Mengucapkan salam (“Assalamu’alaikum”) adalah salah satu sunnah yang tampak sederhana, namun menyimpan keutamaan yang sangat besar dalam Islam. Lebih dari sekadar sapaan formal, menyebarkan salam adalah jalan yang diajarkan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk menumbuhkan rasa cinta dan persaudaraan di antara sesama muslim, bahkan menjadi salah satu kunci menuju surga.
Menebarkan Salam, Jalan Menuju Surga dan Rasa Cinta
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menghubungkan secara langsung antara iman, rasa cinta sesama muslim, dan kebiasaan menyebarkan salam:
لَا تَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ حَتَّى تُؤْمِنُوا، وَلَا تُؤْمِنُوا حَتَّى تَحَابُّوا، أَوَلَا أَدُلُّكُمْ عَلَى شَيْءٍ إِذَا فَعَلْتُمُوهُ تَحَابَبْتُمْ؟ أَفْشُوا السَّلَامَ بَيْنَكُمْ
“Kalian tidak akan masuk surga sampai kalian beriman, dan kalian tidak beriman sampai kalian saling mencintai. Maukah kutunjukkan kepada kalian sesuatu yang jika kalian lakukan, niscaya kalian akan saling mencintai? Sebarkanlah salam di antara kalian.” (HR. Muslim no. 54, dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu)
Hadits ini menunjukkan bahwa salam bukan sekadar basa-basi, melainkan sarana yang secara efektif dapat menumbuhkan ikatan cinta dan persaudaraan antar sesama muslim, yang pada akhirnya menjadi bagian penting dari kesempurnaan iman.
Salam Termasuk Hak Sesama Muslim
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam juga menyebutkan menjawab salam sebagai salah satu dari hak-hak yang wajib ditunaikan seorang muslim terhadap muslim lainnya:
“Hak muslim atas muslim lainnya ada enam…” di antaranya beliau menyebutkan, “…apabila engkau bertemu dengannya, ucapkanlah salam kepadanya.” (HR. Muslim no. 2162)
Sementara mengucapkan salam pertama kali dihukumi sunnah (dianjurkan), menjawab salam yang diucapkan orang lain kepada kita termasuk kewajiban, berdasarkan firman Allah:
وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا
“Apabila kamu diberi penghormatan dengan sesuatu penghormatan (salam), maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah penghormatan itu (dengan yang serupa).” (QS. An-Nisa: 86)
Adab Mengucapkan Salam
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan adab tentang siapa yang sepatutnya memulai mengucapkan salam terlebih dahulu dalam berbagai situasi:
يُسَلِّمُ الرَّاكِبُ عَلَى الْمَاشِي، وَالْمَاشِي عَلَى الْقَاعِدِ، وَالْقَلِيلُ عَلَى الْكَثِيرِ
“Orang yang berkendara mengucapkan salam kepada orang yang berjalan kaki, orang yang berjalan kaki mengucapkan salam kepada orang yang duduk, dan rombongan yang sedikit mengucapkan salam kepada rombongan yang lebih banyak.” (HR. Bukhari no. 6234, Muslim no. 2160)
Para ulama menjelaskan bahwa kaidah ini bersifat anjuran umum untuk membiasakan sikap rendah hati, bukan larangan mutlak bagi pihak lain untuk memulai salam lebih dulu. Siapa pun yang mendahului mengucapkan salam tetap mendapatkan keutamaan sebagaimana dijelaskan dalam hadits lain bahwa orang yang memulai salam lebih dekat kepada Allah (HR. Abu Dawud, Tirmidzi).
Lafaz dan Pahala Salam
Salam yang paling sempurna adalah mengucapkan lafaz lengkap “Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,” karena setiap tambahan kata membawa tambahan pahala, sebagaimana diceritakan dalam sebuah hadits di mana seorang sahabat mengucapkan salam dengan lafaz lengkap, dan Nabi menjelaskan bahwa pahalanya mencapai tiga puluh (dibanding sepuluh atau dua puluh untuk lafaz yang lebih pendek) (HR. Abu Dawud no. 5195, Tirmidzi no. 2689, dinilai hasan oleh sebagian ulama hadits).
Mengapa Salam Begitu Dianjurkan untuk Disebarkan?
Beberapa alasan mengapa menyebarkan salam memiliki kedudukan istimewa dalam Islam:
- Salam adalah doa — ucapan “Assalamu’alaikum” secara harfiah berarti “semoga keselamatan tercurah atasmu,” menjadikan setiap salam sebagai doa kebaikan bagi orang yang disapa.
- Salam mencairkan kecanggungan dan permusuhan — membiasakan mengucapkan salam, bahkan kepada orang yang belum dikenal, dapat meruntuhkan sekat-sekat sosial dan menumbuhkan keakraban.
- Salam adalah identitas khas kaum muslimin — sebagai bentuk penghormatan yang khas dan membedakan interaksi sosial muslim dari sekadar basa-basi duniawi semata.
Tanya Jawab Seputar Salam
Apakah wajib menjawab salam dari siapa pun yang mengucapkannya?
Secara umum, menjawab salam dari sesama muslim hukumnya wajib kifayah (jika diucapkan kepada sekelompok orang, cukup salah satu yang menjawab untuk menggugurkan kewajiban yang lain), sementara jika diucapkan kepada satu orang secara langsung, maka wajib ‘ain (wajib bagi orang tersebut secara pribadi) untuk menjawabnya.
Apakah dianjurkan mengucapkan salam kepada orang yang belum dikenal?
Ya, bahkan dalam hadits yang menjelaskan hak Islam yang paling utama, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam ditanya amalan Islam apa yang paling baik, beliau menjawab, “…dan engkau mengucapkan salam kepada orang yang engkau kenal maupun yang tidak engkau kenal” (HR. Bukhari no. 12, Muslim no. 39), menunjukkan bahwa salam dianjurkan disebarkan secara luas, tidak terbatas pada orang-orang yang sudah dikenal saja.
Bolehkah mengucapkan salam dengan ucapan selain “Assalamu’alaikum”, seperti “selamat pagi”?
Ucapan “Assalamu’alaikum” memiliki keutamaan dan status khusus sebagai salam yang diajarkan dalam Islam, berbeda dengan ucapan sapaan umum seperti “selamat pagi” yang tidak memiliki kandungan doa dan keutamaan yang sama. Karena itu, sesama muslim dianjurkan untuk membiasakan mengucapkan salam Islami ini sebagai bentuk sapaan utama, tanpa menafikan kebolehan sapaan umum dalam konteks sosial tertentu.
Kesimpulan
Menyebarkan salam adalah sunnah sederhana namun penuh keutamaan: menjadi jalan menuju surga, sarana menumbuhkan rasa cinta sesama muslim, serta bentuk doa keselamatan bagi orang yang disapa. Membiasakan diri mengucapkan dan menjawab salam dengan adab yang baik — kepada yang dikenal maupun yang belum dikenal — dapat menjadi langkah sederhana namun bermakna besar dalam mempererat ikatan persaudaraan umat Islam.









