Surat An-Naas adalah surat terakhir sekaligus penutup mushaf Al-Qur’an. Meski hanya terdiri dari enam ayat, surat ini menyimpan makna perlindungan yang sangat mendalam dari bahaya bisikan jahat, baik yang berasal dari setan maupun dari manusia. Bersama Surat Al-Falaq, keduanya dikenal sebagai Al-Mu’awwidzatain (dua surat pelindung) yang dianjurkan dibaca setiap hari.
Sebab Turunnya Surat An-Naas
Sebagian riwayat menyebutkan bahwa Surat An-Naas (bersama Al-Falaq) turun berkaitan dengan peristiwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang terkena sihir oleh Lubaid bin Al-A’sham, seorang Yahudi, sebagaimana disebutkan dalam riwayat Aisyah radhiyallahu ‘anha (HR. Bukhari no. 5763, Muslim no. 2189). Namun, sebagian ulama tafsir lain berpendapat bahwa kedua surat ini termasuk surat Makkiyah yang diturunkan lebih awal sebagai perlindungan umum dari segala kejahatan, terlepas dari ada tidaknya kaitan langsung dengan peristiwa sihir tersebut. Terlepas dari perbedaan ini, isi kandungannya tetap relevan sebagai bacaan perlindungan bagi setiap muslim di segala zaman.
Tafsir Ayat per Ayat
Ayat 1-3: Tiga Sifat Allah sebagai Tempat Berlindung
قُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ مَلِكِ النَّاسِ إِلَٰهِ النَّاسِ
“Katakanlah: ‘Aku berlindung kepada Rabb (Tuhan) manusia, Raja manusia, Sembahan (Ilah) manusia.'” (QS. An-Naas: 1-3)
Tiga ayat pembuka ini menyebutkan tiga sifat Allah secara berurutan yang menjadi alasan mengapa seorang hamba pantas berlindung kepada-Nya:
- Rabb (Tuhan/Pemelihara) — menunjukkan Allah sebagai Pencipta dan Pemelihara seluruh manusia, mengandung tauhid rububiyah.
- Malik (Raja) — menunjukkan kekuasaan mutlak Allah atas seluruh manusia, tidak ada raja atau penguasa lain yang setara.
- Ilah (Sembahan) — menunjukkan bahwa hanya Allah yang berhak disembah, mengandung tauhid uluhiyah.
Para ulama tafsir menjelaskan bahwa urutan ini disusun secara bertahap dan logis: seorang hamba pertama-tama mengenal Allah sebagai Pemeliharanya (Rabb), kemudian menyadari kekuasaan-Nya yang mutlak (Malik), hingga akhirnya mengakui bahwa hanya Dialah yang berhak disembah (Ilah). Ketiganya menjadi dasar permohonan perlindungan yang paling kuat, karena berlindung kepada Dzat yang memiliki, menguasai, dan berhak disembah oleh seluruh manusia.
Ayat 4: Dari Kejahatan Bisikan yang Bersembunyi
مِنْ شَرِّ الْوَسْوَاسِ الْخَنَّاسِ
“Dari kejahatan (bisikan) setan yang bersembunyi.” (QS. An-Naas: 4)
Kata “Al-Waswas” merujuk pada bisikan atau godaan yang halus dan tersembunyi, sedangkan “Al-Khannas” berarti sesuatu yang bersembunyi dan menjauh ketika disebut nama Allah. Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma menjelaskan bahwa setan senantiasa membisikkan keburukan ke dalam hati manusia, namun ketika seorang hamba berdzikir mengingat Allah, setan itu akan menyingkir dan bersembunyi, dan kembali membisiki hati ketika hamba tersebut lalai.
Ayat 5: Tempat Bisikan Itu Menyusup
الَّذِي يُوَسْوِسُ فِي صُدُورِ النَّاسِ
“Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada manusia.” (QS. An-Naas: 5)
Ayat ini menegaskan bahwa medan pertempuran utama antara kebaikan dan godaan setan terletak di dalam hati (dada) manusia, bukan semata-mata pada tindakan lahiriah. Karena itu, menjaga kebersihan hati dari bisikan buruk menjadi kunci utama dalam melawan godaan ini.
Ayat 6: Bisikan Bisa Datang dari Jin dan Manusia
مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ
“Dari golongan jin dan manusia.” (QS. An-Naas: 6)
Ayat penutup ini memberikan pelajaran penting: godaan dan bisikan jahat tidak hanya datang dari jin atau setan yang tidak kasat mata, tetapi juga bisa datang dari sesama manusia, misalnya melalui hasutan, pengaruh buruk, atau ajakan menuju keburukan. Karena itu, permohonan perlindungan dalam surat ini mencakup kedua sumber godaan tersebut sekaligus.
Keutamaan Surat An-Naas
Aisyah radhiyallahu ‘anha meriwayatkan kebiasaan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam membaca Al-Mu’awwidzatain (Al-Falaq dan An-Naas) sebagai bagian dari ruqyah (perlindungan) setiap malam sebelum tidur:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا أَوَى إِلَى فِرَاشِهِ كُلَّ لَيْلَةٍ جَمَعَ كَفَّيْهِ، ثُمَّ نَفَثَ فِيهِمَا، فَقَرَأَ فِيهِمَا: قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ، وَقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ الْفَلَقِ، وَقُلْ أَعُوذُ بِرَبِّ النَّاسِ
“Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam, setiap malam ketika hendak tidur, mengumpulkan kedua telapak tangannya lalu meniupnya, kemudian membaca padanya: ‘Qul huwallahu ahad’, ‘Qul a’udzu birabbil falaq’, dan ‘Qul a’udzu birabbin naas’…” (HR. Bukhari no. 5017)
Nabi juga bersabda tentang kedua surat ini secara khusus:
لَمْ يُرَ مِثْلُهُنَّ قَطُّ: الْمُعَوِّذَتَانِ
“Belum pernah terlihat (ada surat) yang menyamainya sama sekali: Al-Mu’awwidzatain (Al-Falaq dan An-Naas).” (HR. Muslim no. 814)
Pelajaran yang Bisa Diambil
Beberapa pelajaran penting dari Surat An-Naas yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari:
- Berlindung kepada Allah adalah solusi utama menghadapi bisikan jahat, baik yang datang dari dalam diri sendiri maupun pengaruh luar.
- Hati manusia adalah medan pertempuran utama antara kebaikan dan keburukan, sehingga menjaga kebersihan hati melalui dzikir dan ibadah menjadi sangat penting.
- Bahaya godaan tidak hanya datang dari makhluk gaib, tetapi juga bisa datang dari sesama manusia, sehingga seorang muslim perlu waspada terhadap pengaruh buruk dari lingkungan sosialnya.
- Membiasakan diri berdzikir dan mengingat Allah dapat membuat bisikan setan menyingkir dan bersembunyi.
Tanya Jawab Seputar Surat An-Naas
Mengapa Surat An-Naas dan Al-Falaq disebut Al-Mu’awwidzatain?
Keduanya disebut Al-Mu’awwidzatain (dua surat permohonan perlindungan) karena isinya secara eksplisit berupa permohonan perlindungan (isti’adzah) kepada Allah, masing-masing dari bahaya kegelapan dan makhluk-Nya (Al-Falaq) serta dari bisikan jahat setan dan manusia (An-Naas).
Apakah bisikan jahat dari manusia sama berbahayanya dengan bisikan setan?
Ayat terakhir surat ini menyandingkan keduanya secara setara (“minal jinnati wan naas”), menunjukkan bahwa pengaruh buruk dari manusia — seperti hasutan, fitnah, atau ajakan menuju maksiat — juga perlu diwaspadai dan dimintakan perlindungan kepada Allah, tidak kalah berbahayanya dengan godaan setan yang tidak kasat mata.
Kapan waktu yang dianjurkan untuk membaca Surat An-Naas?
Berdasarkan hadits, Nabi membiasakan membacanya setiap malam sebelum tidur sambil meniupkannya ke kedua telapak tangan lalu mengusapkannya ke seluruh tubuh. Selain itu, surat ini juga dianjurkan dibaca pada waktu pagi dan petang sebagai bagian dari dzikir harian.
Kesimpulan
Sebagai penutup mushaf Al-Qur’an, Surat An-Naas mengajarkan pelajaran yang sangat relevan bagi kehidupan setiap muslim: bahwa perlindungan sejati dari segala bisikan jahat, baik dari jin maupun manusia, hanya bisa diperoleh dengan berlindung kepada Allah yang Maha Memelihara, Maha Berkuasa, dan satu-satunya yang berhak disembah. Membiasakan diri membaca surat ini, disertai kesadaran akan maknanya, dapat menjadi benteng spiritual yang kokoh dalam menghadapi berbagai godaan kehidupan.









