Di antara kabar gembira yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya adalah akan adanya 70.000 orang dari umat ini yang masuk surga tanpa melalui proses hisab (perhitungan amal) maupun azab terlebih dahulu. Siapa mereka, dan apa ciri-ciri yang membuat mereka meraih keistimewaan ini?
Hadits tentang 70.000 Orang Tanpa Hisab
Riwayat ini disampaikan oleh sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma:
يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِي سَبْعُونَ أَلْفًا بِغَيْرِ حِسَابٍ
“Akan masuk surga dari umatku sebanyak tujuh puluh ribu orang tanpa hisab.” (HR. Bukhari no. 5752, Muslim no. 220)
Dalam riwayat lain dari sahabat Tsauban radhiyallahu ‘anhu, disebutkan keterangan tambahan yang menunjukkan jumlah ini bisa jauh lebih besar lagi:
“Akan masuk surga dari umatku tujuh puluh ribu orang tanpa hisab dan tanpa azab, dan pada setiap seribu orang dari mereka terdapat tujuh puluh ribu orang lagi (yang ikut bersama mereka).” (HR. Ahmad, dinilai shahih oleh sebagian ulama hadits)
Para ulama menjelaskan bahwa angka 70.000 dalam hadits ini merupakan jumlah rombongan khusus yang pertama kali masuk surga tanpa hisab, bukan berarti jumlah total penduduk surga dari umat Nabi Muhammad hanya sebatas itu. Riwayat tambahan dari Tsauban menunjukkan bahwa jumlah sebenarnya jauh lebih besar, sebagai bentuk karunia dan rahmat Allah yang sangat luas.
Ciri-Ciri Golongan yang Masuk Surga Tanpa Hisab
Dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Abbas, para sahabat bertanya tentang siapa golongan istimewa ini, dan Nabi menjelaskan ciri-ciri mereka:
هُمُ الَّذِينَ لَا يَسْتَرْقُونَ، وَلَا يَتَطَيَّرُونَ، وَلَا يَكْتَوُونَ، وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ
“Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta diruqyah, tidak melakukan tathayyur (merasa bernasib sial karena suatu pertanda), tidak melakukan pengobatan dengan kay (menempelkan besi panas), dan mereka bertawakal kepada Rabb mereka.” (HR. Bukhari no. 5705, Muslim no. 220)
Para ulama menjelaskan makna masing-masing ciri ini:
- Tidak meminta diruqyah (laa yastarquun) — maksudnya bukan melarang ruqyah itu sendiri (karena Nabi sendiri membolehkan dan pernah melakukan ruqyah), melainkan tidak bergantung dan meminta-minta untuk diruqyah oleh orang lain karena terlalu mengharapkan sebab selain Allah, sementara hatinya tetap bersandar penuh kepada-Nya.
- Tidak melakukan tathayyur — yaitu tidak merasa pesimis atau bernasib sial karena melihat suatu pertanda tertentu (seperti suara burung, hari tertentu, atau kejadian tak terduga), karena meyakini bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak dan takdir Allah semata.
- Tidak berobat dengan kay — yaitu tidak menjadikan metode pengobatan dengan menempelkan besi panas sebagai sandaran utama, karena metode ini meski dibolehkan dalam kondisi tertentu, Nabi sendiri kurang menyukainya sebagai pilihan utama.
- Bertawakal kepada Rabb mereka — inilah inti dari seluruh ciri di atas: hati yang sepenuhnya bersandar dan percaya kepada Allah dalam segala urusan, tidak bergantung secara berlebihan kepada sebab-sebab duniawi.
Intinya, golongan ini memiliki kemurnian tauhid dan tawakal yang sangat tinggi, tidak mencampuradukkan keyakinannya dengan ketergantungan berlebihan pada sebab-sebab tertentu yang dapat mengurangi kesempurnaan tawakal kepada Allah.
Kisah Ukkasyah bin Mihshan
Hadits ini juga menyertakan kisah yang sangat menyentuh tentang seorang sahabat bernama Ukkasyah bin Mihshan radhiyallahu ‘anhu:
Setelah Nabi menjelaskan ciri-ciri golongan 70.000 tersebut, berdirilah Ukkasyah bin Mihshan dan berkata, “Doakanlah kepada Allah agar aku termasuk golongan mereka.” Nabi pun menjawab, “Engkau termasuk golongan mereka.” Kemudian berdiri pula sahabat lain dan memohon hal yang sama, namun Nabi menjawab, “Ukkasyah telah mendahuluimu (dalam permohonan ini).” (HR. Bukhari no. 5705, Muslim no. 220)
Para ulama menjelaskan bahwa jawaban Nabi kepada sahabat kedua bukan berarti pintu kebaikan ini tertutup bagi yang lain secara mutlak, melainkan menunjukkan keutamaan bersegera (mubadarah) dalam meminta kebaikan, serta adab untuk tidak sekadar menirukan permintaan orang lain tanpa kesungguhan yang sama.
Bagaimana Caranya Agar Termasuk Golongan Ini?
Meski keistimewaan ini adalah karunia Allah yang tidak dapat dipastikan oleh siapa pun secara mutlak, para ulama menjelaskan bahwa jalan menuju golongan ini dapat diupayakan melalui:
- Memurnikan tauhid dari segala bentuk ketergantungan kepada selain Allah, termasuk dari kepercayaan pada pertanda-pertanda yang tidak berdasar syariat.
- Menguatkan tawakal kepada Allah dalam segala urusan, tanpa mengabaikan usaha (ikhtiar) yang disyariatkan.
- Memperbanyak doa agar dimasukkan ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang istimewa ini, sebagaimana yang dilakukan Ukkasyah bin Mihshan.
Tanya Jawab Seputar 70.000 Orang Tanpa Hisab
Apakah hadits ini berarti ruqyah dan pengobatan medis dilarang dalam Islam?
Tidak. Nabi sendiri pernah melakukan dan membolehkan ruqyah syar’iyyah (yang sesuai syariat) serta menganjurkan berobat ketika sakit. Yang dimaksud dalam hadits ini adalah sikap hati yang terlalu bergantung dan meminta-minta untuk diruqyah oleh orang lain hingga mengurangi kesempurnaan tawakal, bukan larangan terhadap ruqyah atau pengobatan itu sendiri.
Apakah jumlah 70.000 ini sudah final, atau bisa bertambah hingga hari ini?
Berdasarkan riwayat dari Tsauban, setiap seribu orang dari 70.000 tersebut membawa serta 70.000 orang lainnya, menunjukkan jumlah totalnya jauh lebih besar dari angka awal yang disebutkan. Ini menunjukkan karunia Allah yang sangat luas dan tidak terbatas kepada umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Apa pelajaran utama yang bisa diambil dari kisah Ukkasyah bin Mihshan?
Pelajaran utamanya adalah pentingnya bersegera (mubadarah) dalam meraih kebaikan dan memohon kepada Allah dengan kesungguhan hati, bukan sekadar ikut-ikutan. Permintaan Ukkasyah yang tulus dan penuh keyakinan menjadikannya layak mendapatkan jawaban istimewa dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Kesimpulan
Kabar gembira tentang 70.000 umat Nabi yang masuk surga tanpa hisab menunjukkan betapa besar keutamaan kemurnian tauhid dan kesempurnaan tawakal kepada Allah. Golongan ini bukan dikenal dari banyaknya amal lahiriah semata, melainkan dari kebersihan hati mereka dari ketergantungan berlebihan kepada sebab-sebab selain Allah. Kisah Ukkasyah bin Mihshan yang bersegera memohon termasuk golongan ini juga mengajarkan pentingnya kesungguhan dan ketulusan dalam berdoa, menjadi teladan bagi setiap muslim yang berharap meraih karunia serupa.









