Daily Muslim
  • News
  • Guideline
    • Bersuci
    • Shalat
    • Puasa
    • Haji dan Umrah
    • Hukum Islam
    • Pernikahan
    • Jual Beli
    • Kurban
    • Wakaf
  • Lifestyle
  • Insight
  • Muslimah
  • Parenting
  • Doa Islami
No Result
View All Result
  • Al-Qur’an Digital
  • Jadwal Shalat & Imsakiyah
  • Kalkulator Zakat
Daily Muslim
  • News
  • Guideline
    • Bersuci
    • Shalat
    • Puasa
    • Haji dan Umrah
    • Hukum Islam
    • Pernikahan
    • Jual Beli
    • Kurban
    • Wakaf
  • Lifestyle
  • Insight
  • Muslimah
  • Parenting
  • Doa Islami
No Result
View All Result
Daily Muslim
No Result
View All Result
  • Al-Qur’an Digital
  • Jadwal Shalat & Imsakiyah
  • Kalkulator Zakat
Home Insight Hadits

70.000 Umat Nabi yang Masuk Surga Tanpa Hisab: Siapa Mereka?

by Daily Muslim
5 November 2026
Lorong taman asri dinaungi pepohonan rindang disinari cahaya matahari, ilustrasi golongan yang masuk surga tanpa hisab

Lorong Taman Dinaungi Pepohonan

Share ke WAShare ke TelegramShare ke FB

Di antara kabar gembira yang disampaikan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam kepada umatnya adalah akan adanya 70.000 orang dari umat ini yang masuk surga tanpa melalui proses hisab (perhitungan amal) maupun azab terlebih dahulu. Siapa mereka, dan apa ciri-ciri yang membuat mereka meraih keistimewaan ini?

Daftar Isi

Toggle
  • Hadits tentang 70.000 Orang Tanpa Hisab
  • Ciri-Ciri Golongan yang Masuk Surga Tanpa Hisab
  • Kisah Ukkasyah bin Mihshan
  • Bagaimana Caranya Agar Termasuk Golongan Ini?
  • Tanya Jawab Seputar 70.000 Orang Tanpa Hisab
    • Apakah hadits ini berarti ruqyah dan pengobatan medis dilarang dalam Islam?
    • Baca Juga
    • Hadits Kewajiban Mencintai Nabi Melebihi Cinta Kepada Makhluk
    • Ini Dia Hukum Membatalkan Puasa Karena Melayani Suami
    • Apakah jumlah 70.000 ini sudah final, atau bisa bertambah hingga hari ini?
    • Apa pelajaran utama yang bisa diambil dari kisah Ukkasyah bin Mihshan?
  • Kesimpulan

Hadits tentang 70.000 Orang Tanpa Hisab

Riwayat ini disampaikan oleh sahabat Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma:

يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مِنْ أُمَّتِي سَبْعُونَ أَلْفًا بِغَيْرِ حِسَابٍ

“Akan masuk surga dari umatku sebanyak tujuh puluh ribu orang tanpa hisab.” (HR. Bukhari no. 5752, Muslim no. 220)

Dalam riwayat lain dari sahabat Tsauban radhiyallahu ‘anhu, disebutkan keterangan tambahan yang menunjukkan jumlah ini bisa jauh lebih besar lagi:

“Akan masuk surga dari umatku tujuh puluh ribu orang tanpa hisab dan tanpa azab, dan pada setiap seribu orang dari mereka terdapat tujuh puluh ribu orang lagi (yang ikut bersama mereka).” (HR. Ahmad, dinilai shahih oleh sebagian ulama hadits)

Para ulama menjelaskan bahwa angka 70.000 dalam hadits ini merupakan jumlah rombongan khusus yang pertama kali masuk surga tanpa hisab, bukan berarti jumlah total penduduk surga dari umat Nabi Muhammad hanya sebatas itu. Riwayat tambahan dari Tsauban menunjukkan bahwa jumlah sebenarnya jauh lebih besar, sebagai bentuk karunia dan rahmat Allah yang sangat luas.

Ciri-Ciri Golongan yang Masuk Surga Tanpa Hisab

Dalam hadits yang diriwayatkan Ibnu Abbas, para sahabat bertanya tentang siapa golongan istimewa ini, dan Nabi menjelaskan ciri-ciri mereka:

هُمُ الَّذِينَ لَا يَسْتَرْقُونَ، وَلَا يَتَطَيَّرُونَ، وَلَا يَكْتَوُونَ، وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ

“Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta diruqyah, tidak melakukan tathayyur (merasa bernasib sial karena suatu pertanda), tidak melakukan pengobatan dengan kay (menempelkan besi panas), dan mereka bertawakal kepada Rabb mereka.” (HR. Bukhari no. 5705, Muslim no. 220)

Para ulama menjelaskan makna masing-masing ciri ini:

  • Tidak meminta diruqyah (laa yastarquun) — maksudnya bukan melarang ruqyah itu sendiri (karena Nabi sendiri membolehkan dan pernah melakukan ruqyah), melainkan tidak bergantung dan meminta-minta untuk diruqyah oleh orang lain karena terlalu mengharapkan sebab selain Allah, sementara hatinya tetap bersandar penuh kepada-Nya.
  • Tidak melakukan tathayyur — yaitu tidak merasa pesimis atau bernasib sial karena melihat suatu pertanda tertentu (seperti suara burung, hari tertentu, atau kejadian tak terduga), karena meyakini bahwa segala sesuatu terjadi atas kehendak dan takdir Allah semata.
  • Tidak berobat dengan kay — yaitu tidak menjadikan metode pengobatan dengan menempelkan besi panas sebagai sandaran utama, karena metode ini meski dibolehkan dalam kondisi tertentu, Nabi sendiri kurang menyukainya sebagai pilihan utama.
  • Bertawakal kepada Rabb mereka — inilah inti dari seluruh ciri di atas: hati yang sepenuhnya bersandar dan percaya kepada Allah dalam segala urusan, tidak bergantung secara berlebihan kepada sebab-sebab duniawi.

Intinya, golongan ini memiliki kemurnian tauhid dan tawakal yang sangat tinggi, tidak mencampuradukkan keyakinannya dengan ketergantungan berlebihan pada sebab-sebab tertentu yang dapat mengurangi kesempurnaan tawakal kepada Allah.

Kisah Ukkasyah bin Mihshan

Hadits ini juga menyertakan kisah yang sangat menyentuh tentang seorang sahabat bernama Ukkasyah bin Mihshan radhiyallahu ‘anhu:

Setelah Nabi menjelaskan ciri-ciri golongan 70.000 tersebut, berdirilah Ukkasyah bin Mihshan dan berkata, “Doakanlah kepada Allah agar aku termasuk golongan mereka.” Nabi pun menjawab, “Engkau termasuk golongan mereka.” Kemudian berdiri pula sahabat lain dan memohon hal yang sama, namun Nabi menjawab, “Ukkasyah telah mendahuluimu (dalam permohonan ini).” (HR. Bukhari no. 5705, Muslim no. 220)

Para ulama menjelaskan bahwa jawaban Nabi kepada sahabat kedua bukan berarti pintu kebaikan ini tertutup bagi yang lain secara mutlak, melainkan menunjukkan keutamaan bersegera (mubadarah) dalam meminta kebaikan, serta adab untuk tidak sekadar menirukan permintaan orang lain tanpa kesungguhan yang sama.

Bagaimana Caranya Agar Termasuk Golongan Ini?

Meski keistimewaan ini adalah karunia Allah yang tidak dapat dipastikan oleh siapa pun secara mutlak, para ulama menjelaskan bahwa jalan menuju golongan ini dapat diupayakan melalui:

  • Memurnikan tauhid dari segala bentuk ketergantungan kepada selain Allah, termasuk dari kepercayaan pada pertanda-pertanda yang tidak berdasar syariat.
  • Menguatkan tawakal kepada Allah dalam segala urusan, tanpa mengabaikan usaha (ikhtiar) yang disyariatkan.
  • Memperbanyak doa agar dimasukkan ke dalam golongan hamba-hamba-Nya yang istimewa ini, sebagaimana yang dilakukan Ukkasyah bin Mihshan.

Tanya Jawab Seputar 70.000 Orang Tanpa Hisab

Apakah hadits ini berarti ruqyah dan pengobatan medis dilarang dalam Islam?

Tidak. Nabi sendiri pernah melakukan dan membolehkan ruqyah syar’iyyah (yang sesuai syariat) serta menganjurkan berobat ketika sakit. Yang dimaksud dalam hadits ini adalah sikap hati yang terlalu bergantung dan meminta-minta untuk diruqyah oleh orang lain hingga mengurangi kesempurnaan tawakal, bukan larangan terhadap ruqyah atau pengobatan itu sendiri.

Baca Juga

Hadits Kewajiban Mencintai Nabi Melebihi Cinta Kepada Makhluk

Ini Dia Hukum Membatalkan Puasa Karena Melayani Suami

Apakah jumlah 70.000 ini sudah final, atau bisa bertambah hingga hari ini?

Berdasarkan riwayat dari Tsauban, setiap seribu orang dari 70.000 tersebut membawa serta 70.000 orang lainnya, menunjukkan jumlah totalnya jauh lebih besar dari angka awal yang disebutkan. Ini menunjukkan karunia Allah yang sangat luas dan tidak terbatas kepada umat Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Apa pelajaran utama yang bisa diambil dari kisah Ukkasyah bin Mihshan?

Pelajaran utamanya adalah pentingnya bersegera (mubadarah) dalam meraih kebaikan dan memohon kepada Allah dengan kesungguhan hati, bukan sekadar ikut-ikutan. Permintaan Ukkasyah yang tulus dan penuh keyakinan menjadikannya layak mendapatkan jawaban istimewa dari Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Kesimpulan

Kabar gembira tentang 70.000 umat Nabi yang masuk surga tanpa hisab menunjukkan betapa besar keutamaan kemurnian tauhid dan kesempurnaan tawakal kepada Allah. Golongan ini bukan dikenal dari banyaknya amal lahiriah semata, melainkan dari kebersihan hati mereka dari ketergantungan berlebihan kepada sebab-sebab selain Allah. Kisah Ukkasyah bin Mihshan yang bersegera memohon termasuk golongan ini juga mengajarkan pentingnya kesungguhan dan ketulusan dalam berdoa, menjadi teladan bagi setiap muslim yang berharap meraih karunia serupa.

Saatnya Ngaji Tanpa Distraksi!

Akses Al-Qur'an Digital gratis! Gak perlu install, gak perlu daftar, 100% bebas iklan. Tersedia juga audio murottal dari Qori favoritmu.

Akses Sekarang

Artikel Terkait

Tangan memegang mushaf Al-Qur'an bersampul hitam emas, ilustrasi keutamaan Nuzulul Qur'an

Keutamaan Nuzulul Qur’an dan Catatan Penting Soal Tanggalnya

by Daily Muslim

Nuzulul Qur'an memperingati momen diturunkannya Al-Qur'an, yang diyakini banyak umat Islam Indonesia jatuh pada 17...

Tangan ibu menggenggam lembut tangan bayi yang baru lahir, ilustrasi keutamaan Surat Maryam

Keutamaan Surat Maryam: Kisah dan Kandungannya

by Daily Muslim

Surat Maryam (QS. 19) memuat kisah-kisah inspiratif tentang keajaiban dan kekuasaan Allah, termasuk kisah Nabi...

Tumpukan batu tersusun seimbang di tepi laut saat senja, ilustrasi hadits tentang moderasi beragama

Hadits tentang Moderasi Beragama (Wasathiyah) dalam Islam

by Daily Muslim

Islam mengajarkan sikap pertengahan (wasathiyah) dalam beragama — tidak berlebihan (ghuluw) dan tidak pula meremehkan....

Load More

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jadwal Shalat & Imsakiyah Kamis, 5 November 2026
Kota Jakarta
--:--:--
Menuju waktu...
Imsak 03:58
Subuh 04:08
Dzuhur 11:40
Ashar 14:57
Maghrib 17:50
Isya' 19:02
Sumber: Bimas Islam Kemenag RI

Artikel Terbaru

Lorong taman asri dinaungi pepohonan rindang disinari cahaya matahari, ilustrasi golongan yang masuk surga tanpa hisab

70.000 Umat Nabi yang Masuk Surga Tanpa Hisab: Siapa Mereka?

Bola kristal, kartu tarot, dan batu kristal di atas meja peramal, ilustrasi larangan mendatangi dukun dan paranormal

Hukum Mendatangi Dukun dan Paranormal dalam Islam

Sajadah tergelar di depan relung mihrab yang disinari cahaya hangat, ilustrasi tata cara shalat malam dan witir

Tata Cara Shalat Malam dan Witir Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam

Tumpukan koin logam berserakan di atas meja kayu, ilustrasi bahaya riba dalam Islam

Riba dan Bahayanya: Dalil Larangan serta Dampaknya bagi Pelaku

Jejak cahaya bintang di langit malam yang gelap, ilustrasi tafsir Surat An-Naas sebagai bacaan pelindung malam hari

Tafsir Surat An-Naas: Makna, Keutamaan, dan Pelajaran dari Surat Penutup Al-Qur’an

Seedbacklink
  • Tentang
  • Hubungi
  • Periklanan
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
Popup image
  • News
  • Guideline
    • Bersuci
    • Shalat
    • Puasa
    • Haji dan Umrah
    • Hukum Islam
    • Pernikahan
    • Jual Beli
    • Kurban
    • Wakaf
  • Lifestyle
  • Insight
  • Muslimah
  • Parenting
  • Doa Islami