukan Witir sebagai Penutup
Nabi sangat menekankan agar witir dijadikan ibadah malam yang terakhir dikerjakan:
اجْعَلُوا آخِرَ صَلَاتِكُمْ بِاللَّيْلِ وِتْرًا
“Jadikanlah shalat witir sebagai akhir dari shalat malam kalian.” (HR. Bukhari no. 998, Muslim no. 751)
Namun, bagi yang khawatir tidak dapat bangun di akhir malam, witir juga boleh dikerjakan lebih awal (setelah shalat Isya, sebelum tidur), berdasarkan sabda Nabi kepada Abu Hurairah agar tidak tidur sebelum mengerjakan witir (HR. Bukhari no. 1178, Muslim no. 721).
Doa Qunut dalam Witir
Pada rakaat terakhir witir, dianjurkan membaca doa qunut, salah satunya diajarkan Nabi kepada cucunya, Al-Hasan bin Ali radhiyallahu ‘anhuma:
اللَّهُمَّ اهْدِنِي فِيمَنْ هَدَيْتَ، وَعَافِنِي فِيمَنْ عَافَيْتَ، وَتَوَلَّنِي فِيمَنْ تَوَلَّيْتَ، وَبَارِكْ لِي فِيمَا أَعْطَيْتَ، وَقِنِي شَرَّ مَا قَضَيْتَ
“Ya Allah, berilah aku petunjuk sebagaimana orang yang telah Engkau beri petunjuk, berilah aku keselamatan sebagaimana orang yang telah Engkau beri keselamatan, uruslah diriku sebagaimana orang yang telah Engkau urus, berkahilah untukku apa yang telah Engkau berikan, dan lindungilah aku dari keburukan apa yang telah Engkau tetapkan.” (HR. Abu Dawud no. 1425, Tirmidzi no. 464)
Perlu dicatat, status sanad riwayat doa qunut ini diperselisihkan ulama hadits: At-Tirmidzi menilainya hasan, bahkan menyebutnya sebagai bacaan qunut terbaik yang diketahui dari Nabi, sementara sebagian ulama lain seperti Ibnu Hajar dalam Bulughul Maram menilai sanadnya dhaif. Terlepas dari perbedaan penilaian sanad secara spesifik, doa ini tetap diamalkan secara luas oleh mayoritas ulama karena kandungan maknanya yang baik dan telah menjadi kebiasaan (amalan) yang diwariskan turun-temurun.
Kesimpulan Praktis
Dari berbagai riwayat di atas, dapat disimpulkan beberapa poin praktis dalam melaksanakan shalat malam dan witir:
- Tidak ada jumlah rakaat yang kaku dan wajib diikuti secara persis; Nabi mencontohkan beberapa pola berbeda (11, 13, atau 9 rakaat), dan seluruhnya sah untuk diamalkan.
- Shalat dikerjakan dua rakaat-dua rakaat dengan salam setiap dua rakaat, kecuali pada witir yang bisa dikerjakan dengan satu salam di akhir meski terdiri dari beberapa rakaat.
- Witir sebaiknya dijadikan penutup ibadah malam, namun boleh dikerjakan lebih awal bagi yang khawatir tidak bangun di akhir malam.
- Doa qunut witir dianjurkan dibaca pada rakaat terakhir, salah satu contohnya adalah doa yang diajarkan kepada Al-Hasan bin Ali.
Tanya Jawab Seputar Tata Cara Shalat Malam dan Witir
Apakah witir harus selalu dikerjakan setelah shalat malam (tahajud)?
Tidak harus. Witir bisa dikerjakan secara terpisah, bahkan langsung setelah shalat Isya sebelum tidur, terutama bagi yang khawatir tidak dapat bangun di sepertiga malam terakhir. Namun, jika seseorang yakin dapat bangun malam, lebih utama menjadikan witir sebagai penutup shalat malamnya.
Apakah qunut witir wajib dibaca setiap malam?
Tidak wajib. Mayoritas ulama memandang qunut witir sebagai sunnah, bukan rukun, sehingga witir tetap sah meski tanpa qunut. Sebagian ulama bahkan berpendapat qunut witir hanya dibaca pada separuh kedua bulan Ramadhan, mengikuti sebagian riwayat praktik generasi awal, meski pendapat ini juga diperselisihkan.
Berapa rakaat minimal witir yang bisa dikerjakan?
Witir minimal bisa dikerjakan satu rakaat saja, berdasarkan hadits “Barangsiapa yang ingin berwitir dengan satu rakaat, maka kerjakanlah” (HR. Abu Dawud, An-Nasa’i, dinilai shahih oleh sebagian ulama hadits), meski mengerjakannya dengan tiga rakaat atau lebih dengan pola yang dicontohkan Nabi lebih utama.
Kesimpulan
Shalat malam dan witir memiliki keluwesan dalam jumlah rakaat, sebagaimana dicontohkan Nabi melalui beberapa pola berbeda, selama tetap mengikuti prinsip dasar dua rakaat-dua rakaat dan ditutup dengan witir yang ganjil. Memahami variasi tata cara ini membantu seorang muslim untuk mengamalkan sunnah ibadah malam dengan lebih luwes dan tidak kaku, sembari tetap menjaga kekhusyukan dan konsistensi dalam menjalankannya.









