Dzikir tasbih “Subhanallah” (Maha Suci Allah) adalah salah satu kalimat thayyibah yang paling dicintai Allah dan ringan diucapkan namun berat timbangannya. Berikut hadits-hadits tentang keutamaannya.
Dua Kalimat yang Dicintai Allah
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Dua kalimat yang ringan diucapkan di lisan, berat dalam timbangan (amal), dan dicintai oleh Yang Maha Pengasih: Subhanallahi wa bihamdihi, Subhanallahil ‘Azhim (Maha Suci Allah dan segala puji bagi-Nya, Maha Suci Allah Yang Maha Agung).” (HR. Bukhari no. 6406 dan Muslim no. 2694)
Menghapuskan Dosa Sebanyak Buih di Lautan
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa mengucapkan Subhanallahi wa bihamdihi seratus kali dalam sehari, maka akan dihapuskan kesalahan-kesalahannya meskipun sebanyak buih di lautan.” (HR. Bukhari no. 6405 dan Muslim no. 2691)
Tasbih Seluruh Makhluk
تُسَبِّحُ لَهُ السَّمَاوَاتُ السَّبْعُ وَالْأَرْضُ وَمَن فِيهِنَّ
Artinya: “Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah…” (QS. Al-Isra: 44). Ayat ini menunjukkan bahwa bertasbih (mensucikan Allah dari segala kekurangan) merupakan aktivitas seluruh alam semesta, dan manusia dianjurkan ikut serta di dalamnya secara sadar melalui lisan dan hati.
Tanya Jawab Seputar Keutamaan Dzikir Tasbih
Apa perbedaan antara “Subhanallah” saja dan “Subhanallahi wa bihamdihi”?
“Subhanallah” saja berarti menyucikan Allah dari segala kekurangan, sedangkan “Subhanallahi wa bihamdihi” menggabungkan penyucian tersebut dengan pujian (hamd) kepada Allah atas segala nikmat-Nya. Hadits-hadits yang menyebutkan pahala besar (seperti terhapusnya dosa) umumnya menggunakan redaksi lengkap “Subhanallahi wa bihamdihi”.
Kapan waktu terbaik membaca dzikir tasbih ini?
Dzikir ini dianjurkan dibaca kapan saja, khususnya setelah shalat fardhu (sebagai bagian dari dzikir ba’da shalat bersama takbir dan tahmid), serta di waktu pagi dan petang sebagaimana dianjurkan dalam rangkaian dzikir harian seorang Muslim.
===
Referensi:
– HR. Bukhari no. 6406 & Muslim no. 2694 (dari Abu Hurairah RA)
– HR. Bukhari no. 6405 & Muslim no. 2691 (dari Abu Hurairah RA)
– QS. Al-Isra: 44









