Jihad fi sabilillah (bersungguh-sungguh di jalan Allah) adalah salah satu amalan paling utama dalam Islam, meski maknanya jauh lebih luas daripada sekadar peperangan. Berikut dalil-dalil keutamaannya beserta penjelasan cakupan maknanya.
Teks Hadits Utama
Dari Abu Hurairah RA, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya: “Amalan apakah yang paling baik?” Beliau menjawab: “Iman kepada Allah dan Rasul-Nya.” Ditanya lagi: “Kemudian apa?” Beliau menjawab: “Jihad di jalan Allah.” Ditanya lagi: “Kemudian apa?” Beliau menjawab: “Haji yang mabrur.” (HR. Bukhari no. 26)
Klarifikasi: Makna Jihad Sangat Luas, Bukan Hanya Perang
Perlu dipahami dengan benar: jihad secara bahasa berarti “bersungguh-sungguh”, dan dalam syariat mencakup makna yang jauh lebih luas daripada sekadar peperangan fisik (qital). Jihad fi sabilillah dalam bentuk peperangan hanya sah dilakukan dalam kerangka negara/pemerintahan yang sah, dengan syarat dan aturan ketat yang diatur syariat, bukan tindakan perorangan atau kelompok yang bertindak sendiri di luar otoritas yang sah. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam juga menyebut jihad terbesar adalah melawan hawa nafsu sendiri: “Mujahid (orang yang berjihad) adalah orang yang bersungguh-sungguh melawan hawa nafsunya dalam rangka taat kepada Allah.” (HR. Tirmidzi no. 1621, dinilai hasan shahih)
Keutamaan Berjuang di Jalan Allah
Dari Anas bin Malik RA, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sungguh berjalan di waktu pagi atau sore (dalam rangka jihad) di jalan Allah lebih baik daripada dunia dan seisinya.” (HR. Bukhari no. 2792 dan Muslim no. 1880)
Tanya Jawab Seputar Keutamaan Jihad Fi Sabilillah
Apa saja bentuk jihad selain berperang?
Di antaranya: jihan melawan hawa nafsu agar taat kepada Allah, jihad menuntut ilmu agama dan mendakwahkannya, jihad melawan setan yang menggoda kepada keburukan, berjuang mencari nafkah halal untuk menafkahi keluarga, serta bersungguh-sungguh beramal shalih dan menegakkan kebenaran dengan lisan maupun tulisan sesuai kemampuan masing-masing.
Apakah jihad perang boleh dilakukan secara perorangan tanpa izin otoritas yang sah?
Tidak. Jihad dalam bentuk peperangan termasuk perkara yang diatur ketat oleh syariat dan hanya sah di bawah komando pemimpin (imam/ulil amri) yang sah, dengan syarat dan tata cara yang telah ditetapkan. Tindakan kekerasan yang dilakukan individu atau kelompok secara sepihak, apalagi menyasar warga sipil, bukanlah jihad yang dibenarkan syariat dan justru bertentangan dengan prinsip-prinsip Islam tentang keadilan dan perlindungan jiwa manusia.
===
Referensi:
– HR. Bukhari no. 26 (dari Abu Hurairah RA)
– HR. Tirmidzi no. 1621 (hasan shahih)
– HR. Bukhari no. 2792 & Muslim no. 1880 (dari Anas bin Malik RA)









